I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Era globalisasi yang ditandai dengan ditanda-tanganinya perjanjian GATT oleh berbagai negara termasuk Indonesia membawa dampak besar terhadap sistem perdagangan dunia yang mengandalkan tingkat persaingan yang tinggi serta menekankan pada masalah mutu. Dalam hubungan ini, tantangan aspek mutu di sektor pertanian perlu diikuti dengan memantapkan standardisasi pada semua lini kegiatan pertanian, sesuai dengan dinamika pasar di tingkat internasional.
Perjanjian GATT dalam WTO khususnya komisi Sanitary and Phytosanitary (SPS) yang sangat erat kaitannya dengan ketentuan­ketentuan standar, ketentuan perkarantinaan dan keamanan pangan. Dalam penerapannya harus memenuhi ketentuan yang telah disepakati yaitu: transparan, “fair” dan tidak diskriminatif, resiprokal serta dilandasi dengan kajian ilmiah bagi seluruh anggota. Ini berarti dalam pelaksanaan perjanjian tersebut semua negara yang telah sepakat dengan perjanjian WTO tidak diperkenankan menerapkan standar ganda atau peraturan yang berbeda terhadap komoditas impor maupun lokal (Saragih, 2000). Tantangan utama dari program peningkatan produktivitas dan produksi padi adalah bagaimana membuat agar usahatani padi lebih efisien sehingga memiliki daya saing dan layak sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan. Dalam dasawarsa terakhir ini usahatani padi menghadapi kondisi yang masih belum memenuhi harapan semua pihak. Kita harus mengupayakan agar produksi padi domestik memiliki daya saing, yang dicirikan oleh tingkat efisiensi produksi dan mutu yang tinggi. Usaha peningkatannya harus melibatkan semua pelaku sistem dan usaha agribisnis berbasis komoditas padi (Saragih, 2001).
Pembangunan pertanian senantiasa memerlukan informasi ilmu dan teknologi yang terus berkembang dengan tujuan untuk mewujudkan pertanian modern yang maju, efisien, dan tangguh serta berorientasi pada pasar dan dilaksanakan secara profesional, menguntungkan, dan memiliki kemandirian. Peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan, secara nasional merupakan pilar yang penting dan sangat menentukan terhadap ketahanan sosial, ekonomi, dan politik.
Usaha peningkatan produksi beras terus diupayakan sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola pangan dari non beras ke beras dan penyusutan areal pertanian akibat pemukiman dan penggunaan lain. Hasil penelitian sosial ekonomi Departemen Pertanian tahun 2000 diperoleh bahwa jika pola konsumsi pangan nasional serta produksi tetap, maka Indonesia akan mengimpor beras sebanyak 8 juta ton. Jumlah tersebut termasuk jumlah ambang psikologis yang harus diwaspadai agar tidak menimbulkan keresahan yang dapat mengancam ketahanan di bidang sosial, politik dan ekonomi.
Keberhasilan swasembada beras pada tahun 1984 tidak terlepas dari peranan pupuk sebagai salah satu paket dalam program intensifikasi. Oleh karena itu, penggunaan pupuk yang efisien merupakan salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi pupuk buatan tanpa menurunkan produksi (Ismunadji dan Zulkamain, 1973). Penggunaan varietas unggul padi pada paket program intensifikasi adalah responsif terhadap pemupukan sehingga menyebabkan penggunaan pupuk anorganik semakin meningkat dan sebaliknya penggunaan pupuk organik semakin berkurang kalau tidak dikatakan tidak sama sekali. Apabila keadaan ini berlangsung terus tanpa mempertimbangkan manfaat pupuk organik, maka akan merusak sifat fisik tanah yang pada akhirnya akan menyebabkan produktivitas tanah menurun (Karama, 1990) sehingga akan sulit tercapai pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture) yang lambat laun akan tercipta lahan-lahan marginal baru.
Luas panen padi sawah Sulawesi Selatan pada tahun 1998 adalah 848.268 ha (Deptan, 1999). Dengan asumsi bahwa dalam berusahatani padi sawah rata rata dosis pupuk yang digunakan adalah 120 kg N yang setara dengan kurang lebih 250 kg urea ha-1 sekarang di tingkat petani sudah digunakan dosis 300 kg urea ha-1 sehingga dengan luasan tersebut dibutuhkan pupuk urea sebanyak 212.067 ton. Diandaikan harga pupuk urea per kilogramnya Rp.1000 (harga sekarang Rp.1.150), maka untuk mendatangkan pupuk urea sebanyak itu diperlukan dana sebesar Rp. 212 milyar. Namun dengan melakukan efisiensi penggunaan pupuk urea/nitrogen misalnya dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati akan menghemat pemakaian pupuk anorganik (urea) sebesar 25 50 % yang tentunya akan menghemat keuangan daerah kurang lebih Rp. 5,25 10,5 milyar setiap tahun dari sektor tanaman padi sawah saja. Efisiensi pemberian hara bertujuan untuk me-ningkatkan produksi tanaman ditinjau dari segi agronomi, ekonomi, dan lingkungan. Dari segi ekonomi, efisiensi penggunaan nitrogen diartikan sebagai total nitrogen yang digunakan atau biaya yang dapat dikembalikan akibat pemupukan dengan demikian akan menghemat energi dan kerusakan terhadap lingkungan dapat dikurangi.
