konservasi tanah dan air


USAHA KONSERVASI TANAH DAN AIR SEBAGAI METODE PELESTARIAN AIR TANAH DAN MENCEGAH TERJADINYA DEGRADASI LAHAN AKIBAT EROSI.

(Kasus Konservasi Tanah Dan Air Di Desa Conggo’, Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat)
ABSTRAK
Konservasi tanah dan air merupakan upaya meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha konservasi tanah dan air sebagai alternatif upaya pelestarian dan perbaikan kulaitas tanah dan air serta menjadga keberlangsungan ekosistem. Penelitian telah dilakukan di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat tahun 2011. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi secara langsung dilapangan dan melaui pendekatan secara langsung kepada beberapa warga pelalku pertanian serta wawancara dan survey terhadap kondisi lahan dan tanaman yang ada disekitarnya. Melalui analisis data deskriptif kualitatif dan kuantitatif diperoleh gambaran sebagai berikut: (a) usaha konservasi tanah dan air di lahan kering dapat menurunkan besarnya erosi, merehabilitasi dan meningkatkan fungsi lahan sehingga mampu berproduksi secara lestari. Oleh karena itu dapat dijadikan media untuk meningkatkan pendapatan petani, (b) metode konservasi tanah dan air dapat dilakukan secara vegetatif dan mekanis melalui pembuatan hutan rakyat, pembuatan teras bangku dan metode sipil terknis, pembuatan teras, saluran pembuangan air (SPA), dan gully plug (pengendali jurang), (c) untuk keberlanjutan pelaksanaan dan keberhasilan konservasi perlu adanya peningkatan partisipasi masyarakat melalui penyuluhan yang lebih intensif.
Kata kunci : Tanah, air, konservasi, peletarian, erosi, Polewali Mandar.
PENDAHULUAN
Kegiatan konservasi di lahan kering merupakan langkah konstruktif, dapat meningkatkan fungsi lahan untuk berproduksi secara lestari, sehingga potensinya dapat dioptimalkan sebagai usaha perbaikan tanah dan air dan pelestarian alam lingkungan serta sumber pendapatan keluarga tani di pedesaan. Menurut Notohadiprawiro (1988), lahan kering marginal yang berstatus kritis dicirikan oleh solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut, kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyak singkapan batuan di permukaan.
Kondisi demikian umumnya terdapat di wilayah desa tertinggal dan sebagian besar dikelola oleh petani miskin yang tidak mampu melaksanakan upaya-upaya konservasi, sehingga kondisinya makin lama makin memburuk (Karama dan Abdurrachman, 1995).
Dalam hubungannya dengan erosi yang menyebabkan degradasi lahan serta langkah-langkah penanganannya di lahan marginal telah banyak dibahas pakar antara lain Scwab et.al (1981), Arsyad (1989), Agus dan Widianto (2004). Pada prinsipnya, kejadian erosi erat kaitannya dengan erosivitas hujan, erodibilitas tanah serta panjang dan kemiringan lereng. Sementara itu pendekatan yang ditempuh untuk pengendalian erosi dilakukan melalui beragam cara.
Scwab et.al (1981), menekankan pendekatan dari segi rekayasa (engineering), sementara itu Arsyad (1989), melakukannya melalui pendekatan vegetatif, mekanik dan kimia sedangkan Agus dan Widianto (2004), dengan pendekatan teknis dan vegetatif. Tulisan ini tidak bermaksud membahas satu persatu pendekatan pengendalian erosi dalam rangka konservasi tanah dan air, akan tetapi lebih difokuskan pada beberapa pertanyaan berikut. (a) tingkat erosivitas dan induksi erosi yang terjadi dan metode konservasi apa yang sesuai dengan lahan idan (b) sejauh mana petani memahami kegiatan konservasi tanah dan air ini hubungannya dengan peningkatan pendapatan petani?.
Sehubungan dengan permasalahan itu, penulisan jurnal ini bertujuan untuk membahas pendekatan metode konservasi tanah dan air yang dilakukan petani di lahan kering di wilayah desa Conggo’ Kabupaten Polewali Mandar, provinsi SULBAR dan mengungkap dampak potensial kegiatan konservasi tanah dan air terhadap pelestarian tanah dan air serta mengetahui tingkat indikasi erosi yang terjadi pada daerah tersebut. Hasil bahasan akan bermanfaat sebagai masukan bagi para petani untuk peningkatan usaha konservasi, mahsiswa sebagai bahan acuan dan referensi serta pemerintah untuk pengaturan kebijakan unhtuk peningkatan kesejahteraan masyarakat petani.
