Arsip Kategori: Uncategorized

pasca panen kelapa sawit


Orang Indonesia Asli, Teknologi Pengolahan Hasil perkebunan
Habibie’s Blog

* Beranda
* Pintu kemana Aja
* Tentangku
o Ruang Tamu
* Video kita
o Sang pemimpi
* View

« “Hancur Lebur” puisi kepasrahan yang ter Inspirasi ketika Ujian
Siapa yang pantas memimpin Kabupaten Ketapang 5 tahun ke depan? »
PASCA PANEN DAN STANDAR PRODUKSI KELAPA SAWIT

Hasil terpenting dari tanaman kelapa sawit adalah minyak sawit yang dari ekstraksi daging buah (pericarp). Hasil lain yang tidak kalah penting adalah minyak inti sawit atau kernel yang juga diperoleh dengan cara ekstraksi.

Pertama tandan buah diletakkan di piringan Buah yang lepas di satukan dan dipisahkan dari tandan. Kemudian tandan buah dibawa ke Tempat Pengumpulan Buah (TPH) dengan truk tanpa ditunda. Di TPH tandan diatur berbaris 5 atau 10. Buah kelapa sawit harus segera diangkut ke pabrik untuk segera diolah. Penyimpanan menyebabkan kadar asam lemak bebas tinggi. Pengolahan dilakukan paling lambat 8 jam setelah panen.

Di pabrik buah akan direbus, dimasukkan ke mesin pelpas buah, dilumatkan didalam digester, dipres dengan mesin untuk mengeluarkan minyak dan dimurnikan. Sisa pengepresan berupa ampas dikeringkan untuk memisahkan biji dan sabut. Biji dikeringkan dan dipecahkan agar inti (kernel) terpisah dari cangkangnya.

Tahapan dari pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Perebusan (sterilisasi) TBS

TBS yang masuk kedalam pabrik selanjutnya direbus di dalam sterilizaer. Buah direbus dengan tekanan 2,5-3 atm dan suhu 130o C selama 50-60 menit. Tujuan perebusan TBS adalah:

* Menonaktifkan enzim lipase yang dapat menstimulir pembekuan freefatty acid
* Membekukan protein globulin sehingga minyak mudah dipisahkan dari air
* Mempermudah perontokan buah
* Melunakkan buah sehuingga mudah diekstraksi

2. Periontokan buah

Dalam tahap ini buah selanjutnya dipisahkan dengan menggunakan mesin tresher. Tandan kosong disalurkan ke temapat pembakaran atau digunakan sebagai bahan pupuk organic. Sedangkan buah yang telah dirontokkan selanjutnya dibawa kemesin pelumatan. Selama proses perontokan buah, minyakl dan kernel yang terbuang sekitar 0,03%

3. Pelumatan buah

Proses pelumatan buah adalah dengan memotong dan mencacah buah di dalam steam jacket yang dilengkapi dengan pisau berputar. Suhu didalam steam jacket sekitar 85-90oC.

Tujuan dari pelumatan buah adalah:

* Menurunkan kekentalan minyak
* Membebaskan sel-sel yang mengandungb minyak dari serat buah
* Menghancurkan dinding sel buah sampai terbentuk pulp

4. Pengempaan (ekstraksi minyak sawit).

Proses pengempaanb bertujuan untuk membantu mengeluarkan minyak dan melarutkan sisa-sisa minyak yang terdapat didalam ampas. Proses pengempaan dilakukan dengan melakukan penekanan dan pemerasan pulp yang dicampur dengan air yang bersuhu 95oC. Selain itu proses ekstraksi minyak kelapa sawit dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi, bahan pelarut dan tekanan hidrolis.

5. Pemurnian (klarifikasi minyak )

Minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari mesin ekstraksi minyak sawit umumnya masih mengandung kotoran berupa tempurung, serabut dan air ekitar 40-45% air. Untuk itu perlu dilakukan pemurnian minyak kelapa sawit. Presentase minyak sawit yang dihasilkan dalam oproses pemurnian sekitar 21%. Proses pemurnian minyak kelap sawit terdiri dari beberapa tahapan yaitu

a. pemurnian minyak di dalam tangki pemisah (clarification tank)

prinsip dari proses pemurnian minyak di dalam tangki pemisah adalah melakukan pemisahan bahan berdasarkan berat jenis bahan sehingga campuran minyak kasar dapat terpisah dari air.

b. Sentrifugasi minyak

dalam tahap ini minyak dimurnikan dari berbagai macam kotoran yang lebih halus lagi. Hasil akhir dari proses sentrifugasi ini adalah minyak dengan kadar kotoran kurang dari0,01%

c. Pengeringan hampa

Dalam tahap ini kadar air diturunkan sampai 0,1%. Proses penngeringan hampa dilakukan dalam kondisi suhu 95oC dan tekanan-75cmHg.

d. Pemurnian minyak dengan tangki lumpur

Proses pemurnian didalam tangki lumpur bertujuan untuk memisahkan minyak dari lumpur.

e. Strainer

Dalam tahap ini minyak dimurnikan dari sampah halus

f. precleaner

proses precleaner bertujuan untuk memisahkan pasir pasir harus dari sludge.

g. Sentrifugasi lumpur

Dalam tahap ini minyak dimurnikan kembali dari air dan kotoran. Prinsip yang digunakan adalah dengan memisahkan bahan berdasarkan berat jenis masing-masing bahan.

h. Setrifugasi pemurnian minyak

Tahap ini hampir sama dengan sentrifugasi lumpur, hanya putaran sentrifugasi lebih cepat.

i. Pengeringan minyak

Dalam proses pengeringan minyak, kadar air yang terkandung di dalam minyak diturunkan. Proses ini berlangsung dalkam teklanan -75cmhHg dan suhu 95oC

6. Pemisahan biji dengan Serabut (Depeicarping)

Ampas buah yang masih mengandung serabut dan biji diaduk dan dipananskan sampai keduanya terpisah. Selanjutnya dilakukan pemisahan secara pneumatic. Serabut selanjutnya di bawa ke boiler, sedangkan biji disalurkan ke dalam nit cleaning atau polishing drum . Tujuannya agar biji bersih dan seragam.

7. Pengerinagn dan pemisahan inti sawit

Setelah dipisahkan dari serabut, selanjutya biji dikeringkan dalam silo dengan suhu 56oC selama 12-16 jam. Kadar air biji diturunkan sampai 16%. Proses pengeringan menyebabkan inti sawit menyusut sehingga mudah untuk dipisahkan. Untuk memisahkan inti sawit dari tempurungnya digunakan alat hydrocyclone separator. Setelah terpisah dari tempurungnya inti sawit selanjutnya dicuci sampai bersih. Proses slanjutnya inti dikeringkan sehingga kadar airnya tinggal 7,5%. Proses pengeringan dilakukan dalam suhu di atas 90oC.

Standar Produksi

Standar produksi ini meliputi : klasifikasi dan standar mutu,, car pengujian, pengambilan sampel, dan cara pengemasan.

Standar mutu

Standar mutu kelapa sawit di Indonesia tercantum di dalam Standar Produksi SP N10 1975

Klasifikasi

Inti sawit digolongkan dalam satu jenis mutu dengan nama “ Sumatra Palm Kernel”. Adapun syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Kadar minyak minimum (%) : 48; cara pengujian SP-SMP-13-1975
2. Kadar air maksimum(%): 8,5 ; cara pengujian SP-SMP-7-1975
3. Kontaminasi maksimum(%): 4,0 ; cara pengujian SP-SMP-31-1975
4. Kadar inti pecah maksimum(%): 15 ; cara pengujian SP-SMP-31-1975

Produksi minyak kelapa sawit sebagai bahan pangan memilki dua aspek kualitas. Aspek pertama berhubungan dengan kadar dan kualitas asam lemak, kelembaban dan kadar kotoran. Aspek kedua berhubungan dengan rasa, aroma dan kejernihan serta kemurnian produk.

Kelapa sawit dengan mutu prima (SQ, Special Qualiti) seperti yang dihasilkan Malaiyia mengandung asam lemak (FFA:Free Fatty Acid) tidak lebih dari 2% pada saat pengapalan, kualitas standard minyak kelapa sawit mengandung tidak lebih 5% FFA.

Stelah pengolaha, kelapa sawit bermutu akan menghasilkan rendeman minyak 22,1-22,2%(tertinggi) dan kadar asam lemak bebas 1,2-1,7% (terendah).

Pengambilan contoh

Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan maksimum 30 karung tiap partai barang, kemudian tiap karung diambil contoh maksimum 1 Kg. contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur dan dari campuran tersebut di ambil 1 kg untuk dianalisa.

Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang telah berpengalaman dan dilatih terlabih dahulu dan mempunyai ikatan dengan suatu badan hukum.

Pengemasan

a) Cara pengemasan : inti kelapa sawit dikemas dalam karung goni kuat, bersih, kering dan kuat dengan berat bersih 50-80kg dan dijahit menyilang pada ujung karungnya atau dikapal kan secara “bulk”.

b) Pemberian merek: nama barang jenis mutu, identitas penjual, produce of Indonesia, berat bersih, nomor karung, identitas pembeli, pelabuhan/negara tujuan.

pertanian indonesia


Pertanian Moden

Apabila disebut tentang pertanian, sudah tentu ramai yang menyangka perlu bercucuk tanam di tengah panas terik sambil memegang cangkul. Jika anda berfikiran begitu, mungkin anda sudah ketinggalan 20 tahun ke belakang.

Skop pertanian kini sungguh meluas sekali dan semakin popular. Ini terbukti apabila semakin banyak kisah-kisah kejayaan usahawantani yang telah mendapat pulangan lumayan hasil dari bidang usaha ini. Dari hari ke hari semakin ramai individu yang berminat untuk menceburi dan menerokai ke dalam bidang pertanian ini. Banyak peluang-peluang pelaburan yang muncul sejak kerajaan ingin menaikkan bidang pertanian sebagai salah satu enjin menjana ekonomi negara. Ramai yang menyedari keuntungan yang lumayan bakal diperolehi sekiranya melakukannya secara serius.

Namun masih ada segolongan lagi yang masih tercari-cari dan tertanya-tanya apa yang perlu dibuat sekiranya mempunyai tanah yang tidak dimanfaatkan sebelum ini. Ramai yang tidak tahu bagaimana untuk memulakannya. Dengan siapa perlu berjumpa? Siapa pula yang boleh membimbing? Apa perkara pertama yang perlu dilakukan? Bila sudah tahu bidang yang perlu diceburi, modal pula tidak mencukupi. Jadi, terpaksalah buat pinjaman bank. Bukan mudah untuk mendapat pinjaman bank. Banyak kriteria yang perlu anda tahu.

Bagaimana pula dengan Rancangan Perniagaan? Sudah cukup baguskah untuk buat anda berjaya? Bukan mudah nak dapat pinjaman kalau tiada Rancangan Perniagaan yang betul-betul dapat meyakinkan pemberi pinjaman. Bila dah berjaya dapat pinjaman, bagaimana pula nak mulakannya. Hendak menanam mungkin mudah pada yang sudah biasa tetapi bagaimana pula hendak memasarkannya. Jika tiada pemasaran, maka tiadalah keuntungannya. Jadi, sia-sia sahaja pelaburan anda jika anda tidak tahu selok belok bidang pertanian ini. Ia akan menjadi mudah sekiranya anda tahu caranya. Bagi yang mungkin sudah menceburi bidang usahawantani ini tetapi sering menghadapi masalah, anda mungkin tidak tahu ke mana tempat harus dituju. Macam-macam persoalan di dalam minda sebenarnya..


