zionis israel


A. YAHUDI, ZIONIS, dan ISRAEL
—————————–
Di tengah maraknya penolakan elemen masyarakat mengenai rencana pemerintah
membuka hubungan dagang dengan Israel, tulisan ini dihadirkan dengan
maksud memberikan sedikit gambaran mengenai Yahudi, Zionis, dan Israel
(termasuk kebijakan LN yang diambil).

Yahudi sebagai Bangsa
———————
Yahudi sebagai bangsa merupakan sebutan bagi bangsa anak keturunan Nabi
Ishaq (anak Nabi Ibrahim).Yahudi sendiri berasal dari nama salah seorang anak
Ya’qub yakni Yahuda (atau Yehuda). Dalam sejarah, karakter bangsa Yahudi kerap
dikenal dengan bangsa yang sombong, pembangkang, licik, pendusta, dsb.
Berikut adalah beberapa kelompok Yahudi yang pernah muncul dalam sejarah
Yahudi.

a. “Shaduqi”. Merupakan salah satu kelompok tertua. Mereka meyakini
Yahudi hanya sebagai agama dan dalam hubungan antar-manusia dikenal
sangat terbuka, terutama dengan kaum muslimin. Doktrin agamanya
didasari oleh pengakuan bahwa Uzair merupakan Anak Tuhan.
b. “Munawi” . Mereka berhasil mengumpulkan manuskrip Perjanjian Lama
(Tanakh) dan menurut banyak ahli keagamaan merupakan basis pemikiran
kaum Yahudi Ortodoks yang ada di Israel sekarang.
c. “Assini” (Hadsem Lama). Sekte ini menerapkan sistem sosialisme dalam
kehidupan. Mereka melarang segala bentuk pemilikan dan perekonomian
pribadi.Mereka tidak makan daging dan tidak menikah. Mereka mengharamkan
perbudakan serta meyakini ‘qadha’ dan ‘qadar’ sebagai doktrin keagamannya.
d. “Yahudi Qara’I”. Merupakan sekte yang terpengaruh Islam. Mereka tidak
mempercayai Taurat dan Talmud yang sekarang.
e. Yahudi yang mengklaim dirinya sebagai “Bani Israil”. Termasuk dalam
kelompok ini Abwa’I, Qana’I, Yudjani, Maranusi, Falasya, dan Yahudi
Hunud. Bani Israil menurut sumber Islam merupakan anak-ketururan Nabi
Ya’qub (anak Ishaq bin Ibrahim). Israil merupakan julukan Nabi Ya’qub.

Gerakan Keagamaan Yahudi Kontemporer
————————————
Selain dikenal sebagai bangsa, Yahudi dikenal sebagai suatu agama (bukan
sekedar karakter), terlebih setelah hadirnya agama Nasrani dan Islam Kini
banyak bermunculan aliran-aliran Yahudi kontemporer sebagai konsekuensi
interaksinya dengan dunia luar (selama ribuan tahun diusir dari tanah nenek
moyangnya, Kan’an). Aliran-aliran tsb. Selain memiliki karakteristik
pemahaman dan doktrin serta ritual, juga mempunyuai pandangan-pandangan yang khas
tentang politik terutama mengenai Negara Israel.

a. Yahudi Ortodoks
* Merupakan sekte dominan dengan pengikut sekitar 40% dari Yahudi yang
tinggal di Israel.
* Terkenal dan berpengaruh baik di Israel maupun di Amerika Serikat.
* Muncul sebagai respon orang-orang Yahudi terhadap kenyataan hidup di
tengah-tengah mayotitas masyarakat non-yahudi.
* Merupakan penjelmaan dari gerakan Yahudi Talmud.
* Menganggap Yahudi sebagai agama aplikatif dan sistem hidup dengan Talmud
sebagai kitab sucinya.
* Paling gencar menyerukan penerapan UU Yahudi (Halakha) dalam kehidupan
Israel.
* Mengimani Al-Masih dan mempercayai bangsa Yahudi sebagai bangsa pilihan
Tuhan. Dalam perkembangannya Yahudi Ortodoks menjadi dua aliran besar
yakni Hasdem, yang bersifat sufistik, dan Motongadem, aliran yang lebih
bersifat politik.