Memburuknya sifat fisika tanah pada akhirnya akan menurunkan produktivitas lahan. Salah satu cara untuk memperbaiki atau mempertahankan sifat fisika dan kimia tanah adalah dengan pemberian bahan organik ke dalam tanah, karena perbaikan sifat fisika dan kimia tanah akan meningkatkan ketahanan tanah terhadap bahaya erosi dan menjadikan lingkungan yang kondusif baik bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk organik dengan sendirinya merupakan keluaran setiap budidaya pertanian sehingga merupakan sumber hara makro dan mikro yang dapat dikatakan cuma-cuma (Sutanto, 2002). Selanjutnya dikatakan bahwa pupuk organik berdaya ameliorasi ganda dengan bermacam-macam proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus mengkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta menghindarkan kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Walaupun kandungan hara dalam pupuk organik relatif rendah dibandingkan dengan pupuk mineral, akan tetapi pupuk organik memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki pupuk mineral di antaranya dapat memperbaiki sifat sifat fisik tanah (memperbaiki struktur tanah, porositas, permeabilitas, meningkatkan ke-mampuan untuk menahan air, dan lain lain), sifat kimia (meningkatkan kemampuan tanah untuk menjerap kation, sebagai sumber hara makro dan mikro, dan pada tanah masam dapat menaikkan pH dan menekan kelarutan Al dengan membentuk kompleks Al organik) dan sifat biologi tanah (meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan sebagai sumber energi bagi bakteri penambat N dan pelarut fosfat, dan lain lain). Bohn dkk. (1985) mengemuka-kan bahwa penambahan bahan organik ke dalam tanah menyebabkan terbentuknya pori mikro dengan agregat agregat tanah yang lebih besar. Hasil percobaan Sutanto dan Utami (1995) di tanah kritis dengan memanfaatkan beberapa jenis kompos untuk tanaman kacang tanah dan jagung ternyata memperoleh hasil yang lebih baik daripada menggunakan pupuk kimia sesuai dengan dosis anjuran. Menurut Alwi dan Nazemi (2000) pemberian brangkasan kedelai dapat menekan kebutuhan pupuk urea untuk tanaman kedelai dan jagung. Selanjutnya oleh Fauziati, Saragih dan Noorjanah (2000) penambahan bahan organik berupa kotoran sapi, kotoran ayam atau Crotolaria sp. dapat mengurangi pemberian urea pada pertanaman jagung dan memperbaiki sifat kimia tanah. Pemberian bahan organik dapat meningkatkan hasil jagung 17-50 %, padi gogo 20-80 %, kedelai 25-50%, dan kacang tanah 6-34 %.
Dari berbagai penelitian ditemukan bahwa banyak tanah tanah marginal mem-punyai potensi besar untuk meningkatkan produksi tanaman pangan dan hortikultura dengan pemberian pupuk organik. Selain berfungsi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil, pemberian pupuk organik juga bertujuan untuk memperbaiki dan memper-tahankan tingkat kesuburan tanah. Efektivitas penggunaan pupuk organik pada lingkup lebih luas telah dilaporkan oleh Gaur (1979), bahwa terjadi peningkatan gabah dan jerami padi sebanyak 41, % dan 26, % dari penggunaan pupuk organik. Keuntungan pemakaian pupuk organik antara lain :(1) mempertahankan tingkat kesuburan tanah dan produktivitas lahan secara berkesinambungan (sustainable agriculture), (2) memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, (3) sebagai sumber unsur hara terutama hara mikro, (4) mening-katkan aktivitas mikroba yang mampu menambat N udara (Azotobacter sp.), bakteri pelarut fosfat, (5) mengurangi atau menekan pemakaian pupuk buatan yang berdampak negatif terhadap lingkungan (eutrofikasi). Penggunaan pupuk organik bertujuan agar produktivitas lahan dapat ditingkatkan atau paling tidak mengalami degradasi sehingga lahan usahatani lebih terlanjutkan dengan tingkat produktivitas yang relatif stabil. Bahan organik yang dapat digunakan banyak macamnya, antara lain pupuk hijau, pupuk kandang dan kompos atau kompos hasil fermentasi/bokashi dan bekas cacing (kascing) (Syam’un, 2001).
Bahan organik merupakan bahan yang penting dalam meningkatkan kesuburan tanah karena fungsinya yang vital dalam meningkatkan daya pegang air, meningkatkan daya sangga terhadap unsur yang dapat meracuni tanaman serta meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik (Prayudi, 2000). Selanjutnya dikatakan bahwa kandungan bahan organik tanah dapat ditingkatkan melalui pemberian bahan di antaranya dari kompos. Limbah pertanian baik yang berupa jerami, brangkasan palawija, serta biomasa gulma sepeti alang-alang dan eceng gondok merupakan limbah yang baik untuk dijadikan pupuk organik (kompos).