METODE PENELITIAN
Analisis Data dan Sumber Data
Pengkajian dikembangkan dari hasil penelitian di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi SULBAR. Penentuan lokasi didasarkan pada pertimbangan praktek-praktek usaha konservasi tanah dan air serta merupakan areal percontohan usaha konservasi oleh Balai Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah.
Sumber bahasan utama didasarkan atas data primer yang dilengkapi data sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan melalui pendekatan pemahaman pedesaan melalui interview kepada bebrapa tokoh masyarakat pelaku dan penggiatr usaha konservasi tanah dan air. Selain itu melalui observasi langsung di lapangan untuk melihat usaha-usaha konservasi yang telah dilakukan. Data yang dikumpulkan antara lain monograf desa, peta penggunaan lahan, data curah hujan, data kelerengan. Data sekunder dikumpulkan dari dinas/instansi terkait melalui penelusuran dokumen laporan, studi pustaka dan desk work.
Data kualitatif dan kuantitatif yang terkumpul dianalisis secara deskriptif, menggunakan parameter statistik sederhana. Khusus untuk menghitung besarnya erosi sebagai salah satu dasar menentukan usaha konservasi dilakukan dengan pendekatan Universal Soil Loss Equation (USLE) dengan formulasi (A= R x LS x K x C x P), A adalah besarnya erosi yang terjadi (ton/ha/thn), R adalah erosivitas curah hujan, LS adalah indeks panjang lereng, K sama dengan erodibilitas tanah, C adalah faktor pengelolaan tanaman, dan P yaitu faktor konservasi tanah. Adapun metode yang digunakan untuk analisis erosi adalah sebagai berikut :
Faktor Erosivitas
Dalam praktikum ini penentuan faktor erosivitas hujan ( R ) yang digunakan adalah EI30 yang merupakan perkalian antara energi kinetik hujan ( E ) dengan menggunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R diantaranya rumus pendugaan EI30 menurut Lenvain, yaitu :
EI30 = 2,21 R 1,36
Faktor Erodibilitas Tanah ( K )
Untuk mengetahui tingkat erodibilitas tanah (K), pada praktikum ini menggunakan dengan nomograf ( Wischmeier, 1971 ), atau menggunakan rumus Hammer ( 1978 ) sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 ( 10 -4 ) ( 12 – a) + 3,25 (b – 2) + 2,5 (c – 3)
100
Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
Menghitung persen pasir, persen liat, persen debu dengan menggunakan metode penentuan tekstur hidrometer
Metode penetapan bahan organik
Pada prinsipnya metode penetapan bahan organik dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
% C = ( mlB – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air
% Bahan Organik = % C x 1,724
Metode penentuan permeabilitas
Metode penentuan permeabilitas berkaitan erat dengan banyaknya air yang mengalir pada setiap pengukuran (Q), dan waktu yang digunakan air untuk pengukuran. Adapun alat yang digunakan untuk metode penentuan permeabilitas yaitu permeameter dengan metode hidrolik.
Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang lereng dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979), menggunakan nomograf nilai faktor LS (Suripin, 2000) dengan persamaan sebagai berikut :
L : / L0 /22
S : ( S/9 )1,4
d . Faktor Vegetasi Penutup Tanah
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C dapat dihitung dengan persamaan :
C = A/(R x K x LS x P)
e. Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (Suripin, 2001). Nilai P adalah 0,04 yang diberikan untuk lahan tanpa adanya tindakan pengendalian erosi. Menurut USLE persamaan umum nilai P yaitu sebagai berikut :
P = A
R x K x L x S x C
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil perhitungan pada pelaksanaan praktikum konservasi tanah dan air hasil prediksi besarnya erosi dengan menggunakan pendekatan USLE pada beberapa unit pengambilan contoh (Land Unit) diperoleh hasil dari perhitungannya secara rinci sebagai berikut :
Menghitung Tingkat Erosi
Diperoleh data curah hujan pada lokasi praktek lapang Polewali Mandar untuk tahun 2007 sebagai berikut :
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags sep Okt Nov Des
CH/ Bulan 9 16 21 15 21 10 12 19 24 15 10 18
Jumlah Hari 6 11 4 6 12 10 4 2 1 11 11 15
Hujan max 20 27 43 45 40 23 20 26 24 29 17 40