I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Era globalisasi yang ditandai dengan ditanda-tanganinya perjanjian GATT oleh berbagai negara termasuk Indonesia membawa dampak besar terhadap sistem perdagangan dunia yang mengandalkan tingkat persaingan yang tinggi serta menekankan pada masalah mutu. Dalam hubungan ini, tantangan aspek mutu di sektor pertanian perlu diikuti dengan memantapkan standardisasi pada semua lini kegiatan pertanian, sesuai dengan dinamika pasar di tingkat internasional.
Perjanjian GATT dalam WTO khususnya komisi Sanitary and Phytosanitary (SPS) yang sangat erat kaitannya dengan ketentuan­ketentuan standar, ketentuan perkarantinaan dan keamanan pangan. Dalam penerapannya harus memenuhi ketentuan yang telah disepakati yaitu: transparan, “fair” dan tidak diskriminatif, resiprokal serta dilandasi dengan kajian ilmiah bagi seluruh anggota. Ini berarti dalam pelaksanaan perjanjian tersebut semua negara yang telah sepakat dengan perjanjian WTO tidak diperkenankan menerapkan standar ganda atau peraturan yang berbeda terhadap komoditas impor maupun lokal (Saragih, 2000). Tantangan utama dari program peningkatan produktivitas dan produksi padi adalah bagaimana membuat agar usahatani padi lebih efisien sehingga memiliki daya saing dan layak sebagai sumber pendapatan yang berkelanjutan. Dalam dasawarsa terakhir ini usahatani padi menghadapi kondisi yang masih belum memenuhi harapan semua pihak. Kita harus mengupayakan agar produksi padi domestik memiliki daya saing, yang dicirikan oleh tingkat efisiensi produksi dan mutu yang tinggi. Usaha peningkatannya harus melibatkan semua pelaku sistem dan usaha agribisnis berbasis komoditas padi (Saragih, 2001).
Pembangunan pertanian senantiasa memerlukan informasi ilmu dan teknologi yang terus berkembang dengan tujuan untuk mewujudkan pertanian modern yang maju, efisien, dan tangguh serta berorientasi pada pasar dan dilaksanakan secara profesional, menguntungkan, dan memiliki kemandirian. Peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman pangan, secara nasional merupakan pilar yang penting dan sangat menentukan terhadap ketahanan sosial, ekonomi, dan politik.
Usaha peningkatan produksi beras terus diupayakan sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola pangan dari non beras ke beras dan penyusutan areal pertanian akibat pemukiman dan penggunaan lain. Hasil penelitian sosial ekonomi Departemen Pertanian tahun 2000 diperoleh bahwa jika pola konsumsi pangan nasional serta produksi tetap, maka Indonesia akan mengimpor beras sebanyak 8 juta ton. Jumlah tersebut termasuk jumlah ambang psikologis yang harus diwaspadai agar tidak menimbulkan keresahan yang dapat mengancam ketahanan di bidang sosial, politik dan ekonomi.
Keberhasilan swasembada beras pada tahun 1984 tidak terlepas dari peranan pupuk sebagai salah satu paket dalam program intensifikasi. Oleh karena itu, penggunaan pupuk yang efisien merupakan salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi pupuk buatan tanpa menurunkan produksi (Ismunadji dan Zulkamain, 1973). Penggunaan varietas unggul padi pada paket program intensifikasi adalah responsif terhadap pemupukan sehingga menyebabkan penggunaan pupuk anorganik semakin meningkat dan sebaliknya penggunaan pupuk organik semakin berkurang kalau tidak dikatakan tidak sama sekali. Apabila keadaan ini berlangsung terus tanpa mempertimbangkan manfaat pupuk organik, maka akan merusak sifat fisik tanah yang pada akhirnya akan menyebabkan produktivitas tanah menurun (Karama, 1990) sehingga akan sulit tercapai pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture) yang lambat laun akan tercipta lahan-lahan marginal baru.
Luas panen padi sawah Sulawesi Selatan pada tahun 1998 adalah 848.268 ha (Deptan, 1999). Dengan asumsi bahwa dalam berusahatani padi sawah rata rata dosis pupuk yang digunakan adalah 120 kg N yang setara dengan kurang lebih 250 kg urea ha-1 sekarang di tingkat petani sudah digunakan dosis 300 kg urea ha-1 sehingga dengan luasan tersebut dibutuhkan pupuk urea sebanyak 212.067 ton. Diandaikan harga pupuk urea per kilogramnya Rp.1000 (harga sekarang Rp.1.150), maka untuk mendatangkan pupuk urea sebanyak itu diperlukan dana sebesar Rp. 212 milyar. Namun dengan melakukan efisiensi penggunaan pupuk urea/nitrogen misalnya dengan penggunaan pupuk organik dan pupuk hayati akan menghemat pemakaian pupuk anorganik (urea) sebesar 25 50 % yang tentunya akan menghemat keuangan daerah kurang lebih Rp. 5,25 10,5 milyar setiap tahun dari sektor tanaman padi sawah saja. Efisiensi pemberian hara bertujuan untuk me-ningkatkan produksi tanaman ditinjau dari segi agronomi, ekonomi, dan lingkungan. Dari segi ekonomi, efisiensi penggunaan nitrogen diartikan sebagai total nitrogen yang digunakan atau biaya yang dapat dikembalikan akibat pemupukan dengan demikian akan menghemat energi dan kerusakan terhadap lingkungan dapat dikurangi.
Memburuknya sifat fisika tanah pada akhirnya akan menurunkan produktivitas lahan. Salah satu cara untuk memperbaiki atau mempertahankan sifat fisika dan kimia tanah adalah dengan pemberian bahan organik ke dalam tanah, karena perbaikan sifat fisika dan kimia tanah akan meningkatkan ketahanan tanah terhadap bahaya erosi dan menjadikan lingkungan yang kondusif baik bagi pertumbuhan tanaman. Pupuk organik dengan sendirinya merupakan keluaran setiap budidaya pertanian sehingga merupakan sumber hara makro dan mikro yang dapat dikatakan cuma-cuma (Sutanto, 2002). Selanjutnya dikatakan bahwa pupuk organik berdaya ameliorasi ganda dengan bermacam-macam proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus mengkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta menghindarkan kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Walaupun kandungan hara dalam pupuk organik relatif rendah dibandingkan dengan pupuk mineral, akan tetapi pupuk organik memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki pupuk mineral di antaranya dapat memperbaiki sifat sifat fisik tanah (memperbaiki struktur tanah, porositas, permeabilitas, meningkatkan ke-mampuan untuk menahan air, dan lain lain), sifat kimia (meningkatkan kemampuan tanah untuk menjerap kation, sebagai sumber hara makro dan mikro, dan pada tanah masam dapat menaikkan pH dan menekan kelarutan Al dengan membentuk kompleks Al organik) dan sifat biologi tanah (meningkatkan aktivitas mikroba tanah dan sebagai sumber energi bagi bakteri penambat N dan pelarut fosfat, dan lain lain). Bohn dkk. (1985) mengemuka-kan bahwa penambahan bahan organik ke dalam tanah menyebabkan terbentuknya pori mikro dengan agregat agregat tanah yang lebih besar. Hasil percobaan Sutanto dan Utami (1995) di tanah kritis dengan memanfaatkan beberapa jenis kompos untuk tanaman kacang tanah dan jagung ternyata memperoleh hasil yang lebih baik daripada menggunakan pupuk kimia sesuai dengan dosis anjuran. Menurut Alwi dan Nazemi (2000) pemberian brangkasan kedelai dapat menekan kebutuhan pupuk urea untuk tanaman kedelai dan jagung. Selanjutnya oleh Fauziati, Saragih dan Noorjanah (2000) penambahan bahan organik berupa kotoran sapi, kotoran ayam atau Crotolaria sp. dapat mengurangi pemberian urea pada pertanaman jagung dan memperbaiki sifat kimia tanah. Pemberian bahan organik dapat meningkatkan hasil jagung 17-50 %, padi gogo 20-80 %, kedelai 25-50%, dan kacang tanah 6-34 %.
Dari berbagai penelitian ditemukan bahwa banyak tanah tanah marginal mem-punyai potensi besar untuk meningkatkan produksi tanaman pangan dan hortikultura dengan pemberian pupuk organik. Selain berfungsi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil, pemberian pupuk organik juga bertujuan untuk memperbaiki dan memper-tahankan tingkat kesuburan tanah. Efektivitas penggunaan pupuk organik pada lingkup lebih luas telah dilaporkan oleh Gaur (1979), bahwa terjadi peningkatan gabah dan jerami padi sebanyak 41, % dan 26, % dari penggunaan pupuk organik. Keuntungan pemakaian pupuk organik antara lain :(1) mempertahankan tingkat kesuburan tanah dan produktivitas lahan secara berkesinambungan (sustainable agriculture), (2) memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, (3) sebagai sumber unsur hara terutama hara mikro, (4) mening-katkan aktivitas mikroba yang mampu menambat N udara (Azotobacter sp.), bakteri pelarut fosfat, (5) mengurangi atau menekan pemakaian pupuk buatan yang berdampak negatif terhadap lingkungan (eutrofikasi). Penggunaan pupuk organik bertujuan agar produktivitas lahan dapat ditingkatkan atau paling tidak mengalami degradasi sehingga lahan usahatani lebih terlanjutkan dengan tingkat produktivitas yang relatif stabil. Bahan organik yang dapat digunakan banyak macamnya, antara lain pupuk hijau, pupuk kandang dan kompos atau kompos hasil fermentasi/bokashi dan bekas cacing (kascing) (Syam’un, 2001).
Bahan organik merupakan bahan yang penting dalam meningkatkan kesuburan tanah karena fungsinya yang vital dalam meningkatkan daya pegang air, meningkatkan daya sangga terhadap unsur yang dapat meracuni tanaman serta meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik (Prayudi, 2000). Selanjutnya dikatakan bahwa kandungan bahan organik tanah dapat ditingkatkan melalui pemberian bahan di antaranya dari kompos. Limbah pertanian baik yang berupa jerami, brangkasan palawija, serta biomasa gulma sepeti alang-alang dan eceng gondok merupakan limbah yang baik untuk dijadikan pupuk organik (kompos).
Sistem pertanian yang dikembangkan di Indonesia selama kurang lebih tiga dekade telah memberikan kontribusi yang besar bagi pemenuhan pangan dan peningkatan kualitas hidup secara nasional. Hal ini terlihat dengan dicapainya swasembada pangan pada tahun 1984. Namun status ini tidak dapat dipertahankan lagi, hal ini terlihat bahwa beberapa tahun terakhir ini Indonesia mengimpor beras dalam jumlah besar (3 juta ton pada tahun 1998). Oleh karena itu sistem pertanian yang telah di tempuh selama ini perlu dievaluasi karena diketahui dapat mengakibatkan kemunduran kualitas lingkungan dan sumber daya yang tak dapat diperbaharui. Sehingga menjadi sangat mendesak untuk merekayasa dan mengembangkan sistem pertanian yang berkelanjutan serta ramah terhadap lingkungan. Salah satu upaya untuk menunjang terwujudnya sistem pertanian yang berkelanjutan serta ramah lingkungan dimaksud ialah pemberian bahan organik dengan memanfaatkan limbah pertanian yang berupa jerami padi, brangkasan palawija, dan sisa-sisa tanaman lainnya. Salah satu sumber bahan organik (kompos) yang mudah diperoleh dalam budidaya tanaman pangan adalah limbah pertanian dalam bentuk jerami padi, brangkasan palawija, dan biomassa gulma yang selama ini hanya dibakar dan belum digunakan sebagai sumber pupuk organik yang potensial. Pemberian bahan organik (kompos) bermutu yang dibuat dengan menggunakan bioaktivator (bakteri) ke dalam tanah mem-berikan dua keuntungan yaitu meningkatkan kesuburan tanah (fisik, kimia dan biologi tanah) serta meningkatkan populasi mikroba antagonis yang mampu menekan perkembangan patogen tanaman yang bersifat soil born. Pengendalian hayati tersebut untuk penyakit tanaman sampai saat ini diyakini tidak menimbulkan dampak yang merugikan bagi suatu agro-ekosistem sehingga cara tersebut cukup ramah lingkungan.
Kompos dapat diartikan sebagai hasil perombakan bahan organik dalam kondisi terkendali, dan produk akhirnya cukup stabil dalam penyimpanan, serta aplikasi pada lahan tidak menimbulkan dampak yang merusak lingkungan. Kompos yang baik tidak saja memperkaya unsur hara dalam tanah. tapi juga memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Di sekitar kita banyak sekali bahan organik potensial yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik namun belum digarap secara optimal di antaranya limbah dari kulit buah kakao, tongkol jagung, tandan kosong kelapa sawit, eceng gondok, limbah serat tebu, limbah serat sagu, jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, daun singkong dari industri tapioka, limbah rumah tangga, limbah pasar yang kesemuanya dapat diolah menjadi pupuk organik (kompos) yang kualitasnya tidak kalah dengan yang dihasilkan oleh produsen pupuk organik di Pulau Jawa. Kakao merupakan komoditi perkebunan terbesar yang dihasilkan provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah produksi pada tahun 2000 sebanyak 210.357 ton dan untuk daerah kabupaten Polewali dihasilkan kakao sebanyak 25.130 ton (BPS, 2000). Menurut Harjadi dan Mardjosuwito dalam Mide (2001) komposisi buah kakao terdiri dari 74 % merupakan kulit buah, 2 % plasenta, dan 24 % biji. Sedangkan menurut Mide dan Fattah dalam Mide (2001) bahwa 75 % dari bahan kering dari keseluruhan buah kakao merupakan kulit buah dan kulit biji 10 % atau kurang lebih 2,4 % dari seluruh buah. Oleh karena itu untuk menghasilkan kakao sebanyak 26.130 ton untuk tingkat kabupaten Polewali juga akan meng-hasilkan kulit kakao yang merupakan limbah kulit sebanyak 19336 ton. Kulit yang diolah menjadi pupuk organik (setelah pengomposan) akan mengalami penyusutan sebesar 70 %. Dengan demikian dari kulit buah kakao yang dihasilkan kabupaten Polewali jika diolah dengan menggunakan bioaktivator akan diperoleh pupuk organik sebanyak 5800 ton. Andai setiap kilonya bernilai Rp. 500 (sekarang di pasar harga pupuk organik Rp 1000-1500) maka akan diperoleh dana sebesar Rp. 2.900.000.000 (2,9 milyar). Jumlah tersebut selama ini tidak dimanfaatkan baik sebagai sumber mata pencarian , pupuk alternatif maupun sebagai bidang usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja di tingkat pedesaan. Pupuk organik yang berasal dari kulit kakao memiliki kandungan hara sebagai berikut N-total (%) 1.3, C-org (%) 33,71, C/N 26, P2O5 (%) 0.186, K2O (%) 5.5, CaO (%) 0.23, MgO (%) 0,59 (Indiani, 2000).

B. Perumusan Masalah

Kebutuhan pangan semakin dewasa ini semakin sulit terpenuhi, upaya pelestarian swasembada beras cukup memprihatinkan, hal itu disebabkan karena peningkatan produksi padi yang sudah melandai (levelling off), pesatnya konversi lahan ke lahan non pertanian, serta tingkat kesuburan tanah yang rendah terutama di luar Jawa. Selain itu, menurut Khudori (2001) penggunaan pupuk anorganik dan pestisida telah merusak tanah dan lingkungan sehingga makin menyulitkan meningkatkan produksi. Akibat pemakaian pupuk anorganik terus menerus dan dosisnya selalu ditingkatkan menyebabkan tanah mengalami degradasi sehingga pemupukan relatif tidak bisa lagi menaikkan hasil.
Penggunaan pupuk yang efisien termasuk pemanfaatan pupuk organik merupakan salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi pupuk buatan tanpa menurunkan produksi. Selain karena harga pupuk cenderung tidak terjangkau petani akibat dicabutnya subsidi oleh pemerintah juga ketersediaannya sering menjadi langka pada saat musim tanam padi sehingga banyak petani yang terpaksa tidak melakukan pemupukan akibatnya produksi padi sangat rendah.
Beras merupakan makanan pokok penduduk Indonesia dengan tingkat konsumsi 133 kg kapita 1 tahun 1 (BPS, 2000) sehingga dirasa perlu mencari teknologi yang dapat meningkatkan hasil padi tanpa penggunaan pupuk sintetik yang tidak rasional dan tanpa merusak sumberdaya alam secara berlebihan sehingga akan tercipta suatu pertanian yang tangguh dan berkelanjutan (sustainable agriculture), berdaya saing tinggi dan yang tidak kalah pentingnya adalah ancaman krisis pangan dapat diatasi. Selain itu, penggunaan pupuk kimia diketahui juga menimbulkan dampak negatif terhadap tanah dan air. Tanah mengalami degradasi kesuburan fisik, kimia maupun biologis sebagai akibat tergesernya peranan pupuk organik yang menyebabkan tanah semakin rakus terhadap pupuk kimia (Taslim et al, 1989; Safley, 1990; Miller and Larson, 1990). Di samping itu pencemaran air oleh nitrat yang bersumber dari pupuk urea telah banyak dilaporkan (Clancy, 1990).
Olehnya itu, diperlukan kajian upaya pengembangan dalam rangka peningkatan daya saing produk unggulan, yaitu penelitian uji adaptasi beberapa varietas padi pada lahan-lahan yang menggunakan pupuk organik
Berdasarkan rumusan masalah tersebut dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Kemajuan teknologi pangan selain berdampak bagi peningkatan produksi secara berlipat ganda, juga potensial memberi pengaruh buruk berupa terjadinya kontaminasi bahan akibat pemupukan an-organik dan penggunaan pestisida yang berlebihan yang selanjutnya dapat mengangganggu kesehatan manusia.
2. Kecenderungan meningkatnya harga bahan pupuk anorganik, disisi lain bahan baku pupuk organik banyak tersedia sehingga pupuk organik menjadi alternatif pilihan bagi petani.

C. Tujuan
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk :
1. Mengidentifikasi jenis varietas padi yang mempunyai adaptasi tinggi terhadap lahan yang menggunakan pupuk organik.
2. Mengetahui kondisi lahan sebelum dan sesudah pemberian pupuk organik serta tingkat produksi dan produktifitas padi yang dihasilkan.
3. Mengkaji beberapa varietas dan jenis pupuk organik yang dapat dikembangkan untuk menunjang peningkatan produktivitas padi melalui sistem budidaya organik di Sulwesi Selatan

D. Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai suatu model sistem budidaya padi secara organik dan menguntungkan bagi masyarakat umum. Sekaligus memperoleh hasil berupa data dan informasi ilmiah yang akurat dan relevan untuk pengembangan dan kemajuan pembangunan sektor pertanian dalam konteks penerapan potensi komoditas padi unggulan yang mempunyai daya saing tangguh dan berkelanjutan.