b. Hasdem
* Didirikan sekitar abad ke-12 di Lithuania dan kerap menganggap sebagai
sayap Ortodoks Yahudi, kendati tak jarang terjadi perselisihan antar
keduanya.
* Pemikiran keagamaannya berpijak pada toeri ‘Huliliyah Yahudiyah’ yang
membedakan Yahudi dengan makhluk lainnya. Pemimpin spiritual mereka
dikenal dengan sebutan Hakhoum. Sikapnya yang ekstrim menjadikannya berpecah
dalam kelompok-kelompok yang sangat banyak, yang masing-masing
dipimpin oleh seorang Eidmor.
* Sumber pemikiran mereka adalah filsafat ‘Qabala’ yang merupakan adonan
dari nilai-nilai agama, filsafat, mistik, sulap, sihir, dan ramalan.
* Punya keyakinan: Tuhan ada di setiap tempat, maka dari itu setiap
manusia hendaknya meleburkan diri dalam Dzat-Nya dan terus meningkat
melampaui batas-batas alam dan tabiat manusia sampai menyatu dengan Tuhan
yang ada di setiap tempat itu.
* Menurutnya bumi Israel adalah tempat suci dan mempunyai kelabihan
dibanding daerah lain. Darah mereka suci, danm Mereka juga membenci orang
selain Yahudi.

c. Yahudi Liberal
* Akar sejarahnya berasal dari Mose Mandelson (lahir di Jerman, 1729),
merupakan hasil asimilasi Yahudi dengan bangsa-bangsa lain.
* Yahudi merupakan “sistem ritual yang berlandaskan wahyu Tuhan dan
undang-undang moral yang bersandar pada akal” (paham sekular Yahudi).
* Penganut paham ini menghujat kejumudan warisan Yahudi. Tidak mengakui
Talmud, tidak mengakui keistimewaan ras Yahudi sebagai ‘bangsa pilihan Tuhan’.
* Pada awalnya Yahudi Liberal anti gerakan Zionis, tetapi kemudian mereka
memperoleh titik temu dan saling pengertian. Di Israel mereka sangat anti
Yahudi Ortodoks. Kaum Ortodoks bahkan tidak mengakui keyahudian penganut
aliran ini. Namun di Amerika jumlah mereka cukup banyak.

d. Yahudi Konservatif (Yahudi Historis)
* Awalnya merupakan upaya penyatuan kelompok Ortodoks dan Liberal
* Menganut pemikiran Zakaria Francle (1851) yang menekankan “otoritas
ilmiah” (pembahasan ilmiah yang bersandar pada fakta historis dan situasi)
* Pemikirannya keagamaannnya bemuara pada 3 dasar utama: (1) persatuan
dalam perbedaan, (2)kesejarahan Yahudi yang situasional, dan (3) kebangsaan Yahudi
yang
unik.
* Kepentingan rakyat harus ada di atas kepentingah Taurat dan Tuhan.
* Kelompok ini membolehkan bersembahyang dengan menggunakan bahasa selain
Ibrani dan dibolehkannya wanita menjadi Rabi Yahudi.

e. Yahudi Pembaruan
* Aliran ini muncul di AS awal abad ke-20, merupakan sempalan Yahudi
Historis. Banyak dipengaruhi pemikiran Rabi Menahem Kabilan.
* Konsep pemikiran pembaruannya didasarkan pada ide mewujudkan keagamaan
yang sesuai dengan kehidupan yahudi Amerika. Tujuannya agar dapat
berinteraksi dengan kehidupan masyarakat Amerika.
* Aliran ini mengganggap bahwa Tuhan tidak mengungguli warisan Yahudi atas
materi dan Ilmu. Oleh karena itu kehendak Tuhan akan terwujud melalui
kemajuan ilmu pengetahuan.
* Agama merupakan kreasi manusia sebagaimana kesenian dan bahasa sebagai
produk kemanusiaan manusia.
* Kelompok ini menolak keharusan mengevakuasi Yahudi ke Israel, dan
menekankan Yahudi sebagai minoritas yang tersebar di dunia, dan menjadi
penopang dana dan moral yang besar untuk kepentingan Israel.
* Kelompok ini memiliki buku khusus tentang cara peribadatannya yang
dibuat pada tahun 1945. Dan secara umum kelompok ini berdekatan dengan
Yahudi Liberal.