A = R x K x L x S x C x P

Dimana :
A : banyaknya tanah yang tererosi
B : Faktor Erosivitas hujan
K : faktor erodibilitas tanah
L : Faktor panjang lereng
S : Faktor panjang lereng
C : Faktor vegetasi penutup tanah
P : Faktor tindakan konservasi
Faktor Erosivitas Hujan (R)
R = ∑n¬I =1 E I30 E I30 = E ( I 30 10-2)

Atau dengan digunakan berbagai formula atau persamaan untuk memperoleh nilai R, diantaranya rumus pendugaan EI 30 menurut Bols (1978), yaitu :

E I 30 = 2,21 R1,36
Dimana :
E I30 = Indeks erosiviotas hujan bulanan rata – rata
R = Curah hujan rata – rata bulanan (cm)
(Januari) I30 = 2,21 (9)1,36 ( juni ) I30 = 2,21(10)1,36
= 2,21 X 19,85 = 2,21 X 22,91
= 43,8 = 50,63
(Februari) I30 = 2,21 ( 16) 1,36 ( Juli) I30 = 2,21 (12)1,36
= 2,21 X 43,4 = 2,21 X 29,36
= 95,9 = 64,89
(Maret) I30 = 2,21 (21) 1,36 (Agustus) I30 = 2,21 (19)1,36
= 2,21 X 62,83 = 2,21 X 54,84
= 138,8 = 121,20
(April) I30 = 2,21 (15) 1,36 (September) I30 = 2,21 (24)1,36
= 2,21 X 39,76 = 2,21 X 75,35
= 87,86 = 166,52
(Mei) I30 = 2,21 (21) 1,36 (Oktober) I30 = 2,21 (15)1,36
= 2,21 X 62,83 = 2,21X 39,76
= 138,8 = 87,87
(November) I30 = 2,21 (10) 1,36 (Desember) I30 = 2,21 (18) 1,36
= 2,21 X 22,91 = 2,21 X 50,95
= 112,60 = 112,60
R = ∑n=12 I = I E I 30
= 1.159,5 cm/ thn

Menghitung faktor Erodibilitas Tanah (K)
Erodibilitas tanah (K) adalah kepekaan tanah terhadap erosi. Erodibilitas tanah dapat diduga dengan menggunakan nomograf (Wischmeier, 1971 ) atau menggunakan rumus Hammer (1978), dalam utomo (1989), sebagai berikut :
K = 2,713 M 1,14 (10- 4) (12 – a) + 3,25 (b- 2) + 2,5 (c- 3)
100
Dimana :
M = Persen pasir sangat halus + persen debu X ( 100 – % liat )
a = kandungan bahan organic (% C x 1,724) = 0,008 gram
b = harkat struktur tanah = 0,07
c = harkat permeabilitas tanah = 0,4 cm/jam
M = Persen pasir sangat halus + persen debu x (100 – % liat)
= 44,31 % + 7,38 % x (100 – 48,29 )
= 51,69 x 51,71
= 2.672,89 %
K = 2,713 X (2.672,89) 1,14 (10- 4) (12 – 0,008) + 3,25 (0,07- 2) + 2,5 (0,4 – 3)
100
= 2,713 (8067,86 ) (0,0001) (11,99) + 3,25 (- 1,93) + 2,5 (-2,6)
100
= 21.888,10 X 0,0011 + (– 6, 27 – 6,5)
100

= 24.07 – 12,77
100
= 11,3
100
= 0.13 cm/ jam

Metode Penetapan Tekstur di Laboratorium
Menghitung berat debu dan liat dengan menggunakan persamaan dibawah sebagai berikut :

Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8)] – 0,5………………..(a)
2
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5………………(b)

Berat debu = berat (debu + liat ) – berat liat ………….. (c)

Menghitung persentase pasir, debu dan liat dengan persamaan

% pasir = C x 100
a+ c
% debu = (a – b) x 100
a+ c
% liat = b x 100
a+ c

dik H1 = 8 T1 = 29

H2 = 7 T2 = 28 C = 3,9

Penyeselesaian :

Berat debu dan liat = [ H¬1 + 0,3 (t1 – 19,8) ]– 0,5………………..(a)
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 8 + 8,7 – 5,9] – 0,5
2
= 10,8 – 0,5
2
= 5,4 – 0,5
= 4,9 ………..(a)
Berat liat = [ H¬2 + 0,3 (t2 – 19,8)] – 0,5………………(b)
2
= [ 7 + 0,3 (28 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 0,3 (29 – 19,8)] – 0,5
2
= [ 7 + 8,4 – 5,9] – 0,5
2
= 7 + 2,5 – 0,5
2
= 4,75 – 0,5

= 4,25 ………..(b)

Berat debu = berat (debu + liat) – berat liat
= 4,9 – 4,25
= 0,65……………..(c)
% pasir = C x 100
a+ c