Sistem pertanian yang dikembangkan di Indonesia selama kurang lebih tiga dekade telah memberikan kontribusi yang besar bagi pemenuhan pangan dan peningkatan kualitas hidup secara nasional. Hal ini terlihat dengan dicapainya swasembada pangan pada tahun 1984. Namun status ini tidak dapat dipertahankan lagi, hal ini terlihat bahwa beberapa tahun terakhir ini Indonesia mengimpor beras dalam jumlah besar (3 juta ton pada tahun 1998). Oleh karena itu sistem pertanian yang telah di tempuh selama ini perlu dievaluasi karena diketahui dapat mengakibatkan kemunduran kualitas lingkungan dan sumber daya yang tak dapat diperbaharui. Sehingga menjadi sangat mendesak untuk merekayasa dan mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan serta ramah terhadap lingkungan. Salah satu upaya untuk menunjang terwujudnya sistem pertanian yang berkelanjutan serta ramah lingkungan dimaksud ialah pemberian bahan organik dengan memanfaatkan limbah pertanian yang berupa jerami padi, brangkasan palawija, dan sisa-sisa tanaman lainnya. Salah satu sumber bahan organik (kompos) yang mudah diperoleh dalam budidaya tanaman pangan adalah limbah pertanian dalam bentuk jerami padi, brangkasan palawija, dan biomassa gulma yang selama ini hanya dibakar dan belum digunakan sebagai sumber pupuk organik yang potensial. Pemberian bahan organik (kompos) bermutu yang dibuat dengan menggunakan bioaktivator (bakteri) ke dalam tanah mem-berikan dua keuntungan yaitu meningkatkan kesuburan tanah (fisik, kimia dan biologi tanah) serta meningkatkan populasi mikroba antagonis yang mampu menekan perkembangan patogen tanaman yang bersifat soil born. Pengendalian hayati tersebut untuk penyakit tanaman sampai saat ini diyakini tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi suatu agro-ekosistem sehingga cara tersebut cukup ramah lingkungan.
Kompos dapat diartikan sebagai hasil perombakan bahan organik dalam kondisi terkendali, dan produk akhirnya cukup stabil dalam penyimpanan, serta aplikasi pada lahan tidak menimbulkan dampak yang merusak lingkungan. Kompos yang baik tidak saja memperkaya unsur hara dalam tanah. tapi juga memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Di sekitar kita banyak sekali bahan organik potensial yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik namun belum digarap secara optimal di antaranya limbah dari kulit buah kakao, tongkol jagung, tandan kosong kelapa sawit, eceng gondok, limbah serat tebu, limbah serat sagu, jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, daun singkong dari industri tapioka, limbah rumah tangga, limbah pasar yang kesemuanya dapat diolah menjadi pupuk organik (kompos) yang kualitasnya tidak kalah dengan yang dihasilkan oleh produsen pupuk organik di Pulau Jawa. Kakao merupakan komoditi perkebunan terbesar yang dihasilkan provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah produksi pada tahun 2000 sebanyak 210.357 ton dan untuk daerah kabupaten Polewali dihasilkan kakao sebanyak 25.130 ton (BPS, 2000). Menurut Harjadi dan Mardjosuwito dalam Mide (2001) komposisi buah kakao terdiri dari 74 % merupakan kulit buah, 2 % plasenta, dan 24 % biji. Sedangkan menurut Mide dan Fattah dalam Mide (2001) bahwa 75 % dari bahan kering dari keseluruhan buah kakao merupakan kulit buah dan kulit biji 10 % atau kurang lebih 2,4 % dari seluruh buah. Oleh karena itu untuk menghasilkan kakao sebanyak 26.130 ton untuk tingkat kabupaten Polewali juga akan meng-hasilkan kulit kakao yang merupakan limbah kulit sebanyak 19336 ton. Kulit yang diolah menjadi pupuk organik (setelah pengomposan) akan mengalami penyusutan sebesar 70 %. Dengan demikian dari kulit buah kakao yang dihasilkan kabupaten Polewali jika diolah dengan menggunakan bioaktivator akan diperoleh pupuk organik sebanyak 5800 ton. Andai setiap kilonya bernilai Rp. 500 (sekarang di pasar harga pupuk organik Rp 1000-1500) maka akan diperoleh dana sebesar Rp. 2.900.000.000 (2,9 milyar). Jumlah tersebut selama ini tidak dimanfaatkan baik sebagai sumber mata pencarian , pupuk alternatif maupun sebagai bidang usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja di tingkat pedesaan. Pupuk organik yang berasal dari kulit kakao memiliki kandungan hara sebagai berikut N-total (%) 1.3, C-org (%) 33,71, C/N 26, P2O5 (%) 0.186, K2O (%) 5.5, CaO (%) 0.23, MgO (%) 0,59 (Indiani, 2000).