Yahudi, Gerakan Zionis, dan Negara Israel
—————————————–
Negara Israel diproklamasikan tanggal 14 Mei 1948. Dengan proklamasi ini,
cita-cita orang Yahudi yang tersebar di berbagai belahan dunia tercapai.
Mereka telah melaksanakan ‘amanat’ Theodore Herzl (1860-1904) dalam
tulisannya “Judenstaat” (Negara Yahudi) sejak 1896. Berdirinya Negara
Israel tidak terlepas dari usaha Zionisme. Herzl menyusun doktrin zionis
sejak 1882 di Wina. Dia pula yang mengkongkretkan doktrin tersebut secara
sistematis. Setahun setalah itu (1897), diadakanlah kongres Yahudi Sedunia di
Basel yang antara lain memutuskan akan dibentuknya negara Yahudi yang
mengambil tempat di Palestina. Sejak saat itu zionisme merupakan gerakan
politik Yahudi. Sebelumnya zionisme merupakan gerakan keagamaan semata
(Yudaisme). Yudaisme menginginkan datangnya Sang Juru Selamat kelah di
akhir zaman. Pada masa itu ‘semua keluarga di dunia ini’ akan dipanggil ke
Kerajaan Tuhan. Kerajaan ini akan di pusatkan di tempat terjadinya kisah-
kisah yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim (Abraham) dan Nabi Musa (Moses).
Kehadiran gerakan keagamaan Yudaisme ini tidak banyak menimbulkan
keresahan, bahkan penganutnya bisa hidup berdampingan dengan umat Islam
maupun Kristen secara damai.

Zionisme keagamaan inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang
(termasuk Herzl) untuk melegitimasi berdirinya negara Yahudi di atas tanah
bangsa Arab. Padahal menurut Garaudy Herzl merupakan orang yang ingkar agama.
Dengan mempolitisasi zionisme, maka orang Yahudi di seluruh penjuru dunia ikut
tergerak dan berbondong-bondonglah mereka menuju ‘tanah yang dijanjikan’
(Palestina). Sebelumnya sejak 1880 kaum Yahudi (yang terdiaspora didunia)
pertama telah berimigrasi ke “tanah yang dijanjikan” yang dikenal dengan
‘gerakan Aliya’.

Para Rabbi Amerika, penentang Herzl menyatakan ketidaksetujuaannya
mendirikan negara Yahudi. Mereka juga menolak ke Palestina. Ilmuwan Yahudi
seperti Albert Einstein, Ahli filsafat Martin Buber, Prof. Judah L. Magnes
juga menolak niatan Herzl mendirikan negara Israel. Ada dua alasan
penolakan mereka, (1) Berdirinya negara Yahudi di Palestina akan
mengakibatkan pertikaian dengan penduduk asli (Arab), dan (2) zionisme akan
membangkitkan kecurigaan terhadap orang-orang Yahudi di seluruh dunia.
Mereka akan dituduh punya kesetiaan ganda dan kewarganegaraan rangkap.

Dengan berdirinya Israel, zionisme bukan lagi semata-mata gerakan
keagamaan. Bahka mereka semakin sewenang-wenang terhadap non-Yahudi.
Israel menerapkan kebijakan yang rasis-diskriminatif.
Untuk ini PBB menyetujui resolusi 3379(xxx) yang antara lain berbunyi
“Zionisme adalah bentuk rasisme dan diskriminatif rasial”. Walaupun demikian
berbagai gelombang imigrasi terus berdatangan dari Rumania, Rusia, Polandia,
Bulgaria, Yugoslavia, Yaman, Aden, Jerman, serta Afrika. Terhadap hal ini
Pemerintah Inggris kemudian mendukung upaya didirikannya negara bagi
imigran Yahudi ini yang dikenal dengan “Deklarasi Balfour” (1917).