= 3,9 x 100 %
4,9 + 3,9

= 3,9 x 100 %
8,8
= 44,31 %
% debu = (a – b) x 100
a+ c

= (4,9 – 4,25 ) x 100 %
4,9 + 3,9

= 0,65 x 100 %
8,8

= 7,38 %

% liat = b x 100
a+ c

= 4,25 x 100 %
4,9 + 3,9
= 4,25 x 100 % = 48,29 %

8,8

Metode Penetapan Bahan organik
% C = (ml B – ml t) N x 3 x 1,33
Mg contoh tanah tanpa air

Dimana
ml b = 32,9 gram
ml t = 22,6 gram
N = 0,2
Mg contoh tanah tanpa air = 1000 gram

% C = (32,9- 22,6) 0,2 X 3 X 1,33
1000

= (10,3) (0,2 X 3,99)
1000
= 8,219
1000
= 0,008 %

% Bahan organik = 0,008 X 1,724 = 0,014 %
Metode penentuan permeabilitas
Q = banyak air yang mengalir pada setiap pengukur (ml) = 400 mL
t = waktu pengukuran (jam) = 1 jam
h : tinggi permukaan air dari permukaan contoh tanah (cm) (konstan 4 cm)
K = 0,4 cm/ jam sangat lambat
Faktor panjang dan kemiringan lereng (LS)
Faktor panjang dan kemiringan lereng dihitung menggunakan rumus Morgan (1979), menggunakan nomografi nilai faktor LS menurut Suripin(2000) dengan persamaan :
Dimana :
LS = Faktor lereng
L = Panjang lereng = /L0 = /200 m = 3,01 m
22 22
S = Persen kemiringan lahan =( S1 )1,4 = ( 60 ) 1,4 = 14, 25
9 9
Faktor vegetasi penutup tanah (C)
Kondisi tutupan lahan berdasarkan jenis penggunaan lahan untuk mengetahui nilai indeks tutupan vegetasi di lokasi praktek. Dan nilai C diberikan adalah 0,43 untuk setiap tanaman hal ini sesuai dengan pendapat Suripin (2000).
Faktor tindakan konservasi (P)
Nilai faktor tindakan manusia dalam konservasi tanah (P) adalah nisbah antara besarnya erosi dari lahan dengan suatu tindakan konservasi tertentu terhadap besarnya erosi pada lahan tanpa tindakan konservasi (supirin, 2000). Nilai P adalah 0,04 yang diberikan untuk lahan adanya tindakan pengendalian erosi dengan pembuatan teras.
A = R x K x L x S x C x P
= 1.159,5 x 0,13 x 3,01 x 14,25 x 0,43 x 0,04
= 111,204 ton/ha/thn