B. Perumusan Masalah

Kebutuhan pangan semakin dewasa ini semakin sulit terpenuhi, upaya pelestarian swasembada beras cukup memprihatinkan, hal itu disebabkan karena peningkatan produksi padi yang sudah melandai (levelling off), pesatnya konversi lahan ke lahan non pertanian, serta tingkat kesuburan tanah yang rendah terutama di luar Jawa. Selain itu, menurut Khudori (2001) penggunaan pupuk anorganik dan pestisida telah merusak tanah dan lingkungan sehingga makin menyulitkan meningkatkan produksi. Akibat pemakaian pupuk anorganik terus menerus dan dosisnya selalu ditingkatkan menyebabkan tanah mengalami degradasi sehingga pemupukan relatif tidak bisa lagi menaikkan hasil.
Penggunaan pupuk yang efisien termasuk pemanfaatan pupuk organik merupakan salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi pupuk buatan tanpa menurunkan produksi. Selain karena harga pupuk cenderung tidak terjangkau petani akibat dicabutnya subsidi oleh pemerintah juga ketersediaannya sering menjadi langka pada saat musim tanam padi sehingga banyak petani yang terpaksa tidak melakukan pemupukan akibatnya produksi padi sangat rendah.
Beras merupakan makanan pokok penduduk Indonesia dengan tingkat konsumsi 133 kg kapita 1 tahun 1 (BPS, 2000) sehingga dirasa perlu mencari teknologi yang dapat meningkatkan hasil padi tanpa penggunaan pupuk sintetik yang tidak rasional dan tanpa merusak sumberdaya alam secara berlebihan sehingga akan tercipta suatu pertanian yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable agriculture), berdaya saing tinggi dan yang tidak kalah pentingnya adalah ancaman krisis pangan dapat diatasi. Selain itu, penggunaan pupuk kimia diketahui juga menimbulkan dampak negatif terhadap tanah dan air. Tanah mengalami degradasi kesuburan fisik, kimia maupun biologis sebagai akibat tergesernya peranan pupuk organik yang menyebabkan tanah semakin rakus terhadap pupuk kimia (Taslim et al, 1989; Safley, 1990; Miller and Larson, 1990). Di samping itu pencemaran air oleh nitrat yang bersumber dari pupuk urea telah banyak dilaporkan (Clancy, 1990).
Olehnya itu, diperlukan kajian upaya pengembangan dalam rangka peningkatan daya saing produk unggulan, yaitu penelitian uji adaptasi beberapa varietas padi pada lahan-lahan yang menggunakan pupuk organik
Berdasarkan rumusan masalah tersebut dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Kemajuan teknologi pangan selain berdampak bagi peningkatan produksi secara berlipat ganda, juga potensial memberi pengaruh buruk berupa terjadinya kontaminasi bahan akibat pemupukan an-organik dan penggunaan pestisida yang berlebihan yang selanjutnya dapat mengangganggu kesehatan manusia.
2. Kecenderungan meningkatnya harga bahan pupuk anorganik, disisi lain bahan baku pupuk organik banyak tersedia sehingga pupuk organik menjadi alternatif pilihan bagi petani.