Selanjutnya gelombang imigran dari Eropa, Asia serta Afrika banyak
berdatangan dan membuat pemukiman di tanah Arab seakan berlomba mendapati
“tanah yang dijanjikan”. Kecemasan dan ketenangan warga Arab(Muslim/Kristen)
pun terusik. Mereka berupaya mengusir para imigran. Namun karena kuatnya
konspirasi yang mereka hadapi, akhirnya mereka mendapatkan kekalahan
telak dalam “perang enam hari” di tahun 1967. Dan Israel berhasil
menguasai seluruh Yerusalem, serta mengusir orang-orang Arab (baik Muslim
maupun Kristen) dari tanah air mereka sendiri.

Negara Israel berdiri atas prakarsa kaum Yahudi (untuk mewujudkan Israel
Raya), walaupun format negaranya adalah republik demokrasi sekular, namun
pengambil kebijakan banyak melibatkan lobi-lobi kelompok keagamaan yahudi.
Tercatat, pada tahun 1988 penduduk Israel menganut berbagai macam agama,
Yahudi (Yudaisme) 82,5%; Islam 13%; Kristen 2,5%;dan lainnya 1,5%.
Departemen Agama Israel lebih banyak menuruti penganut Yahudi yang
mayoritas. Mereka mengurusi upacara kematian (kosher), kerabian, dan
sekolah agama (yeshivot). Bahkan dimensi nasional dan keagamaan sudah
terjalin sedemikian eratnya dan sulit untuk dipisahkan. Sehingga identitas
nasional Israel berpadu dengan identitas agama Yahudi.Bangsa palestina
setelah tahun 1967 pun berada dibawah pengawasan Israel dan hanya tinggal
di daerah tertentu di Yerusalem Timur, yang salah satu diantaranya berluas
235 hektar. “Kamp penampungan” tersebut bagaikan kampung kumuh, tidak higienis.
Inikah “pembalasan” Yahudi atas yang dialaminya dari Nazi Jerman
(peristiwa Holocoust,1930-an).

Politik Dalam Negeri Israel
—————————
Menurut teori hubungan internasional, politik luar negeri suatu negara
merupakan “perpanjangan tangan” politik dalam negerinya oleh karena itu
selayaknya kita mengetahui politik dalam negeri Israel terlebih dahulu.

Jauh sebelum Israel berdiri komunitas Yahudi mendirikan ‘Histadrut’ tahun
1920. Histadrut yang terdiri dari para buruh Yahudi ini memiliki peranan
yang cukup penting dalam kiprah ekonomi dan politik Israel (interest group).
Histadrut ini jugalah yang mengorganisir imigran, menyiapkan pasukan (militer)
, membangkitkan kebudayaan dan bahasa Yahudi. Awalnya aspirasi mereka
disalurkan dalam Partai Buruh, namun akhirnya terpecah dan ada yang
mendukung partai Likud. Israel adalah penganut demokrasi parlementer yang
meliputi kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ketiga kekuasaan
ini dipisah dan bekerja ‘saling mengawasi'(checks dan balances).
Presiden dipilih oleh knesset (legislatif) sebagai simbol pemersatu.
Pemerintahan dipegang oleh perdana menteri, dan bertanggung jawab kepada
knesset. PM haruslah anggota knesset.

Israel menganut sistem multi partai. Tiap pemilu ada puluhan parpol yang
bersaing, namun yang dapat menduduki knesset adalah yang menperoleh suara
minimal 1% darijumlah pemilih. Partai-partai ini dapat dikelompokkan dalam
beberapa kelompok. Pertama, Partai Buruh yang dihimpun dari para buruh Yahudi
di Palestina dan imigran awal. Kedua, Partai Likud merupakan saluran
politik Yahudi asal Eropa (‘Heredim’) yang datang tahun 30-an yang umumnya
datang akibat kekejaman Nazi.