E. Rancangan Kebijakan
Hasil penelitian ini akan berupa sajian data dan informasi penting tentang tipe varietas padi, jenis pupuk organik yang cocok dan kesesuaian tipologi lahan yang cocok untuk pengembangan padi melalui sistem budidaya organik. Hasil dapat menjadi bahan acuan dalam penyusunan, perencanaan dan rekomnedasi rancangan kebijakan pemerintah dalam rangka pembangunan pertanian dan pengembangan tanaman padi di Sulawesi Selatan yang berdaya saing tinggi dan berwawasan lingkungan secara berkelanjutan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
Beras merupakan kebutuhan pokok sebagian besar penduduk dunia, khususnya di negara Asia dan negara berkembang lainnya. Dalam rangka memenuhi kebutuhan makanan pokok penduduk dunia yang terus bertambah, total produksi beras nasional perlu terus ditingkatkan.
Di Indonesia, kekurangan produksi beras tetap merupakan masalah yang masih dihadapi. Berbagai upaya perlu terus dilakukan untuk meningkatkan produksi beras nasional, karena konsumsi dan kebutuhan dalam negeri terus meningkat.
Pemuliaan padi di Indonesia telah berlangsung cukup lama, dan sejak tahun 1940 telah cukup banyak varietas unggul yang dihasilkan (Tabel 1). Dihasilkannya varietas unggul yang merupakan varietas unggul dengan ‘arsitektur revolusi hijau’ tersebut selama beberapa puluh tahun sejak periode 1960-an telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam peningkatan produksi beras nasional.
Tabel 1. Jumlah Varietas di Lepas Sejak Tahun 1940
Periode Jumlah Varietas Umur panen Potensi Produksi (ton/ha)

1940 – 1960
1960 – 1965
1966 – 1970
1971 – 1975
1976 – 1980
1981 – 1985
1986 – 1990
1991 – 1995
1996 – 2000
2000 – 2004
13
6
4
7
19
34
23
17
27
51
t.a.d
145 – 160
125 – 140
120 – 140
115 – 145
105 – 135
100 – 135
90 – 120
110 – 120
100 – 120
t. a.d
2.5 – 4.5
4.5 – 5.5
3.0 – 7.0
3.0 – 7.0
4.0 – 6.0
4.0 – 7.0
5.0 – 5.6
4.0 – 8.0
3.5 – 8.0
Total 201

Perkembangan penigkatan produktivitas lahan sawah (ton/ha) di Indonesia telah cukup berarti dalam kurun periode beberapa puluh tahun tersebut (Tabel 2).

Tabel 2. Perkembangan Tingkat Produktivitas Rata-rata Padi Sawah di Indonesia periode 1970 – 2000.

Peningkatan
rata-rata produktivitas
(ton/ha) Tahun Lamanya dicapai
(tahun)

2.5 – 3.0
3.0 – 3.5
3.5 – 4.0
4.0 – 4.5
4.5 – 5.0

1970 – 1976
1976 – 1980
1980 – 1982
1982 – 1989
1989 – ?

6
4
2
7
?

Propinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu produsen utama padi nasional. Sampai saat ini, petani padi umumnya menggunakan varietas-varietas unggul hasil pemuliaan generasi ‘Revolusi Hijau’ dengan arsitektur tanaman yang kita kenal seperti di atas dengan istilah ‘varietas unggul arsitektur revolusi hijau’ seperti IR64, Ciherang, dan sejenisnya. Kita sudah mengenal varietas tipe revolusi hijau ini dengan ciri-cirinya berupa tanaman pendek, tegak, anakan banyak, dst. Potensi hasil varietas ini sudah umum pula diketahui, yaitu berkisar 4 – 7 ton/ha. Dengan penggunaan varietas unggul ‘tipe revolusi hijau’ ini, sampai saat ini telah dicapai rata-rata produksi nasional sekitar 4.5 ton/ha. Di beberapa daerah rata-rata produksi petani dapat mencapai 5 – 7 ton/ ha, sementara di daerah lain hanya berkisar 3 – 5 ton/ha.
Tingkat produktivitas (produksi/ha) padi sawah dengan arsitektur (ideotype) revolusi hijau tersebut telah melandai, artinya teknologi budidaya apapun yang diberikan, karena potensi genetik produksi varietasnya sudah jenuh, peningkatan produksi/ha lebih lanjut sangat sulit dicapai dicapai. Hal ini telah disadari oleh para peneliti padi di dunia, termasuk pula di Indonesia.
Untuk meningkatkan kembali produktivitas (tingkat produksi /ha) yang sudah melandai, diperlukan varietas unggul berdaya hasil super tinggi, melebihi daya hasil varietas yang sudah ada tersebut. Dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh para ahli di dunia, kini diyakini, bahwa kebuntuan pelandaian produksi tersebut dapat didobrak kembali dengan pengembangan apa yang disebut dua strategi yaitu : (1) Padi Tipe Baru (PTB), dan (2) Padi Hibrida.
Pemanfaatan padi hibrida sangat menjanjikan, namun karena sifat teknologinya sedemikian rupa, setiap kali tanam petani harus membeli benih dengan harga yang tinggi. Saat ini, kelembagaan kita dan permodalan petani menghadapi kendala untuk dapat mengadopsi teknologi tersebut. PTB lebih memberi harapan karena sifat teknologi genetiknya tidak berbeda dengan varietas yang sudah biasa ditanam petani, tetapi dengan potensi produksi yang super unggul.
Ideotype (arsitektur) PTB dirancang oleh peneliti IRRI tahun 1988. Ciri utama dari arsitektur PTB adalah jumlah anakan lebih sedikit yaitu 8-10 tetapi semua produktif, perakaran dalam, batang kuat, malai lebat (jumlah gabah bernas 200 – 250/malai, daun tegak, tebal dan berwarna hijau tua, umur 100 – 130 hari, tahan terhadp hama penyakit utama. Yuan (1999) menyatakan bahwa ideotype (arsitektur) PTB tersebut merupakan gabugan antara sifat padi Indica dengan Javanica (Indo-Japonica atau tropical Japonica). Dengan sifat morfologi seperti tersebut di atas, PTB mempunyai potensi produksi 30-50% lebih tinggi dari varietas unggul tipe arsitektur revolusi hijau yang saat ini ditanam petani (Fagi et al., 2002 ; Peng and Cassman, 1994). PTB mempunyai potensi produksi diatas 8 ton/ha, bahkan dapat mencapai 9.5 – 11 ton/ha (Chen et al., 2001 ; Bardhan, 2001 ; Horie, 2001).
Di China, PTB pertama yang dihasilkan, Sennong 265, mulai ditanam tahun 1997 dapat mencapai produksi 11 – 11.8 ton gabah kering giling per ha. PTB lainnya, Shennong 606 ditanam tahun 1999 mampu mencapai produksi 12.2 ton / ha (Chen et al., 2001). Di Jepang, varietas PTB Takanari dan Milyang 23 mampu berproduksi rata-rata 10 ton/ha (Horie, 2001). Beberapa PTB yang dikembangkan oleh IRRI seperti IR 6546-161-2-2-3-22 mampu berproduksi 12.4 ton per hektar di Yunnan, China. PTB lainnya, Amaroco dan Echuca mampu mencapai produksi 13.4 dan 14.3 ton per hektar di Yanco, Australia (Nishio et al., 2000).
Pengembangan PTB di Indonesia baru dimulai tahun 1996 oleh Balai Penelitian Tanaman Padi, Badan Litbang Departemen Pertanian. Pada akhir tahun 2003 / awal 2004 dilepas varietas PTB pertama Indonesia, yaitu varietas Fatmawati. Varietas PTB ini memiliki potensi produksi mencapai di atas 8 ton per ha. Walaupun mempunyai potensi produksi super tinggi, varietas Fatmawati memiliki beberapa kelemahan, yaitu : (1) kehampaan gabah sangat tinggi yang dapat mencapai 30%, (2) gabah sulit di rontok, dan (3) kualitas beras kurang baik. Karena kekurangan-kekurangan tersebut, Fatmawati sampai saat ini kurang mendapat sambutan yang baik dari petani.
Kompos
Kompos yang baik tidak saja memperkaya unsur hara dalam tanah juga mem-perbaiki sifat fisik, kimia dan biologi. Kualitas kompos yang ideal adalah sebagai berikut: (a). Fisik kompos: berwarna coklat sampai kehitaman tidak berbau menyengat (busuk) berstruktur remah), (b). kimiawi kompos mengandung bara N, P, K dan hara lainnya dengan nisbah C/N berkisar 8 20, dan (c) kompos tidak merupakan sumber bibit penyakit bagi tanaman dan lingkungan. Teknik pembuatan kompos dapat dibedakan dalam 2 (dua) kelompok yaitu perombakan secara aerob dan anaerob. Pengomposan secara aerob merupakan suatu proses penguraian bahan organik yang memerlukan udara (oksigen). Sebaliknya pengomposan secara anaerob merupakan proses dekomposisi bahan organik tanpa kehadiran oksigen (udara). Proses pengomposan secara aerob lebih banyak dilakukan karena mempunyai beberapa keuntungan.antara lain; proses pengomposan berjalan lebih cepat, tem-peratur yang relatif tinggi akan membunuh organik patogen yang merugikan bagi tanaman dan tidak menimbulkan bau busuk sepanjang kondisi aerob dapat diper-tahankan. Bahan bahan yang digunakan untuk kompos bisa bermacam macam, antara lain sisa sisa tanaman/sayuran, serbuk gergaji, kotoran hewan, .sampah kota dan rumah tangga, brangkasan kedelai, tongkol jagung dan jerami padi.
Proses pembuatan kompos dapat dipercepat sehingga menghasilkan kompos berkualitas yang diharapkan mempunyai fungsi fisika, kimia, dan biologi yang cukup baik, Proses pengomposan bisa berlangsung cepat atau lambat, tergantung pada (1) kondisi bahan organik, (2) mikro organisme yang ada, (3) kelembaban, (4) suhu, (5) pH,. dan (6) lingkungan. Effective Microorganism (EM4) yang diperkenal-kan oleh Teruo (1993) merupakan suatu inokulan yang mengandung 90 persen Lactobacilius sp. dan mikroorganisme yang lain termasuk jamur. Sebagai inokulan EM4 dapat melakukan fermentasi dan mengaktifkan mikroorganisme yang sudah ada sehingga pengomposan berlangsung lebih baik dan cepat. Waktu yang diper1u-kan untuk pembuatan kompos siap pakai hanya 6 hari saja (Subowo dkk., 1990).
Bahan organik dapat juga memperbaiki daya olah tanah berstruktur kompak karena bahan organik dapat mengurangi daya ikat antar partikel tanah. (Soeprapto Sumadi dkk.,1989).
Bahan organik penting sebagai gudang penyimpan dan pengatur pelepasan unsur hara dalam tanah. Umumnya bahan organik bermuatan negatif sehingga mem-punyai kapasitas adsorbsi 250 mg sampai 450 mg per 100 g bahan. Selain itu, bahan organik dapat bertindak sebagai penyangga di dalam larutan tanah.
Bahan organik tanah merupakan energi utama sebagian mikroorganisme tanah, terutama golongan dekomposer. Perombakan pupuk hijau oleh mikroba tanah akan menghasilkan senyawa-senyawa seperti karbohidrat, protein, asam amino, dan berbagai asam organik yang merupakan sumber energi mikroba. Bahan organik, selain merupakan sumber energi mikroba, juga mengeluarkan zat spesifik seperti kuinon atau benzokuinon yang dapat meningkatkan kapasitas adsorbsi dan perpanjangan akar tanaman. Bahkan, hasil dekomposisi bahan organik ternyata dapat mengurangi pe-nyakit akar. Di samping itu, bahan organik juga merupakan sumber N dan C bagi mikroba tanah, terutama golongan kemoheterotrof (Joedoro Soedarsono, 1982). Tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi berkorelasi positif dengan jumlah dan aktivitas mikroba tanah. Tanah lapisan atas biasanya mempunyai jumlah mikroorganisme tanah yang lebih banyak dibandingkan dengan lapisan tanah bawah yang kurang mengandung bahan organik.
Ada beberapa golongan mikroba perombak selulose dari pupuk hijau, yaitu bakteri, jamur, dan Actinomycetes. Kelompok bakteri meliputi Bacillus, Cellulomonas, Clostridium, Cytophage, Sporocytophage, dan Vibrio. Golongan jamur meliputi Alternaria, Aspergillus, Fomes, Penicillium, Polyporus, Rhizoctonia, Trichoderma, Verticillium, dan Zygorhinchus. Golongan Actinomycetes meliputi Macromonospora, Nocardia, Streptomyces, Strepto- sporangium (Joedoro Soedarsono, 1982).

B. Kerangka Pemikiran
C. Definisi Operasional dan Konseptual Variabel
D. Hipotesis
Hipotesis yang dapat diduga adalah :
1. Terdapat satu varietas padi yang dapat berproduksi baik pada lahan yang menggunakan pupuk organik
2. Terdapat jenis pupuk organik yang mampu memacu pertumbuhan dan produksi padi.

III. Metode Penelitian
A. Lokasi dan Waktu
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di dua daerah yang berbeda tipologi lahan yakni Kabupaten Sidrap sebagai daerah sentra produksi padi dan di Kabupaten Gowa sebagai daerah pengembangan padi di Sulawesi Selatan. Penelitian ini akan berlangsung pada bulan Juni sampai November 2007
B. Materi Penelitian
Bahan-bahan yang dipergunakan adalah benih padi sebanyak 5 varietas padi yang dikembangkan di Sulawesi Selatan, pupuk organik dari limbah pertanian yang banyak tersedia di lapangan, dan pupuk kandang sebagai sumber bahan organik. Selain itu, juga digunakan sarana produksi penunjang lain, seperti bahan-bahan uji pelengkap analisa kajian yang diperlukan.

C. Metode Penelitian
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Petak Terpisah (Split Plot Design), dimana : Faktor A (varietas) sebagai Petak Utama, terdiri atas V1, V2, V3, V4, dan V5, dan faktor B (pupuk organik) sebagai Anak Petak, terdiri atas P0, P1, dan P2,. Setiap perlakuan akan ditempatkan pada masing-masing 3 ulangan. Data hasil pengamatan akan dianalisis dengan melakukan uji lanjutan yang sesuai.

I. Parameter/Indikator
Parameter peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah : tinggi tanaman (cm), jumlah anakan dan total anakan produktif, umur berbunga dan umur panen, jumlah malai, jumlah gabah total permalai, jumlah gabah bernas permalai, presentase gabah hampa permalai, berat 1000 butir, serta produksi dan produktivitasnya berdasarkan ubinan.
Dari pengamatan ini, diharapkan diperoleh target dan indikator keberhasilan dari penelitian yang diusulkan yakni dihasilkan tipe varietas padi yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap jenis pupuk organik di berbagai tipologi lahan di Sulawesi Selatan, dengan potensi produksi super tinggi diatas 8 atau 9 ton/ha.

IV. PROSEDUR PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Jadwal Kegiatan
B. Organisasi Pelaksana
C. Rincian Anggaran

V. DAFTAR PUSTAKA
Bardhan R.S.K. 2001. Increasing yield in irrigated Boro rice through indica x japonica
improved lines in West Bengal India. Dalam S. Peng and B Hardy (eds.), Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation. IRRI, Los Banos, Philipines.

BPS, 2000. Statistik Indonesia. Biro Pusat Statistika Jakarta.
Chen W., X. Zenyin, Z. Longbu, and Y. Shouren. 2001. Development of the new plant
type rice and advances in research on breeding for super high yield. Dalam S. Peng and B
Hardy (eds.), Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation. IRRI, Los
Banos, Philipines.