Y = 100 x A
= 100 x 111,204
= 11.120,4 ton / tahun

A adalah besarnya erosi yang terjadi (ton/ha/thn), R adalah erosivitas curah hujan, LS adalah indeks panjang lereng, K sama dengan erodibilitas tanah, C adalah faktor pengelolaan tanaman, dan P yaitu faktor konservasi tanah.
Dalam praktikum ini kita mendapatkan hasil bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 111.204 ton/ha/thn, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,13 cm/ jam untuk faktor panjang lereng 3,01 m dan kemiringan lereng diperoleh 14,25, adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 0,43 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 0,04
Dari hasil perhitungan diperoleh banyaknya tanah yang tererosi secara menyeluruh pada lokasi praktek lapang Polewali mandar diperoleh 11.120,4 ton/ thn. Jika kita amati tingkat erosi yang terjadi daerah praktek lapang ini, cukup besar sehingga perlu penanganan yang cukup serius, salah satunya dengan melakukan konservasi baik konservasi tanah maupun konservasi air..
Dari hasil ini dapat kita menggambarkan bahwa tingkat erosi di wilayah ini sangatlah besar. Dimana tingkat erosivitas hujan merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat terjadinya erosi pada daerah tersebut. Dimana ini akan berpengaruh pada produktivitas hasil pertanian pada daerah tersebut, selain itu seperti pada identifikasi sebelumnya bahwa pada lahan ini sebelumnya adalah lahan yang luas namun tandus berbatu, tidak terdapat vegetasi dan belum ada tindakan konservasi yang dilakukan, sehinggga lebih memperbesar pelluang terjadinya erosi (induksi erosi) pada lahan tersebut, seperti yang teridentifikasi pada hasil perhitungan sebesar 111,204 ton/ha/thn.
Ini menunJukkan tingkat terjadinya erosi di lahan ini sebesar 111,204 ton/ha/thn. Selain itu tingkat curah hujan yang sangat tinggi akan berpengaruh pada kondisi dan tingkat pencucian pada lahan dengan panjang dan kemiringan lereng yang cukup besar dan ini akan berdampak langsung pada tingkat erodibilitas tanah yang juga dipengaruhi oleh struktur tanah dan kandungan bahan organic yang dimiliki oleh tanah. Sehingga diperlukan tindakan konservasi yang tepat dan sesuai terhadap kondisi lahan baik dari tingkat erosivitas, panjang dan kemiringan lereng, erodibilitas tanah dan jenis vegetasi penutup tanah. Ini berkaitan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas produktivitas lahan.
Melihat besarnya erosi yang terjadi di wilayah itu, akan berpengaruh negatif terhadap produktivitas dan prduksi pertanian. Besarnya erosi berbanding terbalik dengan perolehan produksi. Sehubungan dengan hal ini maka tindakan konservasi yang paling ideal untuk di terapakn di lahan ini ada 2 metode yaitu metode vegetatif dan metode mekanik. Metode vegetatif yang dilakukan meliputi pembuatan hutan rakyat, penanaman strip dan mengikuti kontur, pemulsaan dan penggunaan tanaman penutup tanah. Sementara itu dalam metode mekanik yang dilakukan adalah pembuatan teras bangku, pembuatan saluran pembuatan air (SPA), dan pembangunan pengendali jurang (gully-plug).
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam menentukan indikasi erosi pada suatu lahan dapat diketahui melalui pendekatan metode USLE yaitu (A = R x K x LS x C x P). Dari hasil praktikum yang kita lakukan kita dapat mengetahui bahwa faktor erosivitas hujan sebesar 111.204 ton/ha/thn, untuk faktor erodibilitas tanah diperoleh sebesar 0,13 cm/ jam untuk faktor panjang lereng 3,02 m dan kemiringan lereng diperoleh 14,25 adapun faktor vegetasi penutup tanah diperoleh 0,43 dan faktor tindakan konservasi tanah sebesar 0,04. Adapun faktor erosivitas yang terjadio secara menyeluruh di daerah Polewali Mandar yaitu sebesar 11.120,4 ton/ thn.
Usaha konservasi tanah dan air di lahan ini yang dilakukan dengan pendekatan vegetatif dan mekanis melalui pembuatan hutan rakyat pembuatan teras, penanaman strip, teknik pemulsaan, pembuatan saluran pembuangan air (SPA), dan gully plug (pengendali jurang) terbukti dapat menurunkan besarnya erosi, merehabilitasi dan meningkatkan fungsi lahan.
Keberhasilan konservasi tanah dan air di lahan kering tidak terlepas dari peran aktif masyarakat setempat, dan tingkat erosi yang terjadi pada daerah praktek lapang Polewali Mandar tergolong sedang. Ini dikarenakan adanya tindakan konservasi yang dilakukan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1999. Monograf Desa Rejosari Kecamatan Semin Kabupaten Gunungkidul.. Pemerintah Desa Rejosari. Semin. Gunungkidul, Yogyakarta. Anonim. Teknologi Budidaya pada Sistem Usaha Tani Konservasi. Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan.

Agus, F dan Widianto, 2004. Petunjuk Praktis Konservasi Tanah Pertanian Lahan Kering. World Agroforestry Centre. ICRAF Southeast Asia. Bogor.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit Institut Pertanian Bogor Press. Bogor.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Indonesian Agency for Agricultural Research and Development). KEBEKOLO, Teknik Konservasi Lahan Dari NTT. http://www.eastbalipovertyproject.org/vetiver
Duryat, P. W. 1979. Meningkatkan Kegiatan Penyuluhan Dalam Rangka Pembentukan Hutan Rakyat. Seminar dan Reuni III Fak. Kehutanan UGM. Yogyakarta

Karama, A.S dan A. Abdurrachman. 1995. Kebijaksanaan Nasional dalam Penanganan Lahan Kritis di Indonesia. Prosiding Lokakarya dan Ekspose Teknologi Sistem Usahatani Konservasi dan Alat Mesin Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Yogyakarta, 17-19 Januari 1995.

Notohadiprawiro, T. 1988. Pembaharuan Pandangan terhadap Kedudukan Lahan Kering dalam Pembangunan Pertanian Pangan yang Terlanjutkan. Seminar Fak. Pertanian UNISRI. Surakarta

Scwab, et. al. 1981. Soil and Water Conservastion Engineering. 3rd edition. John Wiley and Sons. Inc. Toronto.

Suyana, J. 2005. Berkelanjutan Penerapan Teknologi Konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering. Bahan Mata Kuliah Konservasi. IPB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s