Umumnya orang-orang partai buruh lebih ‘menghormati’ bangsa Arab,sebaliknya
orang Likud mengusir orang Arab dari negerinya. Kelompok ketiga adalah
partai-partai agama. Kelompok keempak adalah partai-partai Arab. Dari
sekian kelompok partai yang menjadi besar dan berpengaruh adalah
Partai Buruh (tokohnya a.l. Simon Peres, Yitzhak Rabin), dan Partai Likud
(tokohnya a.l. Yitzhak Samir, Ariel Sharon, Benyamin Netanyahu). yang lain
hanyalah partai kecil yang kadang-kadang bisa menentukan kemenagan salah satu
blok. Bagi masyarakat Israel gerakan ‘intifadhah’ dianggap sebagai
ancaman. Untuk menghadapi masalah ini kedua partai sepakat mengakhirinya.
Tetapi cara mereka agak berbeda. Likud ingin menyelesaikan dengan
kekerasan, serta pengusiran hingga tidak ada lagi orang Palestina di Israel,
sedangkan Partai Buruh ingin menyelesaikan dengan ‘damai’.
Sikap Likud kerap dikecam beberapa orang Israel sendiri sedangkan Buruh
dianggap tidak realistik.
Tapi keduanya menganggap wakil Palestina adalah PLO (kelompok
nasionalis-sekular-pragmatis)
dengan menafikan kelompok revivalis “HAMAS” serta “Jihad Islam”.

Politik Luar Negeri Israel
————————–
Politik luar negeri Israel dijalankan berdasarkan kepentingan dalam
negerinya. Maka sedapat mungkin memberikan manfaat yang besar bagi
kehidupan dalam negeri. Hal ini mengingat sejarah berdirinya negara
Israel merasa keamanan dalam negerinya juga merupakan salah satu fungsi
diplomatik internasionalnya. Andersen (1982) membagi kebijakan
luar negeri Israel dalam tiga fase.
– Fase pertama di mana Israel masih disibukkan dengan pendirian negara.
Israel membutuhkan pengakuan internasional. Hubungan luar negeri
dijalankan disesuaikan dengan kebutuhan ini.
– Fase kedua, politik Israel lebih menitik beratkan pada kepentingan
domestik. Pembangunan dalam negeri tergantung pada keamanan daerah
pendudukan/perbatasan. Politik “carrot and stick”
dijalankan dalam berhubungan dengan negara lain. Politik “carrot”
dijalankan terhadap negara yang mau bernegosiasi dan kerjasama dengan
Israel, sedangkan politik “stick” untuk menunjukkan bahwa Israel superior
dibidang militer.
– Fase ketiga, Israel menerapkan politik LN yang lebih pragmatis.
Misalnya setelah dipimpin Yitzhak Rabin (P.Buruh) Israel mau berunding
dengan PLO yang semula dianggap teroris, dan mau ‘berbagi’ lahan yang
direbutnya tahun 1967, walaupun terbatas. Namun itu semua tidak
menunjukkan perubahan yang berarti bagi mayoritas bangsa Palestina (yang
umumnya hidup dalam pengasingan, di Yordania, dsb.). Pelanggaran demi
pelanggaran terus dijalani Israel, tidak satupun penguasa Israel (dari
kubu Likud maupun Buruh) yang memiliki komitmen mengembalikan
wilayah yang dirampasnya dari bangsa Palestina.

Adapun langkah ‘pragmatis’ seperti janji memberikan wilayah terbatas lebih
dimaksudkan untuk mendapatkan simpati dunia. Agar negara Israel tetap
berdiri dan memperkuat eksistensinya. Politik Luar negerinya pun tidak lepas
dari peran lobi-lobi (bisnis/politik) Yahudi di berbagai negara, termasuk AS.