Deptan. 1999. Profil Pertanian Indonesia. Departemen Pertanian, Jakarta.
Gardner, P.F., R.B. Pearce, and L. Mitchell. 1985. Physiology of crop Plants. Iowa State University Press. Ames.
Horie T. 2001. Increasing yield potential in irrigated rice: breaking the yield barrier. Dalam
S. Peng and B Hardy (eds.), Rice Research for Food Security and Poverty Alleviation. IRRI, Los Banos, Philipines.
Nishio T., T. Matsura, T. Takai, and T. Horie. 2000. Identification and evaluation of major
traits determining yield potential of rice under field conditions; Genotypic differences in the grain filling and associated plant factors. Japan J. Crop Sci. 69 : 34 – 35.

Peng S.G. dan K.G. Cassman. 1994. Evaluation of the new plant ideotype for increase yield
potential. Dalam K.G. Cassman (ed.) Breaking the Yield Barrier. P 5 – 20. IRRI, Los
Banos, Philippines.

Londong, P. 2000. Pengaruh Pemupukan hara Ca dan P terhadap produksi bahan kering dan nitrogen oleh Azolla pinnata. Kalimantan Agrikultura Vol. 7 (3), p.127-131.
Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Taslim, H., dan W. Y. Prastowo. 1987. Produksi biomas Azolla microphilla Pada tanah Sukamandi. Media Penelitian, No.4, Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi, p: 5 8.
Yoshida, S. 1982. Fundamentals of rice . Crop Science. IRRI, Los Banos,

penyakit penting kubis


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tanaman kubis merupakan salah satu jenis syuran yang sudah sering dibudidayakan oleh para petani. System pemudidayan yang masih tradisional dan mengandalkan potensi alam sering kali menjadi Kendala dalam proses produksi tanaman kubis. Kubis yang merupakan salah satu jenis sayuraan yang namanya kubis diduga berasal dari bahasa Inggris yaitu cabbage. Di Indonesia, kubis sering uaga disebut sebagai kol. Tanaman kubis (Brassicae oleraceae) termasuk family Cruciferae, Klas Dicotyledoneae, Subdivisi Angiospermae dan Divisi Embriophyta (Pracaya, 2001). Kubis sebagai sayuran mempunyai peran penting untuk kesehatan. Kubis banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Sebagai sayuran, kubis dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam dan memperlancar buang air besar.Tanaman kubis merupakan tanaman semusim yang di Indonesia banyak ditanam di daerah pegunungan, dengan ketinggian ±800 m di atas permukaan laut (dpl) dan mempunyai penyebaran hujan yang cukup setiap tahunnya. Sebagian kubis tumbuh baik pada ketinggian 100-200 m dpl, tetapi jumlah varietasnya tidak banyak dan tidak dapat menghasilkan biji. Pada daerah yang ketinggiannya di bawah 100 m, tanaman kubis tumbuh kurang baik. (Permadi dan Sastrosiswojo, 1993)
. Pada umumnya kubis ditanam dengan pola tanam secara monokultur atau tumpangsari. Waktu tanam kubis yang paling baik adalah pada awal musim hujan atau awal musim kemarau. Meskipun demikian, kubis dapat ditanam sepanjang musim atau tahun asalkan kebutuhan airnya terpenuhi. Cara budidaya tanaman kubis adalah pengolahan tanah atau pembersihan gulma, penyulaman, pemupukan, pemanenan, dan pergiliran tanaman. Secara umum, semua jenis kubis dapat tumbuh dan berkembang pada berbagai jenis tanah. namun demikian, kubis akan tumbuh optimum bila ditanam pada tanah yang kaya akan bahan organik. Kecuali itu, dalam hidupnya kubis memerlukan air yang cukup, tetapi tidak boleh berlebihan. Artinya tanaman kubis akan mati bila kekurangan atau kelebihan air.
Realita yang ada, tidak semua petani di sentra pertanaman kubis menanam kubis. Keengganan petani menanam kubis dipicu leh alasan klasik, takut terserang hama dan penyakit. Tanaman kubis yang akan tumbuh baik pada kelembaban yang cukup tinggi (60-69%) dan suhu cukup rendah memang dapat memunculkan berbagai penyakit, terutama bakteri dan cendawan. Kedua patogen inilah yang merupakan patogen utama pada kubis (Pracaya, 2001).
Kerugian yang dapat ditimbulakan oleh penyakit kubis sangat besar nilainya. Terkadang serangannya sangat hebat sehingga terjadi gagal panen. Oleh sebab itu pengetahuan mengenali penyakit-penyakit pada kubis, gejala, dan cara pengendaliannya sangat penting. Pengetahuan ini khususnya penting diketahui oleh petani kubis atau petani yang tinggal di daerah yang cocok untuk pertumbuhan kubis agar mereka tetap mau menanam kubis dan paham cara pengendalian penyakitnya.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui penyakit-penyakit yang menyerang tanaman kubis dan patogen penyebab penyakit tersebut.
2. Mengetahui gejala dari berbagai penyakit pada tanaman kubis
3. Mamahami siklus penyakit dari patogen penyebab penyakit pada tanaman kubis.
4. Mampu menganalis strategi pengendalian yang tepat untuk mencegah terjadinya atau berkembangnya penyakit-penyakit pada tanaman kubis.
5. Mampu memberikan analisis ekonomi dari budidaya tanaman kubis disertai pengendaliannya.
BAB 2. ISI
2.1. Akar Gada
Clubroot atau Akar Gada merupakan penyakit terpenting pada tanaman kubis-kubisan yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae. Penyakit ini menyebar merata diseluruh areal pertanaman kubis di seluruh dunia khususnya di Eropa dan Amerika Utara. Penyakit ini sering dijumpai pada daerah dataran rendah dan dataran tinggi. Hampir seluruh tanaman kubis-kubisan misalnya kubis, sawi putih, dan brussels sprout sangat rentan terkena akar gada.

a. Penyebab Penyakit
Akar gada menyebabkan kerusakan yang parah pada tanaman rentan tumbuh pada tanah yang terifeksi. Hal ini disebabkan patogen yang menginfeksi tanah ini tetap menjadi saprofit pada tanah sehingga kubis-kubisan kurang cocok lagi untuk dibudidayakan di tempat tersebut (Agrios, 2005).
Plasmodiophora brassicae yang menyerang kubis ini termasuk dalam kelas plasmodiophoromycetes. Fase somatiknya berupa plasmodium. Plasmodium tumbuh menjadi zoosporangium atau spora rehat. Pada saat perkecambahan, patogen ini membentuk zoozpora yang dapat berasal dari spora rehat. Zoospora tunggal dari spora rehat kemudian memenetrasi akar inang dan tumbuh menjadi plasmodium. Setelah beberapa hari, plasmodium membelah menjadi beberapa multinukleat yang dibungkus oleh membran sehingga sel-sel akar akan bertambah besar. Masing-masing bagian tumbuh menjadi zoosporangium. Setiap zoosporangium terdiri dari empat hingga delapan zoospora yang segera dilepaskan melalui pori-pori pada dinding sel tanaman inang.
Beberapa dari zoospora kemudian bersatu untuk memproduksi zigot diploid yang dapat menyebabkan infeksi baru dan plasmodium baru. Zigot ini terdiri dari nucleus yang dikaryotik. Selanjutnya nukleus ini mangalami fusi (karyogami) yang diikuti meiosis. Akhirnya plasmodium menjadi spora rehat yang akan disebarkan ke tanah dan dapat menginfeksi tanaman selanjutnya. Siklus dari patogen ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1. Siklus hidup Plasmodiophora brassicae
(Sumber: Campbell, 2000)
b. Gejala Penyakit
Gejala yang khas pada tanaman yang terifeksi Plasmodiophora brassicae adalah pembesaran akar halus dan akar sekunder yang membentuk seperti gada. Bentuk gadanya melebar di tengah dan menyempit di ujung. Akar yang telah terserang tidak dapat menyerap nutrisi dan air dari tanah sehingga tanaman menjadi kerdil dan layu jika air yang diberikan untuk tanaman agak sedikit. Bagian bawah tanaman menjadi kekuningan pada tingkat lanjut serangan penyakit. Spora dapat bertahan di tanah selama 10 tahun, dan bisa juga terdapat pada rumput-rumputan. Penyakit ini bisa menyebar melalui tanah, dalam air tanah, ataupun dari tanaman yang sudah terkena. Gejala pada permukaan atas tanah dapat dilihat dengan menguningnya daun. Layu pada siang hari dan akan segar kembali pada malam hari Tanaman akan kelihatan kerdil, tanaman muda yang terserang akan dengan cepat mati sedangkan tanaman tua dapat bertahan hidup namun tidak dapat menghasilkan krop yang dapat dipasarkan.
c. Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Penyakit akar gada berkembang dengan baik pada pH tanah 5,7. Menurun dengan drastis pada pH tanah 5,8-6,2 dan gagal berkembang pada pH 7,8. Perkecambahan spora terjadi pada pH 5,7-7,5 dan tidak akan berkecambah pada pH 8. Tetapi pH tanah yang rendah tidak menjamin terjadinya infeksi untuk semua kejadian. Kisaran temperatur yang optimum untuk bagi perkembangan P. brassicae adalah 17,8-25 oC dengan temperature minium 12,2-27,2 oC.
Kelembaban optimum selama 18-24 jam mengakibatkan perkecambahan dan penetrasi pathogen ke dalam inang kubis kemudian infeksi hanya terjadi jika kelembaban tanah di atas 45 % dan kelembaban di atas 50 % akan menyebabkan penyakit bertambah cepat. Kelembaban tanah di bawah 4 % dapat menyebabkan terhambatnya infeksi. Kelembaban yang tinggi dapat disebakan dengan meningkatnya curah hujan. Intensitas cahaya sangat berpengaruh pula terhadap perkembangan penyakit. Intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan serangan pathogen akan menurun, sebaliknya intensitas cahaya yang rendah dapat menyebabkan berkembangnya patogen dengan cepat sehingga penyakit akibat serangan patogen juga semakin besar.
Jumlah spora rehat akan menentukan tingkat infeksi pada inang. Susensi yang mengandung paling sedikit 106-108 sel spora setiap ml sangat efektif untuk mengadakan infeksi. Disamping itu, kondisi inang turut mempengaruhi perkembangan P.brassicae, seperti kisaran inang,inang yang rentan, dan morfologi dari sistem perakaran serta peran mikroba yang lain.
d. Siklus Penyakit

Perkembangan penyakit atau siklus penyakit dapat dijelaskan sebagai berikut. Plasmodium yang berkembang dari zoospora sekunder memenetrasi jaringan akar muda secara langsung. Hal ini dapat mempertebal akar dan batang luka yang terletak di bawah tanah. Setelah itu, plasmodium menyebar ke sel kotikal hingga ke kambium. Setelah seluruh kambium terserang, plasmodium kemudian menyebar ke korteks kemudian ke xilem. Patogen ini kemudian berkelompok membentuk gelendong yang meluas dan berangsur-angsur menyebar. Jumlah sel kemudian bertambah banyak dan membesar. Infeksi ini dapat menyebabkan sel 5-12 kali lebih besar dari sel yang tidak terinfeksi. Sel yang berkembang abnormal ini dapat menjadi stimulus bagi patogen untuk menyebar lebih cepat dan bahkan dapat menyebabkan sel yang awalnya tidak terifeksi menjadi terifeksi. Sel yang tumbuh abnormal ini dapat digunakan oleh plasmodium sebagai sumber makanannya. Skema perkembangan penyakit akar gada dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Infeksi oleh plasmodium tidak hanya menyebabkan terjadinya pertumbuhan abnormal pada tanaman tetapi juga dapat menyebabkan terhambatnya absorbsi dan translokasi air dan nutrisi dari dan menuju akar. Hal ini menyebabkan tanaman kerdil san layu secara perlahan-lahan. Lebih lanjut lagi, pertumbuhan yang cepat dan sel yag membesar dapat menyebabkan tidak terbentuknya jaringan gabus dan dapat menyebabkan kemudahan bagi mikroorganisme lain untuk menginfeksi tanaman.

e. Strategi Pengendalian
Penyakit ini memiliki berbagai bentuk gejala serangan sehingga mendorong untuk memuliakan tanaman yang tahan terhadap penyakit ini. Pengendalian dilakukan dengan menggunakan bibit yang bebas hama dan penyakit. Pergiliran tanaman kurang sesuai diterapkan untuk kasus ini karena sporanya dapat bertahan lama serta gulma yang dapat menyebabkan penyakit ini. Pengapuran tanah untuk meningkatkan pH menjadi 7.2 sangat efektif untuk mengurangi perkembangan penyakit. Penyiraman fungisida Promefon 250EC pada lubang tanam yang dicampur dengan air saat tanam juga dapat mengurangi perkembangan penyakit. Tanaman yang tahan haruslah diuji di beberapa lokasi karena jenis serangannya yang berbeda-beda di setiap lokasi (Arismansyah, 2010). Selain itu, penggunaan tanaman perangkap dan perlakuan tanah pembibitan dengan teknik solarisasi juga teruji mengurangi penyakit dan meningkatkan hasil panen (Cicu, 2002).