C. Tujuan
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk :
1. Mengidentifikasi jenis varietas padi yang mempunyai adaptasi tinggi terhadap lahan yang menggunakan pupuk organik.
2. Mengetahui kondisi lahan sebelum dan sesudah pemberian pupuk organik serta tingkat produksi dan produktifitas padi yang dihasilkan.
3. Mengkaji beberapa varietas dan jenis pupuk organik yang dapat dikembangkan untuk menunjang peningkatan produktivitas padi melalui sistem budidaya organik di Sulwesi Selatan

D. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai suatu model sistem budidaya padi secara organik dan menguntungkan bagi masyarakat umum. Sekaligus memperoleh hasil berupa data dan informasi ilmiah yang akurat dan relevan untuk pengembangan dan kemajuan pembangunan sektor pertanian dalam konteks penerapan potensi komoditas padi unggulan yang mempunyai daya saing tangguh dan berkelanjutan.

E. Rancangan Kebijakan
Hasil penelitian ini akan berupa sajian data dan informasi penting tentang tipe varietas padi, jenis pupuk organik yang cocok dan kesesuaian tipologi lahan yang cocok untuk pengembangan padi melalui sistem budidaya organik. Hasil dapat menjadi bahan acuan dalam penyusunan, perencanaan dan rekomnedasi rancangan kebijakan pemerintah dalam rangka pembangunan pertanian dan pengembangan tanaman padi di Sulawesi Selatan yang berdaya saing tinggi dan berwawasan lingkungan secara berkelanjutan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Beras merupakan kebutuhan pokok sebagian besar penduduk dunia, khususnya di negara Asia dan negara berkembang lainnya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan makanan pokok penduduk dunia yang terus bertambah, total produksi beras nasional perlu terus ditingkatkan.
Di Indonesia, kekurangan produksi beras tetap merupakan masalah yang masih dihadapi. Berbagai upaya perlu terus dilakukan untuk meningkatkan produksi beras nasional, karena konsumsi dan kebutuhan dalam negeri terus meningkat.
Pemuliaan padi di Indonesia telah berlangsung cukup lama, dan sejak tahun 1940 telah cukup banyak varietas unggul yang dihasilkan (Tabel 1). Dihasilkannya varietas unggul yang merupakan varietas unggul dengan ‘arsitektur revolusi hijau’ tersebut selama beberapa puluh tahun sejak periode 1960-an telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam peningkatan produksi beras nasional.
Tabel 1. Jumlah Varietas di Lepas Sejak Tahun 1940
Periode Jumlah Varietas Umur panen Potensi Produksi (ton/ha)

1940 – 1960
1960 – 1965
1966 – 1970
1971 – 1975
1976 – 1980
1981 – 1985
1986 – 1990
1991 – 1995
1996 – 2000
2000 – 2004
13
6
4
7
19
34
23
17
27
51
t.a.d
145 – 160
125 – 140
120 – 140
115 – 145
105 – 135
100 – 135
90 – 120
110 – 120
100 – 120
t. a.d
2.5 – 4.5
4.5 – 5.5
3.0 – 7.0
3.0 – 7.0
4.0 – 6.0
4.0 – 7.0
5.0 – 5.6
4.0 – 8.0
3.5 – 8.0
Total 201

Perkembangan penigkatan produktivitas lahan sawah (ton/ha) di Indonesia telah cukup berarti dalam kurun periode beberapa puluh tahun tersebut (Tabel 2).

Tabel 2. Perkembangan Tingkat Produktivitas Rata-rata Padi Sawah di Indonesia periode 1970 – 2000.

Peningkatan
rata-rata produktivitas
(ton/ha) Tahun Lamanya dicapai
(tahun)

2.5 – 3.0
3.0 – 3.5
3.5 – 4.0
4.0 – 4.5
4.5 – 5.0

1970 – 1976
1976 – 1980
1980 – 1982
1982 – 1989
1989 – ?

6
4
2
7
?

Propinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu produsen utama padi nasional. Sampai saat ini, petani padi umumnya menggunakan varietas-varietas unggul hasil pemuliaan generasi ‘Revolusi Hijau’ dengan arsitektur tanaman yang kita kenal seperti di atas dengan istilah ‘varietas unggul arsitektur revolusi hijau’ seperti IR64, Ciherang, dan sejenisnya. Kita sudah mengenal varietas tipe revolusi hijau ini dengan ciri-cirinya berupa tanaman pendek, tegak, anakan banyak, dst. Potensi hasil varietas ini sudah umum pula diketahui, yaitu berkisar 4 – 7 ton/ha. Dengan penggunaan varietas unggul ‘tipe revolusi hijau’ ini, sampai saat ini telah dicapai rata-rata produksi nasional sekitar 4.5 ton/ha. Di beberapa daerah rata-rata produksi petani dapat mencapai 5 – 7 ton/ ha, sementara di daerah lain hanya berkisar 3 – 5 ton/ha.
Tingkat produktivitas (produksi/ha) padi sawah dengan arsitektur (ideotype) revolusi hijau tersebut telah melandai, artinya teknologi budidaya apapun yang diberikan, karena potensi genetik produksi varietasnya sudah jenuh, peningkatan produksi/ha lebih lanjut sangat sulit dicapai dicapai. Hal ini telah disadari oleh para peneliti padi di dunia, termasuk pula di Indonesia.
Untuk meningkatkan kembali produktivitas (tingkat produksi /ha) yang sudah melandai, diperlukan varietas unggul berdaya hasil super tinggi, melebihi daya hasil varietas yang sudah ada tersebut. Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli di dunia, kini diyakini, bahwa kebuntuan pelandaian produksi tersebut dapat didobrak kembali dengan pengembangan apa yang disebut dua strategi yaitu : (1) Padi Tipe Baru (PTB), dan (2) Padi Hibrida.
Pemanfaatan padi hibrida sangat menjanjikan, namun karena sifat teknologinya sedemikian rupa, setiap kali tanam petani harus membeli benih dengan harga yang tinggi. Saat ini, kelembagaan kita dan permodalan petani menghadapi kendala untuk dapat mengadopsi teknologi tersebut. PTB lebih memberi harapan karena sifat teknologi genetiknya tidak berbeda dengan varietas yang sudah biasa ditanam petani, tetapi dengan potensi produksi yang super unggul.
Ideotype (arsitektur) PTB dirancang oleh peneliti IRRI tahun 1988. Ciri utama dari arsitektur PTB adalah jumlah anakan lebih sedikit yaitu 8-10 tetapi semua produktif, perakaran dalam, batang kuat, malai lebat (jumlah gabah bernas 200 – 250/malai, daun tegak, tebal dan berwarna hijau tua, umur 100 – 130 hari, tahan terhadp hama penyakit utama. Yuan (1999) menyatakan bahwa ideotype (arsitektur) PTB tersebut merupakan gabugan antara sifat padi Indica dengan Javanica (Indo-Japonica atau tropical Japonica). Dengan sifat morfologi seperti tersebut di atas, PTB mempunyai potensi produksi 30-50% lebih tinggi dari varietas unggul tipe arsitektur revolusi hijau yang saat ini ditanam petani (Fagi et al., 2002 ; Peng and Cassman, 1994). PTB mempunyai potensi produksi diatas 8 ton/ha, bahkan dapat mencapai 9.5 – 11 ton/ha (Chen et al., 2001 ; Bardhan, 2001 ; Horie, 2001).
Di China, PTB pertama yang dihasilkan, Sennong 265, mulai ditanam tahun 1997 dapat mencapai produksi 11 – 11.8 ton gabah kering giling per ha. PTB lainnya, Shennong 606 ditanam tahun 1999 mampu mencapai produksi 12.2 ton / ha (Chen et al., 2001). Di Jepang, varietas PTB Takanari dan Milyang 23 mampu berproduksi rata-rata 10 ton/ha (Horie, 2001). Beberapa PTB yang dikembangkan oleh IRRI seperti IR 6546-161-2-2-3-22 mampu berproduksi 12.4 ton per hektar di Yunnan, China. PTB lainnya, Amaroco dan Echuca mampu mencapai produksi 13.4 dan 14.3 ton per hektar di Yanco, Australia (Nishio et al., 2000).
Pengembangan PTB di Indonesia baru dimulai tahun 1996 oleh Balai Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Departemen Pertanian. Pada akhir tahun 2003 / awal 2004 dilepas varietas PTB pertama Indonesia, yaitu varietas Fatmawati. Varietas PTB ini memiliki potensi produksi mencapai di atas 8 ton per ha. Walaupun mempunyai potensi produksi super tinggi, varietas Fatmawati memiliki beberapa kelemahan, yaitu : (1) kehampaan gabah sangat tinggi yang dapat mencapai 30%, (2) gabah sulit di rontok, dan (3) kualitas beras kurang baik. Karena kekurangan-kekurangan tersebut, Fatmawati sampai saat ini kurang mendapat sambutan yang baik dari petani.