B. SIKAP PEMERINTAH INDONESIA
——————————

Pada tahun 1996, dinyatakan secara resmi Indonesia tidak akan membuka
hubungan bilateral dengan Israel sebelum terjadi perdamaian menyeluruh di
Tim-teng. Namun ada keinginan kuat beberapa kalangan pemerintah saat itu
untuk menjajaki kemungkinan dibukanya hubungan bilateral. Dan setiap
ada usaha/usulan pembukaan hubungan dengan Israel, masyarakat Indonesia
(terutama kalangan Muslim) serta merta menyampaikan keberatannya. Beberapa
upaya (aktif) Israel untuk menjajaki hubungan dengan Indonesia
(namun belum berhasil, kerap mendapat demo dari masyarakat):
– Pertemuan menlu Simon Peres dengan Ali Alatas pada konverensi HAM di
Wina, Juni 1993.
– Momen kedatangan ben Ari sebagai delegasi israel pada sidang WTO di
Denpasar, awal Oktober 1993
– Kunjungan PM Yitzhak Rabin ke kediaman Soeharto, 15 Oktober 1993.
– Kunjungan 5 orang senator AS untuk mendesak Indonesia agar membuka
hubungan bilateral dengan Israel, Januari 1994.
– Tersiar berita bahwa 2 perusahaan Israel (Alhit dan BVR) ingin membangun
pangkalan udara di Indonesia. Kemudian berita ini dibantah oleh
Jenderal TNI Edi Sudrajat, 1994.
– Tel Aviv mengundang 4 wartawan Indonesia (Republika, Media Indonesia,
Business weekly, dan Eksekutif). Dalam wawancara eksklusif itu PM Rabin
mengatakan keinginannya agar hubungan bilateral dengan Indonesia segera
diwujudkan, Februari 1994. Pada kesempatan itu Rabin sempat “membuka
rahasia” bahwa pertemuannya dengan Soeharto sebelumnya telah dicapai
“kesepakatan” bahwa secara bertahap Indonesia-Israel akan menciptakan
kondisi-misalnya melalui hubungan bisnis-bagi timbulnya hubungan yang
lebih baik.
– Akhir Oktober 1994, Gus Dur (NU), Habib Chizrin (Muhamnmadiyah), Djohan
Efendi (Depag), dan A. Bondan Gunawan (?) berkunjung ke Israel.
Sepulang dari Israel Gus Dur lantang menyerukan kepada pemerintah RI
untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. “Sudah waktunya
Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Dengan demikian
kita akan lebih berperan untuk membantu perjuangan bangsa Arab”, tukas
Gus Dur saat itu.
– Bekas menlu AS Henry Kissinger (tokoh Yahudi AS) ke Jakarta bulan
Nopember 1994. Dia dikenal di AS sebagai pendukung utama doktrin
“Israel first” dalam kebijakan politik luar negeri AS terhadap
kepentingannya di Timteng.

Dan kini (1999) bukannya pihak Israel yang aktif menginginkan hubungan
dengan Indonesia, tapi malahan menlu Alwi Shihab sendiri yang (proaktif)
mengupayakan pertemuan dengan tokoh yahudi maupun Israel untuk
(mengais-ngais rejeki) menjajaki hubungan dagang kedua negara dengan
alasan pemulihan ekonomi Indonesia, dst.

Ada beberapa alasan yang membuat Israel gigih mengusahakan hubungan dengan
Indonesia:
– Pertama, Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki
arti penting dan strategis bagi politik LN Israel di dunia Islam.
Jika hubungan diplomatik RI-Israel dibuka maka diharapkan dapat mengurangi
ketegangan dengan negara-negara dunia Islam. Kepentingannya a.l. guna
meredam gerakan perlawanan “intifadhah” dan gerakan revivalis Islam
yang dipelopori “HAMAS” dan “Jihad Islam” di gaza dan Tepi Barat yang
terbukti sangat merepotkan Israel.
– Kedua, posisi Indonesia sebagai ketua GNB (1991-1994) waktu itu
diharapkan berpengaruh juga pada negara-negara Dunia Ketiga pada umumnya.
– Ketiga, faktor ekonomi-politik Israel yang selama eksodus kaum Yahudi
asal Soviet dan Eropa Timur ke Israel. Belum lagi “harga” yang dibayarnya
guna meredam “intifadhah”. Selain itu juga untuk mengakhiri
“isolasi internasional” atas Israel. Dan Indonesia merupakan pasar
potensial bagi Israel.

Lalu apa keuntungan yang didapat Indonesia jika berhubungan (dalam bentuk
apapun) dengan Israel (menurut Alwi)?
– Diharapkan lobi Indonesia di dunia menjadi kuat terhadap tekanan
kepentingan Barat (IMF, WTO, AS, dsb.)
– Investor Yahudi dan Israel berbondong-bondong menanamkan modalnya di
Indonesia.
Keuntungan tersebut belum pasti tercapai namun untuk menuju ke sana rakyat
Indonesia perlu berpolemik, cenderung menomorduakan permasalahan dalam negeri.
Apalagi pemberdayaan potensi (SDM maupun SDA) dalam negeri. Mengapa kita
tidak meningkatkan hubungan bilateral/multilateral dengan negara-negara yang
secara umum tidak bermasalah di mata masyarakat kita ? Dan tidak semata
karena pertimbangan-pertimbangan pragmatis. Misalnya kualitas hubungan
dengan negara-negara OKI dan ASEAN ditingkatkan. DAlam hal kemandirian
sebuah bangsa Saya saut pada sikap yang pernah diutarakan Ir.Soekarno
dulu.