2.2. Bercak Daun Alternaria

Bercak daun alternaria merupakan penyakit yang sering ditemukan pada berbagai jenis tanaman di seluruh dunia diantaranya kubis, tomat, kentang, kacang tanah, tembakau, geranium, apel, bawang, jeruk lemon, dll. Khusus untuk Alternaria pada kubis yang disebabkan oleh A. brassicae, pathogen ini sangat banyak tersebar di belahan bumi utara. Patogen ini sangat dipengaruhi oleh cuaca dengan penyakit tertinggi yang dilaporkan dalam kondisi musim hujan dan di daerah dengan curah hujan relatif tinggi (Agrios, 2005).
a. Penyebab Penyakit
Alternaria sp. mempunyai miselium berwarna gelap dan pada jaringan tua memproduksi konidiofor pendek, sederhana, dan tegak yang dapat menopang konidia. Konidia dari dari Alternaria sp. cukup besar gelap, panjang, multiselular, dan mempunyai sekat melintang dan membujur. Konidifor dari Alternaria. brassicae menghasilkan spora aseksual (konidia) dengan panjang rata-rata antara 160-200 μm. Sporulasi terjadi (in vitro) antara suhu 8 sampai 24 oC dimana spora dewasa dapat terbentuk setelah 14 sampai 24 jam.
b. Gejala Penyakit
Alternaria brassicae dapat mempengaruhi spesies inang pada semua tahap pertumbuhan, termasuk biji. Gejala yang ditimbulkan sering terjadi pada daun yang lebih tua, karena mereka lebih dekat dengan tanah dan lebih mudah terinfeksi sebagai akibat dari percikan hujan atau hujan ditiup angin. Akhir infeksi, atau infeksi daun yang lebih tua, tidak mengurangi karakteristik krop, dan dapat dikontrol melalui penghapusan intensif daun terinfeksi. Serangan pada tanaman di persemaian dapat mengakibatkan damping off atau tanaman kerdil. Bentuk bercak daun sangat beragam ukurannya dari sebesar lubang jarum hingga yang berdiameter 5 cm. Umumnya serangan dimulai dengan adanya bercak kecil pada daun yang membesar hingga kurang lebih berdiamter 1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Gejala ini sering disebut dengan browning. Pada kondisi cuaca yang lembab tampak bulu-bulu halus kebiruan di pusat bercak yang bercak tersebut sering terdapat cincin-cincin sepusat.
Gambar 4a. Gejala pada daun. Gambar 4b. Mikroskopis A. brassicae
(Sumber: Anonim, 2008)
c. Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Angin yang sering timbul saat hujan dapat memperparah serangan penyakit. Alternaria brassicae penyebab bercak daun pada kubis-kubisan ini dapat menyebar cepat dengan bantuan angin. Serangan semakin parah bila cuaca lembap dan suhu antara 25 – 30oC. Temperatur optimum adalah antara 16 dan 24 oC dimana waktu sporulasi hanya berkisar antara 12 sampai 14 jam. Kelembaban pada kondisi hujan, embun, atau kelembaban yang tinggi sangat penting untuk infeksi. Hanya dengan waktu minimum 9-18 jam infeksi pada tanaman oleh A. brassicae dapat terjadi. Ketika terjadi penurunan suhu, jumlah waktu yang dibutuhkan untuk 98% dari spora untuk tumbuh meningkat (Stephen, 2000).
Alternaria brassicae tetap hidup untuk jangka waktu yang panjang sebagai spora pada kulit biji atau sebagai miselium dalam benih maupun di bagian atas tanaman terinfeksi. Sampel benih terinfeksi dengan Alternaria brassicae yang disimpan pada 0 oC selama empat belas bulan menunjukkan ketahanan pada benih. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa walaupun spora Alternaria brassicae terkena cuaca di luar ruangan untuk periode enam bulan di mana suhu berkisar antara 23 sampai 30 oC menunjukkan bahwa spora masih dapat tumbuh.
Alternaria brassicae juga dapat hidup dalam bentuk mikrosklerotia dan klamidospora yang muncul setelah terinfeksi daun yang sebagian membusuk. Mikrosklerotia dan khlamidospora dapat dibentuk dalam sel konidia. Mikrosklerotia dan khlamidospora berkembang dengan baik pada temperatur rendah (3 oC) dan tahan terhadap pembekuan dan desikasi (dalam studi in vitro). Klamidospora juga bisa berkembang dalam sel konidia di tanah alami pada suhu kamar. Biji yang terinfeksi, dengan spora dikulit biji atau miselium bawah kulit biji, mungkin sumber utama transportasi untuk patogen tersebut. Spora dapat disebarkan oleh angin, air, peralatan dan hewan. Cendawan dapat bertahan dalam gulma rentan atau tanaman tahunan.
d. Siklus Penyakit
Perkembangan penyakit atau siklus penyakit dimulai ketika konidia dari A. brassicae menempel pada permukaan inang. Konidia tersebut kemudian membentuk kecambah. Dalam satu konidia, kecambah yang terbentuk bisa lebih dari satu. Alternaria sp. dapat memarasit tanaman dengan dua cara yaitu dengan membuat penetrasi langsung pada inang yang berasal dari tabung kecambah atau masuk ke tubuh inang melalui luka. Penetrasi yang dilakukan sebagian besar dimulai pada daun. Miselium kemudian menyebar (invasi) ke sel daun secara interselular yaitu melalui ruang antar sel. Konidia baru kemudian banyak terbentuk di jaringan yang terinfeksi tersebut. Gejala kemudian menyebar ke batang sehingga menyebabkan batang damping off. Setelah ke batang, gejala kemudian menyebar ke seluruh bagian tumbuhan. Skema dari perkembangan penyakit dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 5. Perkembangan penyakit oleh Alternaria sp.
(Sumber: Agrios, 2005)
e. Pengendalian Penyakit
Menurut Rebecca (2001), pengendalian terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan perlakuan kultur teknis dan kimia. Pengendalian dengan kultur teknis diantaranya:
Pengobatan dengan air panas: Perawatan benih dengan air panas adalah salah satu cara mengendalikan spora pada kulit biji. Namun, pengobatan ini kadang-kadang menekan perkecambahan.
Tanaman rotasi: Rotasi dengan tanaman bukan kubis dan pemberantasan gulma silangan dapat membantu mengendalikan patogen. Spora dapat bertahan pada jaringan daun selama 8 sampai 12 minggu dan batang jaringan sampai 23 minggu, pada bidang yang ditanam segera setelah panen sering bertepatan dengan jumlah besar inokulum yang kemungkinan yang berefek pada munculnya tanaman dan tahap pertumbuhan awal.
Biologi kontrol: Studi awal dengan jamur actinomycetes, Streptomyces arabicus, menunjukkan efek antijamur pada Alternaria brassicae pada laboratorium dan studi lapangan sehingga dapat menekan pertumbuhan spesies cendawan tersebut.
Pengendalian dengan cara kimiawi dapat dilakukan engan menggunakan fungisida. Tujuh fungisida sepenuhnya menghambat pertumbuhan patogen dalam budidaya adalah Benlate di 0,1 £ ai/100 gadis, Dithane-M 45, Dithane-Z 78, Ziram, Difolatan-80 dan Thiram (semua pada 0,2 £ ai/100 gal), dan Blitox-50 di ai/100 £ 0,3 gal. Sebagai fungisida benih, Benlate di £ 0,1 ai/100 benih lb memberikan kontrol yang terbaik dengan kerugian rata-rata sebelum munculnya bibit 4,5 dan 6,5 pasca-munculnya bibit per pot (25 biji ditanam dalam pot masing-masing, 8 pot). Dithane M-45 dan Dithane Z-78, baik diterapkan pada £ 0,2 lbs ai/100 benih, mengalami kerugian sebelum munculnya bibit rata-rata 10,5 dan 11,25, masing-masing dan pasca-munculnya bibit rugi sebesar 11,5 dan 13,75, masing-masing. Sebagai semprot daun, Dithane M-45 (0,2 £ ai/100 gal) memberikan kontrol yang lebih baik secara signifikan atas fungisida lainnya, termasuk Benlate. Dithane M-45 memberikan hasil yang lebih baik dari Dithane Z-78 (0,2 £ ai/100 gal), meskipun perbedaan itu tidak signifikan. Tanaman diperlakukan dengan fungisida kedua juga memberikan hasil biji tertinggi.
Iprodione dan fenpropimorph memiliki keduanya menunjukkan sifat hambat tinggi untuk pertumbuhan Alternaria sp. Dalam budaya dan sebagai perlakuan benih pada benih ai/100 £ 0,25 lb. Dalam sampel benih sampai dengan infeksi 61,5% (35,5% internal yang sakit), iprodione biasanya menghilangkan jamur dari sampel, tetapi tingkat yang lebih tinggi infeksi memerlukan dosis yang lebih besar iprodione. Perkecambahan biji yang sehat tidak terpengaruh oleh pengobatan, dan perkecambahan biji sakit ditingkatkan.
2.3. Busuk Hitam
Penyakit busuk hitam adalah salah satu penyakit yang paling merusak kubis dan silangan lain. Kembang kol, kubis, dan kale adalah salah satu silangan paling rentan terhadap busuk hitam. Brokoli, kecambah brussels, kubis cina, collard, kohlrabi, mustard, rutabaga, dan lobak juga rentan. Beberapa gulma silangan juga dapat menjadi inang patogen. Penyakit ini biasanya paling lazim di daerah yang rendah dan dimana tanaman tetap basah untuk waktu yang lama. Kondisi yang menguntungkan untuk tersebarnya bakteri menyebabkan kerugian total tanaman crucifer (Pracaya, 2001).
Bakteri banyak terdapat pada serasah dari tanaman yang terinfeksi, tetapi akan mati jika serasah tadi melapuk. Bakteri ini juga terdapat pada tanaman kubis-kubisan yang lain dan tanaman rumput-rumputan serta dapat pula terbawa benih. Bakteri ini berada pada tetesan butir air dari tanaman yang terluka serta dapat menyebar ke seluruh tanaman melalui manusia ataupun peralatan yang sering bergerak melintasi lahan saat kondisi tanaman sedang basah.
a. Penyebab Penyakit
Penyebab penyakit busuk hitam adalah Xanthomonas campestris pv. Campestris. Bakteri ini bersel tunggal, berbentuk batang, 0,7-3,0 x 0,4-0,5 µm, membentuk rantai, berkapsula, tidak berspora, bersifat gram negatif, bergerak dengan satu flagel polar.
Gambar 6. Mikroskopis X. campestris
(Sumber: Mangun, 2009)
b. Gejala Penyakit
Tanaman dapat terserang busuk hitam pada setiap tahap pertumbuhan. Pada pembibitan, infeksi yang pertama kali muncul dengan menghitamkan sepanjang kotiledon. Bibit terserang patogen akan berwarna kuning sampai coklat, layu, dan runtuh. Pada tanaman yang memasuki pertumbuhan vegetatif lanjut akan menunjukkan gejala kerdil, layu, daun yang terinfeksi berbentuk wilayah-V. Wilayah V ini kemudian membesar dan menuju dasar daun, berwarna kuning sampai coklat, dan kering. Gejala ini dapat muncul pada daun, batang, akar, dan berubah menjadi hitam akibat patogen yang berkembang biak. Daun muda yang terinfeksi mengalami pertumbuhan yang terhambat, warna kuning sampai coklat, layu, dan mati sebelum waktunya. Kadang-kadang, tanaman berpenyakit gundul memiliki panjang tangkai atasnya dengan seberkas kecil daun.
Gambar 7a . Wilayah V pada daun Gambar 7b. Busuk hitam pada krop
(Sumber: Rumahlewang, 2008)
Bakteri ini dapat menyebar ke jaringan pengangkutan tanaman dan dapat berpindah secara sistematis dalam jaringan pengangkutan tanaman tersebut. Jaringan angkut yang terserang warnanya menjadi kehitaman yang dapat dilihat sebagai garis hitam pada luka atau bisa juga diamati dengan memotong secara melintang pada batang daun atau pada batang yang terkena infeksi. Busuk hitam juga dapat menyebabkan terjadinya busuk lunak.
c. Siklus Penyakit
Sumber utama bakteri untuk pengembangan busuk hitam di bidang produksi benih penuh, transplantasi terinfeksi, dan gulma silangan terinfeksi. Bakteri ini disebarkan dalam panen terutama oleh angin-angin dan percikan air dan oleh para pekerja, mesin, dan kadang-kadang serangga. X. campestris dapat bertahan hidup pada permukaan daun selama beberapa hari sampai tersebar ke hidatoda atau luka di mana infeksi dapat terjadi. Bakteri masuk ke daun melalui hidatoda saat memancarkan air melalui pori-pori di tepi daun pada malam hari, ditarik kembali ke dalam jaringan daun pada pagi hari (Soeroto, 1994).
Bakteri dapat masuk ke daun dalam 8 sampai 10 jam, dan gejala yang terlihat layu secepat 5-15 jam kemudian. Luka, termasuk yang dibuat oleh serangga makan pada daun dan cedera mekanik ke akar selama tanam, juga menyediakan situs masuk. Gerakan bakteri ke tanaman melalui hidatoda dibatasi dalam varietas tahan; akibatnya, ada situs infeksi yang lebih sedikit dan / atau bagian yang terkena jauh lebih kecil dalam varietas tahan daripada varietas rentan.
d. Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Pada kondisi yang hangat dan basah kerugian busuk hitam dapat melampaui 50% karena penyebaran penyakit ini. Hujan dan kabut tebal atau embun dan suhu hari 75° sampai 95° F yang paling menguntungkan bagi patogen. Di bawah dingin, kondisi basah infeksi dapat terjadi tanpa gejala perkembangan. Akibatnya, transplantasi tumbuh pada temperature rendah mungkin terinfeksi tetapi tanpa gejala. Bakteri tidak menyebar di bawah 50° F atau selama cuaca kering (Permadi,1993).
e. Strategi Pengendalian Penyakit
Menurut Rukmana (1994), pengendalian dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman yang bukan jenis kubis-kubisan, sehingga akan memberikan waktu yang cukup bagi serasah dari tanaman kubis-kubisan untuk melapuk. Lalu menggunakan benih bebas hama dan penyakit yang dihasilkan di iklim yang kering. Hindari untuk bekerja di lahan saat daun tanaman basah. Tanamlah varietas kubis yang tahan terhadap busuk hitam. Penyemprotan bakterisida Kocide 77 WP sangat dianjurkan, terutama untuk budidaya di musim penghujan. Tanaman dan daun sakit dipendam dalam tanah. Menutup tanah dengan jerami untuk mengurangi penyakit.
Perlakuan benih dengan cara merendam benih dalam air hangat bersuhu 52ºC selama 30 menit. Tanaman yang terserang bakteri busuk hitam dicabut dan dimusnahkan. Dalam pemanenan kubis diikutsertakan dua helai daun hijau untuk melindungi krop. Pemanenan harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak terjadi luka. Daun-daun yang terinfeksi dikumpulkan untuk dimusnahkan (Soeroto,1994).
2.4. Busuk Basah
Bakteri penyebab busuk basah mempunyai kisaran inang yang luas di antaranya kubis, kentang, wortel, turnip, seledri, tomat, dan lain-lain. Panyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia dan dapat menyebabkan gejala serius pada krop di lapangan, di pengangkutan dan di penyimpanan. Perkembangan serangannya lebih banyak terjadi pada tempat penyimpanan atau pascapanen dari pada di lapangan. Pada penyimpangan, tanaman krop sehat yang mangalami kontak langsung dengan tanaman yang sakit dapat dalam beberapa jam saja dapat tertular penyakit busuk basah ini.
Penyakit busuk lunak ini telah menyebkan kerugian ekonomi yang besar akibat berkurangnya jumlah produksi yang dapat terjual: rendahnya kualitas; dan besarnya biaya pengendalian. Bakteri ini dapat mempertahankan diri dalam tanah dan sisa-sisa tanaman di lapangan.
a. Penyebab Penyakit
Erwinia carotovora merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat gram negatif, umumnya berbentuk rantai, tidak berkapsul dan tidak berspora, dapat bergerak aktif dengan 2-5 flagella. Ukuran selnya 1,5-2,0 x 0,6-0,9 mikron (Permadi dan Sastroosiswojo, 1993). Suhu minimum untuk bakteri ini adalah 5oC, optimum 22oC, maksimum 37oC dan akan mati pada suhu 50oC (Agrios, 2005).
Gambar 8. Mikroskopis E. carotovora
(Sumber: Anonim, 2008)
b. Gejala Penyakit
Gejala awal yang mucul pada tanaman berupa lesio gejala basah yang kecil dan diameter serta kedalamannya melebar secara cepat. Bagian tanaman yang terkena menjadi lunak dan berubah warna menjadi gelap apabila serangan terus berlanjut. Warna pada permukaannya menjadi hijau pucat dan mengkerut. Pada jaringan yang terinfeksi akan berwarna buram dan kemudian akan berubah menjadi krem dan berlendir. Jika hal ini terjadi, maka pada permukaan akan tampak cairan berwarna keruh. Perkembangan penyakit hingga tanaman membusuk hanya butuh waktu 3-5 hari. Tanaman yang terkena busuk lunak kemudian menimbulkan bau yang khas yang dimungkinkan oleh adanya perkembangan organisme lain setelah pembusukan terjadi.
Jika akar krop telah terserang, gejala kemudian dapat muncul pada batang berupa batang yang berair, hitam, dan berkerut. Hal ini juga menyebabkan tanaman kerdil, layu dan mati. Bakteri busuk lunak dapat timbul dari seresah tanaman yang telah terinfeksi, melalui akar tanaman, dari tanah, dan beberapa serangga. Luka pada tanaman seperti stomata pada daun, serangan serangga, kerusakan mekanis, ataupun bekas serangan dari patogen lain merupakan sasaran yang empuk untuk serangan bakteri (Agrios,2005).
Gambar 9a. Busuk basah pada permukaan Gambar 9b. Busuk basah bagian dalam
(Sumber: Rumahlewang, 2008)
c. Siklus Penyakit
Siklus penyakit atau perkembangan penyakit dapat dijelaskan sebagai berikut. Bakteri pada awalnya masuk ke luka pada tanaman. Luka ini dapat disebabkan oleh serangga tersebut mengimpan telurnya pada tanaman kubis sehingga menyebabkan luka. Bakteri setelah masuk akan makan dan membelah diri dengan cepat serta merusak sel di sekitarnya. Hal ini menyebabkan terbentuknya cairan. Selain tiu, bakteri ini menghasilkan enzim pektinase dan selulase. Enzim peptinase dapat menguraikan peptin yang berfungsi untuk merekatkan dinding sel yang berdampingan. Dengan terurainya peptin, sel-sel akan terdesintegrasi. Enzim selulase menyebabkan merusak selulosa dan melunakkan dinding sel. Akibatnya air dari protoplasma berdifusi ke ruang antar sel. Sel kemudian mengalami plasmolisis, kolaps, dan mati. Bakteri selanjutnya bergerak menuju ruang antarsel dan membelah diri sambil mengeluarkan enzimnya sehingga infeksi semakin besar.