Kompos
Kompos yang baik tidak saja memperkaya unsur hara dalam tanah juga mem-perbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Kualitas kompos yang ideal adalah sebagai berikut: (a). Fisik kompos: berwarna coklat sampai kehitaman tidak berbau menyengat (busuk) berstruktur remah), (b). kimiawi kompos mengandung bara N, P, K dan hara lainnya dengan nisbah C/N berkisar 8 20, dan (c) kompos tidak merupakan sumber bibit penyakit bagi tanaman dan lingkungan. Teknik pembuatan kompos dapat dibedakan dalam 2 (dua) kelompok yaitu perombakan secara aerob dan anaerob. Pengomposan secara aerob merupakan suatu proses penguraian bahan organik yang memerlukan udara (oksigen). Sebaliknya pengomposan secara anaerob merupakan proses dekomposisi bahan organik tanpa kehadiran oksigen (udara). Proses pengomposan secara aerob lebih banyak dilakukan karena mempunyai beberapa keuntungan.antara lain; proses pengomposan berjalan lebih cepat, tem-peratur yang relatif tinggi akan membunuh organik patogen yang merugikan bagi tanaman dan tidak menimbulkan bau busuk sepanjang kondisi aerob dapat diper-tahankan. Bahan bahan yang digunakan untuk kompos bisa bermacam macam, antara lain sisa sisa tanaman/sayuran, serbuk gergaji, kotoran hewan, .sampah kota dan rumah tangga, brangkasan kedelai, tongkol jagung dan jerami padi.
Proses pembuatan kompos dapat dipercepat sehingga menghasilkan kompos berkualitas yang diharapkan mempunyai fungsi fisika, kimia, dan biologi yang cukup baik, Proses pengomposan bisa berlangsung cepat atau lambat, tergantung pada (1) kondisi bahan organik, (2) mikro organisme yang ada, (3) kelembaban, (4) suhu, (5) pH,. dan (6) lingkungan. Effective Microorganism (EM4) yang diperkenal-kan oleh Teruo (1993) merupakan suatu inokulan yang mengandung 90 persen Lactobacilius sp. dan mikroorganisme yang lain termasuk jamur. Sebagai inokulan EM4 dapat melakukan fermentasi dan mengaktifkan mikroorganisme yang sudah ada sehingga pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat. Waktu yang diper1u-kan untuk pembuatan kompos siap pakai hanya 6 hari saja (Subowo dkk., 1990).
Bahan organik dapat juga memperbaiki daya olah tanah berstruktur kompak karena bahan organik dapat mengurangi daya ikat antar partikel tanah. (Soeprapto Sumadi dkk.,1989).
Bahan organik penting sebagai gudang penyimpan dan pengatur pelepasan unsur hara dalam tanah. Umumnya bahan organik bermuatan negatif sehingga mem-punyai kapasitas adsorbsi 250 mg sampai 450 mg per 100 g bahan. Selain itu, bahan organik dapat bertindak sebagai penyangga di dalam larutan tanah.
Bahan organik tanah merupakan energi utama sebagian mikroorganisme tanah, terutama golongan dekomposer. Perombakan pupuk hijau oleh mikroba tanah akan menghasilkan senyawa-senyawa seperti karbohidrat, protein, asam amino, dan berbagai asam organik yang merupakan sumber energi mikroba. Bahan organik, selain merupakan sumber energi mikroba, juga mengeluarkan zat spesifik seperti kuinon atau benzokuinon yang dapat meningkatkan kapasitas adsorbsi dan perpanjangan akar tanaman. Bahkan, hasil dekomposisi bahan organik ternyata dapat mengurangi pe-nyakit akar. Di samping itu, bahan organik juga merupakan sumber N dan C bagi mikroba tanah, terutama golongan kemoheterotrof (Joedoro Soedarsono, 1982). Tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi berkorelasi positif dengan jumlah dan aktivitas mikroba tanah. Tanah lapisan atas biasanya mempunyai jumlah mikroorganisme tanah yang lebih banyak dibandingkan dengan lapisan tanah bawah yang kurang mengandung bahan organik.
Ada beberapa golongan mikroba perombak selulose dari pupuk hijau, yaitu bakteri, jamur, dan Actinomycetes. Kelompok bakteri meliputi Bacillus, Cellulomonas, Clostridium, Cytophage, Sporocytophage, dan Vibrio. Golongan jamur meliputi Alternaria, Aspergillus, Fomes, Penicillium, Polyporus, Rhizoctonia, Trichoderma, Verticillium, dan Zygorhinchus. Golongan Actinomycetes meliputi Macromonospora, Nocardia, Streptomyces, Strepto- sporangium (Joedoro Soedarsono, 1982).