Kerugian yang akan dialami dari hubungan RI-Israel paling sedikit:
– Ketidakpastian proses perdamaian Timur Tengah yang melibatkan wilayah
yang disengketakan menimbulkan reaksi masyarakat (Muslim) Indonesia.
Ini menimbulkan kontra produktif bagi kepentingan pembangunan Indonesia
sendiri (serta dunia Islam pada umumnya). Terlebih lagi mengingat
perlakuan Israel terhadap warga Palestina yang menyakitkan umat Islam
(pembakaran/perusakan Al-Quds,pelanggaran HAM thd warga Palestina).
Israel yang telah merampas tanah Arab pada perang 1976, sampai saat ini
tidak memiliki ‘political will’ yang kuat untuk berdamai dengan Arab
dengan mengembalikan seluruh wilayah yang direbutnya itu, termasuk
melaksanakan resolusi PBB no. 234 dan 338.
– Keuntungan dagang yang diperoleh mau tidak mau akan digunakan untuk
pembangunan Negara Israel (pembangunan pemukiman Yahudi, militer, keamanan,
kesejahteraan warga Israel, dsb.). Sementara hasil pembangunan tersebut
akan mengeksiskan penjajahan Israel atas Palestina.
– Kepentingan dagang erat sekali hubungannya dengan kepentingan politik.
Sistem/rezim politik yang mapan kerap memulainya dengan membangun
sistem/rezim ekonomi/dagang yang kuat. Lihatlah penjajahan Belanda dimulai
dari ‘politik dagang’ selanjutnya menjalar ke sektor politik,
kebudayaan, dsb. Dan Ini lebih berbahaya bagi bangsa yang ingin mandiri
apalagi berdiri tegak dan disegani di dunia.
– Membuka hubungan dengan dagang (resmi) dengan Israel berarti mengakui
eksistensi negara penjajah itu. Ini bertentangan dengan prinsip bernegara
bangsa kita (Pembukaan UUD 45).
– Dan kerugian-kerugian lainnya sebagai turunannya.

Tiada Israel tanpa Zionisme, dan tiada Zionisme tanpa kaum Yahudi.
Tidak bisa kita pungkiri bahwa betapapun banyak perbedaan di tubuh kaum
Yahudi, tetapi mereka dipersatukan oleh “tanah yang dijanjikan” dan
tujuan di bentuknya negara Israel.

***************************************************************
* ditulis oleh Setiawan Eko Nugroho/13794009 *
* Anggota LSGM (Lingkar Studi Gerakan Mahasiswa) “Madani” ITB *
***************************************************************

Referensi:
1. Sihbudi, Riza M., et.al., “Profil Negara-negara Timur Tengah”, jilid 1,
Dunia Pusta Jaya, Jakarta, 1995.
2. Paul Findley, “Diplomasi Munafik Ala Yahudi: Mengungklap Fakta Hubungan
AS-Israel”, Mizan, Bandung.
3. Paul Findley, “Menggugat Dominasi Lobi Yahudi”, Mizan, Bandung.
4. Anzikriadi, AM, “Jalan Panjang Yerusalem dari Nabi Daud sampai Ehud
Barak”,Suplemen Republika: Dialog Jum’at, edisi 29/10/99 & 5/11/99.
5. WAMY, “Gerakan Keagamaan dan Pemikiran: Akar Ideologis dan
Penyebarannya”, jilid 1,terj., Jakarta, 1993.
6. Garaudy, R., “Zionisme: Sebuah Gerakan Keagamaan dan Politik”, terj.,
Jakarta, GIP, 1998.
7. Sihbudi, Riza M., “Perkembangan Timur Tengah dan Masalah Hubungan
Indonesia-Israel”, dalam Djafar, Zainuddin (editor), “Perkembangan Studi
Hubungan Internasional dan Tantangan Masa Depan”, Dunia Pustaka Jaya,
Jakarta, 1996.
—————————————————————————————————-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s