Akibat dari hal tersebut di atas, jaringan yang terserang kemudian melunak, berubah bentuk, dan berlendir. Massa dari bakteri yang terdapat pada cairan dalam sel sangat banyak. Akibatnya jaringan gabus yang banyak terserag penyakit ini pun rusak sehingga lendir yang mengandung banyak bakteri tersebar ke dalam tanah atau dalam penyimpanan pasca panen. Hal ini memungkinkan bakteri mengadakan kontak dengan tanaman yang sehat sehingga tanaman sehat pun akan mengalami sakit. Skema yang menunjukkan perkembangan penyakit tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini
Gambar 10. Siklus penyakit busuk lunak oleh E. carotovora
(Sumber: Agrios, 2005).
d. Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Terdapat beberapa hal yang dapat mendukung perkembangan penyakit diantaranya drainasi yang buruk pada pertanaman, kelembaban yang tinggi, curah hujan tinggi yang dapat menyebabkan bakteri tersebar dengan cepat, adanya sisa-sisa tanaman terinfeksi di sekitar daerah penanaman dan suhu yang rendah.
Kondisi yang menyebabkan perkembangan penyakit pada pasca panen adalah luka pada kubis. Jika luka ini mengadakan kontak dengan tanaman yang terserang, maka dengan mudah kubis yang luka ini akan terinfeksi E. carotovora.
e. Strategi Pengendalian
Pengendalian secara preventif bisa ditempuh melalui kebersihan lingkungan dan sistem budidaya. Menunggu tanah melapukkan sisa-sisa tanaman lama di lahan sebelum menanam tanaman selanjutnya sangat dianjurkan untuk mengatasi hal ini. Lahan harus memiliki drainase yang baik untuk mengurangi kelembaban tanah serta jarak tanamnya harus cukup memberikan pertukaran udara untuk mempercepat proses pengeringan daun saat basah. Pembuatan pelindung hujan dapat pula menghindari percikan tanah dan pembasahan daun yang akan mengurangi gejala busuk lunak. Penyemprotan bacterisida seperti Kocide 77WP dengan interval 10 hari sangat dianjurkan terutama saat penanaman musim hujan. Sanitasi, jarak tanam tidak terlalu rapat. Menghindari terjadinya luka yang tidak perlu dan pengendalian pasca panen
2.5. Kaki Hitam
a. Penyebab Penyakit
Penyakit kaki hitam disebabkan oleh pathogen Phoma Lingam yang merupakan patogen serius yang dapat menyebabkan penyakit kaki hitam, kanker , dan busuk kering brassicae dan silangan lain. Batang dibusukkan / penyakit penipu disebabkan oleh jamur Phoma lingam ascomycetes. Teleomorf dari penyebab penyakit Phoma lingam adalah Leptosphaeria maculans. Miselium bersekat bercabang-cabang, pada waktu muda hialin, kelak mempunyai dinding yang gelap Piknidia bundar untuk subglobose, kuning coklat sampai coklat hitam, subepidermal, terpisah, unilokular, 130-600 μm.. Bentuk dan ukuran piknidium sangat bervariasi. Biasanya berbentuk botol, berwarna gelap, kadang-kadang dengan paruh atau ostiola yang menonjol. Konidium (piknidiospora) hialin, tak bersekat, 1-2,5 x 3-6 µm. Konidium terkumpul di dalam piknidium, mongering dalam matriks yang seperti agar-agar. Jika terdapat air hujan atau embun, matriks meghisap air dengan cepatdan konidium mengembang dalam bentuk bulu atau benang panjang yang mengandung konidium dan matriks. Matriks akan larut dalam air sehingga konidium menjadi bebas (Tindall, 1987).
Gambar 11a. Piknidium Phoma lingam Gambar 11b. Miselium Phoma lingam
(Sumber: Anonim, 2007)
b. Gejala Penyakit
Gejala yang ditimbulkan penyakit kaki hitam oleh pathogen phoma lingam yaitu Noda pada batang dan daun, bulat telur sampai yg tersebar luas, pada awalnya kuning kehijauan, kemudian kelabu kuning, akhirnya abu-abu, depresi, dengan ungu ke perbatasan hitam. Kanker memanjang pada pangkal batang, mula-mula berwarna coklat muda, kemudian mejadi kehitaman, yang sering dikelilingi oleh batas berwarna ungu. Di bagian tengah luka terdapat titik-titik hitam yang terdiri dari piknidium jamur penyebab penyakit. Kanker dapat meluas sehingga batang bergelang, bagian dalam batang busuk kering berwarna coklat, mula-mula terdapat becak warna pucat dengan batas kurang jelas yang menjadi becak bulat dengan warna kelabu ditengah. Daun-daun yang layu biasanya tetap bergantung pada tanaman, sedangkan daun-daun yang masih segar sering mempunyai tepi berwarna kemerahan. Pada tanaman penghasil benih, penyakit dapat timbul pada polongan (buah), dan biji yang terinfeksi menjadi keriput. Perakaran yang sakit akan rusak sedikit demi sedikit sehingga tanaman menjadi layu dan kemudian mati (Anonim, 2008).
Gambar 12a. Gejala pada daun Gambar 12b. Gejala pada batang
Gambar 12. Gejala kaki kitam penyakit oleh Phoma lingam
(Sumber: Anonim, 2008)
c. Siklus Penyakit
Penyebab penyakit ini mempertahankan diri dari musim ke musim dalam kulit biji dan dalam sisa-sisa tanaman sakit. Pada biji yang terinfeksi, tetapi masih dapat berkecambah, kulit biji akan terangkat ke atas tanah dan melekat pada salah satu keeping biji (kotiledon). Keping biji akan akan terinfeksi, jamur berkembang ke batang semai (hipokotil) sehingga semai mati. Semai seperti ini biasanya mati di persemaian tanpa diketahui, namun di sini jamur sempat membentuk tubuh buah (piknidium) yang menghasilkan konidium. Konidium hanya akan terbebas bila ada air, dan pemencarannya tergantung dari air hujan yang memercik. Air yang mengalir di permukaan tanah pun dapat mengangkut konidium dari sisa-sisa tanaman sakit ke persemaian.
Siklus penyakit dapat dilihat pada skema di bawah ini.
Gambar 13. Siklus penyakir kaki hitam
(Sumber: Anonim, 2009)
d. Kondisi yang Mendukung Perkembangan Penyakit
Penyakit ini menyerang tanaman kubis pada kondisi tanah-tanah yang basa atau alkalis (pH lebih besar dari 6,5). Hujan dan basah cuaca, yang telah terjadi dalam beberapa hari sangat ideal untuk penyebaran jamur ini. Penyakit ini dapat bertahan hidup dalam residu tanaman setidaknya selama tiga tahun, sehingga rotasi selalu disarankan (menghindari silangan dalam rotasi sangat penting). Kondisi lain yang mendukung perkembangan penyakit yaitu tergantung dari curah hujan. Patogen juga
seedborne dan dapat disebarkan oleh angin dalam jarak jauh.
f. Strategi Pengendalian
Teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit kaki hitam yaitu pemencaran penyakit ke daerah yang belum terjangkit harus dicegah, menanam benih yang sehat yang dihasilkan oleh daerah-daerah yang kering, khususnya yang mempunyai cuaca kering pada waktu tanaman membentuk buah. Sanitasi pertanaman, sisa-sisa tanaman, khususnya tanaman sakit, dipendam dalam tanah cukup dalam, agar tidak menjadi sumber infeksi bagi pertanaman yang akan datang atau pertanaman sekitarnya. Tidak membuat persemaian di tanah yang mungkin mengandung penyebab penyakit, di daerah yang sudah terjangkit dan penggunaan fungisida secara efisien (Anonim,2009).
Tanah yang memiliki pH di ata 6,5 perlu penanganan dengan pengapuran pada tanah asam atau pemberian pupuk belerang (S) untuk tanah basa. Kebutuhan kapur pertanian untuk menaikkan tanah tergantung dari jenis tanah dan derajat keasaman tanah. Untuk lahan kering sekitar 4 ton/hektar, sedangkan pada tanah gambut mencapai 19 ton/hektar. Pada tanah-tanah basa, misalnya pH 8,5-9,0 dapat diberikan tepung belerang atau gipsum sekitar 6 ton/hektar untuk menurunkan pH mendekati netral.
2.6. Pembahasan Umum
Penyakit-penyakit pada kubis yang telah disebutkan diatas, secara garis besar disebabkan oleh dua patogen yaitu cendawan dan bakteri. Untuk dapat membedakan secara langsung dari seluruh gejala, pengendalian teknis yang tepat, dan bakterisida yang dapat digunakan maka pada sub bab ini akan dijelaskan perbedaan dari keseluruhan penyakit untuk masing-masing patogen.
Penyakit yang disebabkan oleh cendawan ada tiga yaitu akar gada, bercak daun, dan kaki hitam. Dari tiga penyakit ini, penyakit terbesar disebabkan akar gada. Hal ini disebabkan karena penyakit ini berkembang dengan sangat cepat di area pertanaman kubis dan dapat bertahan selama 10 tahun di dalam tanah. Akar yang membengkak menyebabkan pengangkutan nutrisi terhambat. Gejala ini sangat berbeda dengan dua penyakit lainnya oleh cendawan. Contohnya penyakit bercak daun yang gejalanya berawal dari daun bukan dari akar. Gejalanya pun sangat khas yaitu berupa bercak konsentris kecil berwarna gelap kemudian membesar pada daun. Bercak yang terjadi di daun pada penyakit kaki hitam pun berbeda. Bercak yang ditimbulkan berwarna kuning, berkembang menjadi abu-abu kemudian ungu kehitam-hitaman. Bercak oleh penyakit kaki hitam ini dapat meluas ke batang berupa “kanker” memanjang berwarna hitam.
Pengendalian secara kultur teknis untuk ketiga penyakit oleh cendawan ini un meiliki perbedaan. Pengendalian untuk mengatasi penyakit akar gada salah satunya dengan pemberian kapur atau pupuk pada area pertanaman sehingga pH meningkat hingga 7,2. Pada pH ini, perkecambahan cendawan akan terhambat sehingga serangan peyakit dapat berkurang. Hal ini sangat berbeda dengan penyakit kanker batang yang disebabkan oleh Phoma lingam. Cendawan penyakit ini akan menyerang tanaman dan berkembang baik pada tanah-tanah yang basah dengan pH di atas 6,5. Sehingga pengendalian kultur teknis yang di lakukan kebalikan dari pengandalian pada penyakit akar gada. Pengendalian dilakukan dengan pemberian pupuk belerang pada tanah basa sehingga pH turun. Namun pemupukan belerang juga jangan berlebihan. Jika ini terjadi maka pH tanah akan rendah sehingga tanah masam yang menyebabkan pertumbuhan kubis terhambat.
Pengendalian yang tepat untuk penyakit bercak daun alternaria adalah dengan melakukan rotasi tanaman. Hal ini cukup efektif jika dilakukan karena patogennya hanya dapat bertahan paling lama 23 minggu. Rotasi tanaman ini cukup tepat pula untuk pengendalian kaki hitam. Namun untuk penyakit akar gada kurang tepat karena P. brassicae dapat bertahan selama paling lama 10 tahun dalam tanah. Sanitasi area penanaman dan irigasi yang baik sangat penting untuk pengendalian tiga penyakit oleh cendawan di atas. Hal ini disebabkan karena patogen dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman dan dapat berkembang dengan cepat pada daerah air yang tergenang. Pengendalian dengan bahan kimia untuk setiap penyakit dapat menggunakan fungisida promefon 250 EC.
Secara umum, perbedaan antara ketiga penyakit pada kubis di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Perbedaan penyakit yang disebabkan oleh cendawan pada tanaman kubis
Pembeda Akar gada Bercak daun Kaki hitam
Gejala Akar membengkak, daun layu pada siang hari dan segar kembali malam hari. Diawali dengan bercak kecil pada daun, membesar d=1,5 cm dan berwarna gelap dengan lingkaran konsentris. Kanker batang yang meluas berwarna coklat tua. Daun berbercak kuning keabu-abuan.
Kultur teknis yang tepat Pengapuran hingga pH 7,2. Benih direndam pada air panas, rotasi tanaman Sanitasi sisa ta-naman sakit, rotasi, pengapuran S.
Bahan kimia sintetik Fungisida Promefon 250EC Fungisida Promefon 250EC, Iprodione dan fenpropimorph Fungisida promefon 250 EC
Penyakit pada kubis oleh patogen bakteri yang dibahas ada dua yaitu busuk hitam dan busuk basak. Kerugian terbesar antara kedua penyakit ini adalah penyakit busuk basah oleh E. carotovora. Kerugian yang besar ini terjadi pada pengangkutan pascapanen. Bakteri ini akan dengan cepat menyebar melalui luka dari krop kubis yang sakit ke krop kubis yang sehat. Gejala khas yang membedakan antara busuk hitam dengan busuk basah adalah pada busuk basah terjadi pelunakan hingga berledir kemudian berbau akibat asosiasi dengan mikroorganisme lain. Gejala ini tidak ditemukan pada busuk hitam. Gejala khas di daun pada penyakit busuk hitam yang dapat membedakannya dengan penyakit lain adalah bercak kuning berbentuk V. Bercak ini kemudian dapat menyebar ke seluruh daun dan tanaman. Bakteri dapat pula menyebabkan pembuluh menghitam, pengangkutan nutrisi terhambat, dan krop hitam.
Pengendalian yang cocok untuk mencegah terjadinya busuk hitam adalah dengan rotasi tanaman. Hal ini disebabkan bakteri dapat bertahan selama 3 tahun di area infeksi. Sedangkan untuk busuk basah lebih pada sanitasi sisa-sisa tanaman di sekitar daerah penanaman, menjaga kelembaban dengan mengatur jarak tanam, dan yang terpenting mengindari luka pada pascapanen. Sanitasi dan penggunaan benih yang sehat juga efektif untuk pengendalian penyakit busuk hitam dan busuk basah. Pengendalian dengan kimia untuk kedua penyakit dapat menggunakan bakterisida Kocide 77WP. Namun pengendalian dengan bakterisida sebisa mungkin dihindari dan lebih mengutamakan pengendalian kultur teknis (Agrios, 2005).
Secara umum, perbedaan antara kedua penyakit pada kubis di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. Perbedaan penyakit yang disebabkan oleh bakteri.
Pembeda Busuk hitam Busuk basah
Gejala Wilayah kuning berbentuk V pada daun, pembuluh menghitam,krop menghitam Lesion kecil kemudian tanaman khusunya krop menjadi lunak dan basah
Kultur teknis yang tepat Rotasi tanam, penggunaan benih yang di hasilkan di iklim kering Sanitasi, drainasi yang bagus, hindari luka pasca panen
Bahan kimia sintetik Bakterisida Kocide 77WP Bakterisida koccide 77WP
BAB 3. KESIMPULAN
Patogen utama penyebab penyakit pada tanaman kubis berasal dari cendawan setelah itu bakteri. Penyakit ini akan menyebar dan berkembang dengan baik pada saat musim hujan dimana kelembaban cukup tinggi dan pada saat suhu rendah. Sanitasi dan rotasi tanaman sangat penting sebagai pengendalian secara kultur teknis untuk menghindari tersebarnya penyakit ini kecuali pada penyakit akar gada. Hal ini disebabkan karena spora pada akar gada dapat bertahan lama pada tanah.
Secara umum, patogen dapat menyerang dapat menyerang pada berbagai tingkat tanaman. Penyakit yang menyebabkan kerugian terbesar pada saat pascapanen adalah busuk lunak oleh bakteri Erwinia carotovora. Untuk mencegah tersebarnya penyakit ini perlu dilakukan pencegahan agar tidak terjadi luka pada krop kubis. Penyakit yang menyebabkan kerugian yang tidak terlalu besar di Indonesia adalah penyakit kanker batang. Hal ini disebabkan karena patogen penyebab penyakit ini akan berkembang baik pada tanah basa sedangkan tanah di Indonesia sebagian besar tanah asam.
Daftar Pustaka
Agrios, George W. 1997. Plant Pathology Fourth Edition.New York: Academic Press.
Anonim, 2007. Kaki Hitam Phoma lingam. [terhubung berkala]. http://gwdu05. gwdg.de/~instphyt/app/research/images/phoma/ascosporen.jpg. [17 Mei 2010]
Anonim. 2008. Bercak Daun Alternaria. [terhubung berkala]. http://translate. google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://nhb.gov.in/bulletin_files/vegetable/cabbage/cab002.pdf. [16 Mei 2010].
Anonim. 2008. Busuk Basah Erwinia carotovora. [terhubung berkala]. http://www. google.co.id/ imglanding?q=erwinia%20carotovora&imgurl.com. [17 Mei 2010].
Anonim, 2008. Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Kubis. [terhubung berkala]. http://kliniktanaman.blogspot.com/2008/12/penyakit-penyakit-penting-tanaman kubis.html.[2 April 2010].
Anonim. 2009. Siklus Penyakit Phoma Lingam. [terhubung berkala]. http://www.apsnet. org/education/Lessons…ycle.html. [5 April 2010].
Arismansyah, Erlan Ardian. 2010. Penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae Wor) pada kubis-kubisan dan upaya pengendaliannya. [terhubung berkala]. http://erlanardianarismansyah.wordpress.com/2010/01/07/penyakit-akar-gada plasmodiophora-brassicae-wor-pada-kubis-kubisan-dan-upaya pengendalian-nya. [5 April 2010].
Campbell, NA, dkk. 2000. Biologi Edisi Lima. Rahayu Lestari, dkk, penerjemah; Amalia Safitri, editor. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Biology 5th Edition.
Cicu, 2002. Pengelolaan Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae) pada Tanaman Kubis dengan Tanaman Perangkap dan Perlakuan Tanah Pembibitan [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Mangun, Wardoyo. 2009. Busuk Hitam Kubis. [terhubung berkala]. http://journal.ui.ac.id /…/ Transformasi%20fragmen_Mangunwardoyo.pdf. [17 Mei 2010].
Permadi, A. H. dan S. sastrosiswojo.1993. Kubis. Kejasama antara Badan Penellitian dan Perkembangan Pertanian. Lembang: Balai Penelitian Holtikultura.
Pracaya, Ir. 2001. Kol alias Kubis Edisi Revisi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Rebecca A. Boley. 2003. Educational Specialist Plant Pathology. Manoa: University of Hawaii.
Rumahlewang, Wilhemnia. 2008. Penyakit-Penyakit Penting Tanaman Kubis. [terhubung berkala]. http://kliniktanaman.blogspot. com/2008/12/penyakit-penyakit-penting-tanaman kubis.html.[2 April 2010]
Rukmana, R. 1994. Bertanam Kubis. Yogyakarta: Kanisius.
Soeroto, dkk. 1994. Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan Secara Terpadu pada Tanaman Kubis. Jakarta: Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan Direktorat Bina Perlindungan Tanaman.
Stephen, A Ferreira. 2006. Extension Plant Pathologist.
Tindal, H.D. (1987). Zwartrot van kool. Landblouw 21:259.