B. Kerangka Pemikiran
C. Definisi Operasional dan Konseptual Variabel
D. Hipotesis
Hipotesis yang dapat diduga adalah :
1. Terdapat satu varietas padi yang dapat berproduksi baik pada lahan yang menggunakan pupuk organik
2. Terdapat jenis pupuk organik yang mampu memacu pertumbuhan dan produksi padi.

III. Metode Penelitian
A. Lokasi dan Waktu
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di dua daerah yang berbeda tipologi lahan yakni Kabupaten Sidrap sebagai daerah sentra produksi padi dan di Kabupaten Gowa sebagai daerah pengembangan padi di Sulawesi Selatan. Penelitian ini akan berlangsung pada bulan Juni sampai November 2007
B. Materi Penelitian
Bahan-bahan yang dipergunakan adalah benih padi sebanyak 5 varietas padi yang dikembangkan di Sulawesi Selatan, pupuk organik dari limbah pertanian yang banyak tersedia di lapangan, dan pupuk kandang sebagai sumber bahan organik. Selain itu, juga digunakan sarana produksi penunjang lain, seperti bahan-bahan uji pelengkap analisa kajian yang diperlukan.

C. Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design), dimana : Faktor A (varietas) sebagai Petak Utama, terdiri atas V1, V2, V3, V4, dan V5, dan faktor B (pupuk organik) sebagai Anak Petak, terdiri atas P0, P1, dan P2,. Setiap perlakuan akan ditempatkan pada masing-masing 3 ulangan. Data hasil pengamatan akan dianalisis dengan melakukan uji lanjutan yang sesuai.

I. Parameter/Indikator
Parameter peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah : tinggi tanaman (cm), jumlah anakan dan total anakan produktif, umur berbunga dan umur panen, jumlah malai, jumlah gabah total permalai, jumlah gabah bernas permalai, presentase gabah hampa permalai, berat 1000 butir, serta produksi dan produktivitasnya berdasarkan ubinan.
Dari pengamatan ini, diharapkan diperoleh target dan indikator keberhasilan dari penelitian yang diusulkan yakni dihasilkan tipe varietas padi yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap jenis pupuk organik di berbagai tipologi lahan di Sulawesi Selatan, dengan potensi produksi super tinggi diatas 8 atau 9 ton/ha.

IV. PROSEDUR PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Jadwal Kegiatan
B. Organisasi Pelaksana
C. Rincian Anggaran

V. DAFTAR PUSTAKA
Bardhan R.S.K. 2001. Increasing yield in irrigated Boro rice through indica x japonica
improved lines in West Bengal India. Dalam S. Peng and B Hardy (eds.), Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation. IRRI, Los Banos, Philipines.

BPS, 2000. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistika Jakarta.
Chen W., X. Zenyin, Z. Longbu, and Y. Shouren. 2001. Development of the new plant
type rice and advances in research on breeding for super high yield. Dalam S. Peng and B
Hardy (eds.), Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation. IRRI, Los
Banos, Philipines.

Deptan. 1999. Profil Pertanian Indonesia. Departemen Pertanian, Jakarta.
Gardner, P.F., R.B. Pearce, and L. Mitchell. 1985. Physiology of crop Plants. Iowa State University Press. Ames.
Horie T. 2001. Increasing yield potential in irrigated rice: breaking the yield barrier. Dalam
S. Peng and B Hardy (eds.), Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation. IRRI, Los Banos, Philipines.
Nishio T., T. Matsura, T. Takai, and T. Horie. 2000. Identification and evaluation of major
traits determining yield potential of rice under field conditions; Genotypic differences in the grain filling and associated plant factors. Japan J. Crop Sci. 69 : 34 – 35.

Peng S.G. dan K.G. Cassman. 1994. Evaluation of the new plant ideotype for increase yield
potential. Dalam K.G. Cassman (ed.) Breaking the Yield Barrier. P 5 – 20. IRRI, Los
Banos, Philippines.

Londong, P. 2000. Pengaruh Pemupukan hara Ca dan P terhadap produksi bahan kering dan nitrogen oleh Azolla pinnata. Kalimantan Agrikultura Vol. 7 (3), p.127-131.
Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Taslim, H., dan W. Y. Prastowo. 1987. Produksi biomas Azolla microphilla Pada tanah Sukamandi. Media Penelitian, No.4, Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi, p: 5 8.
Yoshida, S. 1982. Fundamentals of rice . Crop Science. IRRI, Los Banos,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s