penyakit fusarium oxysforum


Jamur Fusarium sp. merupakan patogen tular tanah atau “soil-borne pathogen” yang termasuk parasit lemah. Jamur ini menular melalui tanah atau rimpang yang berasal dari tanaman jahe sakit, dan menginfeksi tanaman melalui luka pada rimpang. Luka tersebut dapat terjadi karena pengangkutan benih, penyiangan, pembumbunan, atau karena serangga dan nematode (Hariyanto dan Indo, 1990).

Lebih lanjut dikatakan, apabila kondisi lingkungan tidak menguntungkan, jamur bertahan hidup dalam rimpang, baik di lapangan maupun selama masa penyimpanan. Pada saat kondisi lingkungan menguntungkan, jamur akan menyebabkan pembusukan rimpang dan menular ke rimpang yang lain. Walaupun rimpang sudah tertular, gejala penyakit belum nampak karena memerlukan waktu beberapa bulan dan bila digunakan sebagai bibit sebagian besar tanaman akan terinfeksi jamur patogen tersebut.

Menurut Sastrahidayat (1990), pada medium PDA mula-mula miselium berwarna putih, semakin tua warna menjadi krem atau kuning pucat, dalam keadaan tertentu berwarna merah muda agak ungu. Miselium bersekat dan membentuk percabangan. Beberapa isolat Fusarium akan membentuk pigmen biru atau merah di dalam medium (Walker, 1957; Agrios, 2005). Daur hidup Fusarium oxysporum mengalami fase patogenesis dan saprogenesis. Pada fase patogenesis, jamur hidup sebagai parasit pada tanaman inang. Apabila tidak ada tanaman inang, patogen hidup di dalam tanah sebagai saprofit pada sisa tanaman dan masuk fase saprogenesis, yang dapat menjadi sumber inokulum untuk menimbulkan penyakit pada tanaman lain. Penyebaran propagul dapat terjadi melalui angin, air tanah, serta tanah terinfeksi dan terbawa oleh alat pertanian dan manusia (Doolite et al., 1961 dalam Winarni, 2004).

Menurut Alexopoulos et al. (1996), pengkelasan Fusarium oxysporum sebagai berikut.

Kingdom : Mycetae

Divisi : Amastigomycota

Sub divisi : Deuteromycotina

Kelas khusus : Deuteromycetes

Ordo khusus : Moniliales

Famili khusus : Tuberculariaceae

Genus khusus : Fusarium

Spesies : Fusarium oxysporum Schlecht. f.sp. zingiberi Trujillo

Jamur Fusarium oxysporum menghasilkan 3 spora tak-kawin, yaitu mikrokonidium, makrokonidium, dan klamidospora. Konidiofor jarang bercabang, tidak membentuk rantai, tanpa sekat, elips-silindris, lurus-lonjong, pendek, dan sederhana, fialid lateral, dan berukuran (5-12) x (2,3-3,5) µm (Domsch et al., 1993). Mikrokonidium mempunyai satu atau dua sel, terdapat jumlah banyak, dan sering dihasilkan pada semua kondisi. Jenis spora ini banyak dijumpai di dalam jaringan tanaman terinfeksi. Sementara itu, makrokonidium mempunyai tiga sampai lima sel dan berbentuk lengkung. Jenis spora ini umumnya banyak dijumpai di permuakaan tanaman yang mati karena infeksi jamur ini (Agrios, 2005). Menurut Domsch et al., (1993), makrokonidium berbentuk gelendong, lonjong, ujung tajam, mempunyai 3-5 sekat, dan ukuran [(20-27) – (46-60) x (3,5-4,5 (5)] µm.

Klamidospora berbentuk bulat, berdinding tebal, dihasilkan di bagian ujung maupun di tengah miselium yang tua atau pada makrokonidium, dengan diameter 5-15 µm (Domsch et al., 1993). Menurut Sastrahidayat (1990), klamidospora dihasilkan apabila keadaan lingkungan tidak sesuai bagi patogen dan berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup patogen.

1. Gejala penyakit

Menurut Semangun (1989), penyakit busuk akar rimpang terdapat umum di setiap pertanaman jahe di Indonesia. Di negara lain penyakit ini pun tersebar luas juga, antara lain telah dilaporkan dari Thailand, Australia, India, dan Jepang.

Lebih lanjut dikatakan, gejala yang nampak biasanya daun bagian bawah menguning, menjadi layu, pucuk tanaman mengering, dan tanaman mati. Proses kematian berlangsung selama beberapa bulan, berbeda dengan pada penyakit layu bakteri yang berlangsung lebih cepat. Pada tingkat yang awal, jika batang palsu atau akar rimpang dipotong, kadang-kadang tampak bahwa berkas pembuluh berwarna coklat. Akar rimpang yang sakit keriput dan berwarna agak kehitaman, jika dipotong tidak mengeluarkan lendir. Bagian dalam akar rimpang berwarna agak gelap karena membusuk dan akhirnya batang palsu rebah (Semangun, 1989).

Jamur Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi tersebar luas di semua daerah produksi jahe di Jawa Tengah dengan gejala yang nampak pada rimpang yang berubah morfologinya, menjadi keriput, berwarna keputihan, dan kering. Menurut Pancasiwi (2004), jahe gajah merupakan varietas jahe yang paling rentan dengan masa inkubasi 51,0 hsi.

Santoso (1994) menjelaskan bahwa penyakit busuk rimpang jahe menunjukkan adanya perubahan warna pada daun di bagian bawah, dari hijau tua menjadi kuning dan berangsur-angsur menjadi layu. Pada serangan berat, rimpang menjadi busuk dan batang semu keriput. Pada jaringan pembuluh terlihat garis coklat yang mengakibatkan translokasi hara dan air di dalam jaringan tanaman terhambat. Proses kematian tanaman berlangsung selama beberapa bulan. Apabila tanaman dicabut, rimpang yang sakit tidak segar, kering, dan berwarna kehitaman. Apabila rimpang dibelah di bagian berwarna agak gelap dan membusuk.

Lebih lanjut Rukmana (2000) dan Soesanto et al., (2002) menerangkan bahwa penyakit layu Fusarium berbeda dengan penyakit layu bakteri. Penyakit layu bakteri disebabkan Ralstonia solanacearum mengakibatkan terjadinya pembusukan rimpang jahe, sehingga menjadi lunak, berwarna coklat tua, kebasahan, dan menimbulkan bau busuk. Alexopoulos et al., (1996) menyatakan, miselium menginvasi jaringan pembuluh, menghambat jaringan silem, menghalangi translokasi air, serta menghasilkan toksin yang menyebabkan layu dengan memengaruhi kelenturan selaput sel dan merusak metabolisme sel.

1. Daur penyakit layu Fusarium

Daur penyakit busuk akar rimpang yaitu dapat bertahan lama di dalam tanah, khususnya apabila sebelumnya lahan ditanami dengan tanaman yang rentan. Selain terinfeksi oleh jamur yang berada dalam tanah, tanaman dapat juga menjadi sakit karena jamur yang terbawa oleh bibit yang diambil dari tanaman sakit. Penyakit dibantu oleh tanah yang kelembapannya tinggi sebagai akibat drainase yang kurang baik (Semangun, 1989).

Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi merupakan jamur yang mampu bertahan lama dalam tanah sebagai klamidospora, yang terdapat banyak dalam akar sakit. Jamur mengadakan infeksi melalui akar. Adanya luka pada akar akan meningkatkan infeksi. Setelah masuk ke dalam akar, jamur berkembang sepanjang akar menuju ke batang dan di sini jamur berkembang secara meluas dalam jaringan pembuluh sebelum masuk ke dalam batang palsu. Pada tingkat infeksi lanjut, miselium dapat meluas dari jaringan pembuluh ke parenkim. Jamur membentuk banyak spora dalam jaringan tanaman (Semangun, 2000).

Salah satu penyakit penting jahe adalah penyakit layu atau penyakit busuk kering rimpang yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Terjadinya kelayuan akibat Fusarium oxysporum terdapat beberapa teori, yaitu teori penyumbatan, toksin, dan enzim. Teori penyumbatan menyatakan, miselium jamur pada pembuluh silem tumbuh terus, berkembangbiak dan membentuk mikrokonidium. Mikrokonidium dapat terbawa oleh aliran zat cair ke atas atau berhenti dan berkecambah membentuk miselium baru. Akibatnya, terjadi penyumbatan pada pembuluh silem oleh miselium dan gum, serta terjadinya pengerutan pada sel pembuluh. Aliran zat cair menjadi tersumbat, sehingga tanaman tampak kekurangan air serta layu (Walker, 1957).

Teori enzim, patogen menghasilkan enzim pektolisis, pektin-metil-esterase (PME), dan depolimerase (DP). Enzim memecah pektin dalam dinding sel pembuluh kayu yang juga masuk dalam dinding parenkim silem. Fragmen asam pektat masuk ke dalam pembuluh kayu dan membentuk massa koloid yang dapat menghambat pembuluh. Warna coklat pada berkas pembuluh disebabkan fenol yang terlepas dan masuk ke dalam pembuluh serta mengalami pemolimeran menjadi melamin yang berwarna coklat oleh system fenol oksidase tanaman. Bahan tadi diserap oleh pembuluh kayu yang berlignin, sehingga menyebabkan warna coklat (Semangun, 2000).

Teori toksin menyatakan bahwa toksin yang dihasilkan oleh Fusarium oxysporum, adalah asam fusarat, dehidrofusarat, dan likomarasmin (Sastrahidayat, 1990). Burgess et al. (2001) menambahkan bahwa Fusarium oxysporum menghasilkan enniatins, asam fusarat, moniliformin, nafthazarrins, dan sambutoksin, tetapi tidak menghasilkan fusarins, fusarokhromanon, serta fusaproliferin, dan yang paling penting adalah mikotoksin, fumonisins, trokhothesen, dan zearalenon. Sastrahidayat (1990) menyatakan, toksin tersebut akan mengubah kelenturan selaput plasma tanaman, sehingga tanaman yang terinfeksi lebih cepat kehilangan air daripada tanaman sehat.

Soesanto (2006) menyatakan bahwa jamur Fusarium dapat bertahan agak lama dalam tanah khususnya sebelum tanah ditanami dengan tanaman rentan. Di Indonesia, kerugian yang disebabkan oleh jamur Fusarium sangat banyak dan beragam, bahkan dapat menyebabkan berubahnya pola atau sistem pertanian. Penanganan masalah penyakit layu jahe telah dilakukan mulai dari penggunaan pestisida yang tidak ramah lingkungan sampai dengan ekspansi lahan, yaitu menanam jahe ke lahan yang belum terinfestasi dan meninggalkan lahan terinfestasi (Purnomo, 1997; 2006).

1. Faktor yang memengaruhi penyakit

Menurut Sastrahidayat (1990), Fusarium oxysporum sangat sesuai pada tanah dengan kisaran pH 4,5-6,0; tumbuh baik pada biakan murni dengan kisaran pH 3,6-8,4; sedangkan untuk pensporaan, pH optimum sekitar 5,0. Pensporaan yang terjadi pada tanah dengan pH di bawah 7,0 adalah 5-20 kali lebih besar dibandingkan dengan tanah yang mempunyai pH di atas 7. Pada pH di bawah 7, pensporaan terjadi secara melimpah pada semua jenis tanah, tetapi tidak akan terjadi pada pH di bawah 3,6 atau di atas 8,8. Suhu optimum untuk pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum adalah 200C dan 300C, maksimum pada 370C atau di bawahnya, minimum sekitar 50C, sedangkan optimum untuk pensporaan adalah 20-250C (Domsch et al., 1993).

1. Forma spesialis

Fusarium oxysporum mampu menyebabkan penyakit pada tanaman budidaya. Serangan jamur tesebut dapat menyebabkan tanaman layu dan mati pada lebih dari 100 spesies tanaman. Keragaman tersebut menunjukkan keheterogenan forma spesialis jamur yang terdapat di alam. Hal ini, menurut Edel et al. (1996 dalam Soesanto, 2002) disebabkan oleh keragaman rantai rDNA jamur yang menyeluruh dan mengandung unsur genetika jamur. Keragaman genetika jamur akan mengakibatkan keragaman kenampakan atau tampilan jamur, khususnya di medium yang sama. Keragaman dalam rDNA jamur ini telah banyak dikaji untuk membedakan taksonomi jamur yang berbeda.

Lebih lanjut ditambahkan Agrios (2005), hal tersebut disebabkan oleh gen kevirulenan patogen yang khusus untuk satu atau beberapa jenis tumbuhan inang yang berkerabat. Gen yang menjadikan tumbuhan inang rentan terhadap patogen tertentu terdapat hanya pada inang atau mungkin juga pada beberapa tumbuhan inang yang berkerabat. Kekhususan gen untuk kevirulenan dan kekhususan gen untuk kerentanan dapat menerangkan mengapa suatu patogen yang virulen terhadap satu inang tidak virulen terhadap inang lain. Burgess et al. (2001) menambahkan, sifat morfologi dan urutan DNA yang dianalisis menandai adanya hubungan genetika antara masing-masing Fusarium. Selain itu, kekhususan gen juga menentukan kemampuan daya hidup dari suatu mikroba patogen yang berpengaruh terhadap kevirulenan yang dimiliki. Daya hidup berarti lamanya suatu organisme atau mikroba dapat disimpan dan masih mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang yang tinggi (Tim Penyusun Kamus PS, 1997).

Cook et al. (1981) dan Agrios (2005) menyatakan bahwa seluruh populasi jamur patogen di dunia mempunyai ciri morfologi tertentu yang seagam dan membentuk spesies patogen. Akan tetapi, beberapa individu dari spesies tersebut hanya menyerang tanaman inang tertentu. Individu tersebut membentuk kelompok yang dinamakan “Formae specialis”. Misal Fusarium oxysporum f.sp. zingiberi hanya menyerang tanaman jahe dan sama sekali tidak berpengaruh terhadap tanaman lainnya seperti tanaman apel, tomat, maupun tanaman yang masih satu kerabat. Dikatakan lebih lanjut bahwa setiap forma spesialis menyerang beberapa varietas tumbuhan inang tertentu tidak menyerang beberapa varietas lainnya masing-masing kelompok individu ini dinamakan dengan ras.

penyakit penting tanaman singkong


1. 1. Penyakit Hawar Bakteri

Hawar bakteri pada singkong di jawa sudah diketahui sejak lama. Sebenarnya tahun 1974 rupanya penyakit Bogor. Pada tahun 1974 ternyata penyakit menimbulkan banyak kerusakan pada tanaman singkong di kebun percobaan yang terdapat di Lampung. Sampai saat ini data yang pasti mengenai besarnya kerugian belum tersedia, meskipun pernah dilaporkan adanya kerugian besar karena penyakit ini di Lampung pada tahun 1980.
gambar 1 gejala hawar bakteri

Hawar bakteri merupakan penyakit yang terpenting pada tanaman singkong di banyak negara. Penyakit ini umum terdapat di negara-negara penanam singkong di Asia, Afrika, dan Amerika latin. Besarnya kerugian tergantung dari keadaan setempat, termaksuk tingkat ketahanan tanaman. Pada tanaman yang rentan, jika keadaan membantu penyakit, kerugian dapat mencapai 90 -100%. Namun di indonesia sendiri penyakit tersebut belum banyak diteliti. Penyakit ini banyak di teliti oleh Afrika, dan Amerika Latin.

Gejala pada daun terdapat bercak kebasah-basahan, bentuknya tidak teratur , bersudut-sudut (angular), dikelilingi oleh daerah hijau tua. Gejala meluas dengan cepat dan warna bercak menjadi coklat muda, mengeriput, dan menyebabkan daun layu. Seterunya seluruh daun layu dan rontok. Bakteri menyebar dari suatu tempat ke tempat lain terutama karena terbawa dalam stek yang terinfeksi. Dengan stek ini bakteri terbawa dari musim ke musim. Bakteri ini dapat terbawa oleh tanah dengan penggarapan tanah, diperkirakan infeksi lewat tanah kurang memegang peran. Selain itu alat-alat pertanian yang terkontaminasi dapat menyebarkan bakteri, misalnya pisau yang digunakan untuk memotong stek. Selain itu bakteri terpencar oleh percikan air hujan, terutama dari getah yang keluar dari batang dan daun sakit. Manusia, hewan terbak, dan serangga dapat menularkan bakteri. Agar bakteri dapat mengadakan infeksi diperlukan udara dengan kelembaban jenuh selama 12 jam. Pada musim hujan jumlah bercak pada daun sangat meningkat.

Jenis-jenis ubi kayu mempunyai tingkat ketahan yang berbeda terhadap hawar bakteri. Ketahanan ini disebabkan oleh karena ada 3 kemungkinan : bakteri terhambat penetrasinya, bakteri tidak dapat meluas secara sistemik dan tanaman bereaksi terhadap bakteri dengan cara hipersensitif.

Di afrika penyebab penyakit lebih banyak terdapat di tanah berpasir yang miskin unsur hara. Pemupukan NPK yang optimum dapat mengurangi beratnya penyakit. Di Indonesia terbukti banwa pemupukan NPK dan bahan organik meningkatkan ketahan tumbuhan.

Penyakit dibantu oleh curah hujan , karena curah hujan akan meningkatkan kelembaban dan membantu pemencaran bakteri. Intensitas penyakit tertinggi pada akhir musim hujan, menjelang musim kemarau. Suhu optimum untuk perkembangan penyakit adalah sekitar 300 C.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hawar bakteri ialah penanaman jenis tahan, pemakaian stek yang diambil dari tanaman yang benar – benar sehat, melaksanakan pergiliran tanaman, pemangkasan bagian tanaman di atas tanah dapat mengurangi pemecaran penyakit, khususnya pada tanaman yang mempunyai ketahanan tinggi atau sedang, dan pertahan belum terinfeksi berat. Kemudian cara yang berikutnya ialah membuat bibit sehat dengan mengakarkan ujung-ujung batang. Ujung-ujung batang akan tetap dari bakteri meskipun tanamannya terinfeksi berat.

1. 2. Penyakit layu bakteri

Batang ubi kayu (singkong) yang sakit layu dapat diisolasi bakteri peseudomonas solanacearum. Ubi kayu (singkong) yang terkena sakit lendir atau sakit layu ini disebabkan oleh bakteri. Berebeda dengan hawar bakteri yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada penyakit layu ini daun – daun layu bersama-sama dan untuk sementara tetap melekat pada batang.
gambar 2 gejala layu bakteri

Nishiyama et al. (1980) meneliti penyakit pada ubi kayu di Indonesia. Di laporkan bahwa gejala penyakit layu bakteri pada ubi kayu dapat dibedakan menjadi 3 tipe : tanaman layu, daun gugur dan mati ujung. Biasanya kedua gejala yangn pertama disertai dengan perubahan warna pada bagian-bagian di bawah tanah, sedangkan hal ini tidak terjadi pada tipe ke tiga. Isolasi dari tanaman sakit dengan gajala – gejala yang berbeda tipenya menghasilkan 2 kuloni yang jelas berbeda putih cair dan putih berlendir.

Seterusnya diketahui bahwa koloni yang putih cair adalah koloni Pseudomonas solanacearum, diisolasi dari tanaman dengan gejala layu dan gugur daun. sedangkan koloni yang berwarna putih berlendir adalah koloni Xantomonas campestris pv. manihotis. Penyebab hawar ubi kayu, di isolasi dari tanaman yang bergejala mati ujung.

Pseudomonas solanacearum merupakan salah satu patogen terpenting dari golongan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit layu bakteri yang tersebar secara luas pada daerah tropik dan subtropik serta daerah-daerah bersuhu panas di dunia.

Usaha pengendalian P. solanacearum dengan menggunakan varietas tahan dan antibiotika (bakterisida) ternyata membawa masalah baru dengan munculnya ras-ras baru patogen yang lebih virulen, sehingga perlu dicari suatu pengendalian lain yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu agens antagonis yang mempunyai potensi besar dalam pengendalian penyakit layu bakteri adalah Pseudomonas kelompok flurescens yang mampu mengkolonisasi daerah perakaran dan menghasilkan senyawa-senyawa siderofor yang berperan dalam pertumbuhan tanaman dan pengendalian hayati.

Untuk dapat menyediakan paket teknologi yang berwawasan lingkungan dalam rangka pelaksanaan program pengendalian hama dan penyakit terpadu yang mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan, maka penelitian terhadap antagonis P. flurescens perlu dilakukan terutama dalam aspek keragaman molekuler, aspek biologi dan aspek ekologinya. Penelitian ini lebih difokuskan pada pengaruh aspek abiotik dan lingkungan terhadap P. fluroscens terutama pH, suhu, dan radiasi sinar matahari terhadap kebugaran agens antagonis yang ditunjukkan oleh perkembangan agen antagonis tersebut sehingga diketahui sifat-sifat unggul dimana daya antagonistik tinggi dan daya adaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan juga tinggi.

Isolasi Pseudomonas kelompok fluorescens dan uji kemampuan antagomis terhadap Pseudomonas solanacearum. Kandidat bakteri antagonis dipilih berdasarkan kriteria standar Pseudemonas flurescens yaitu koloni yang muncul paling awal dan fluorensi yang terlihat jelas. Bakteri Pf hasil isolasi kemudian diuji daya antagonismenya terhadap P. solanacearum dan dilihat persentase daya penghambatannya dengan menggunakan rumus Fokkema (1993) yang domodifikasi. Rata-rata persentase antagonis menunjukkan bahwa isolat bakteri Pf asal Sukamantri memiliki daya penghambatan terhadap P. solanacearum paling tinggi (94.24%) sedangkan isolat Pf asal Maribaya menunjukkan persentase penghambatan terhadap P. solanacearum paling rendah (24.02%). Deteksi senyawa antibiosis dilakukan dengan menggunakan fitrat dari suspensu Pseoudomonas kelompok fluorescens dan suspensi P. solanacearum yang dibiakan dalam media yang sama. Proses antagonisme terlihat dengan terjadinya penghambatan pertumbuhan P. solanacearum dalam media. Deteksi senyawa antibiosis terhadap delapan belas isolat bakteri Pf menunjukkan bahwa mekanisme antagonisme seluruh isolat bakteri terhadap P. solanacearum adalah dengan senyawa antiiosis. Derajat kemasaman (pH) untuk perlakuan diperoleh dari larutan HCI untuk asam dan NaOH untuk keadaan basa. Tingkat pH yang diuji adalah 5, 6, 7, 8, dan 9. Parameter yang diamati sebagai respon dari perlakuan adalah doubling time dan populasi maksimum bakteri Pf. Hasil pengujian menunjukkan pada pH 6 dan pH7 terjadi tingkat populasi maksimum dan doubling time terendah. Koloni bakteri yang telah disuspensikan dengan buffer fosfat dalam erlemeyer diinkubasikan dalam water bath dengan suhu perlakuan 23, 25, 27, 30, 33, dan 36 C. Parameter yang diamati adalah doubling time dan populasi maksimum. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pertumbuhan optimum sebagian besar bakteri pada suhu 25 C. Populasi maksimum tertinggi dan doubling time tercepat terdapat pada isolat bakteri Pf G1-21 pada suhu 25 C. Keragaman molekuler diantara isolat Pseudomonas kelompok fluorescens telah ditunjukkan melalui RAPD menggunakan primer 1 dan 5. Berdasarkan pola RAPD terdapat tiga kelompok isolat yang menunjukkan perbedaan strain, yaitu kelompok 1 (Pf GI-21, Pf GI-26, Pf Gi-44, Pf GI-50, Pf GI-51 dan Pf GI-17) yang mempunyai 6 fragmen DNA, kelompok 2 (Pf GI-31 dan Pf GI-37) membentuk 4 fragmen DNA dan kelompok 3 (Pf GI-11) mempunyai 5 fragmen DNA.

Berdasarkan pengujian lapang menurut Nakagawa (1978) kultivar kuning paling rentan terhadap layu bakteri, diikuti dengan SPP Pandesi dan Genjah. Galur dan klon terbukti tahan (tahum, ketan merah, SPP, singkong putih, W 528, ketan putih, genjah hitam, baserat no 802 dan no 547)

1. 3. Bercak Coklat

gambar 3 gejala bercak coklat

Untuk pertama kalinya penyakit beercak coklat pada ubi kayu ditemukan oleh Zimmermann di Jawa pada tahun 1902. Penyakit ini tersebar di seluruh Indonesia. Ternyata bahwa penyakit tersebut terdapat disemua daerah penanaman ubi kayu di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Penyakit ini merupakan penyakit daun yang paling penting pada tanaman ini.

Gejala yang timbul ialah bercak tampak jelas pada kesua sisi daun. pada sisi atas bercak tampak coklat merata dengan tepi gelap yang jelas. Pada sisi bawah daun tepi bercak kurang jelas dan di tengah bercak coklat terdapat warna keabu-abuan karena adanya konidiofor dan konidium jamur. Bercak berbentuk bulat dengan garis tengah 3 – 12 mm. Jika berkembang bentuk bercak dapat kurang teratur dan agak bersudut – sudut karena dibatasi oleh tepi daun atau tulang – tulang daun. Jika penyakit berkembang dengan terus menerus daun yang sakit menguning dan mengering dan dapat gugur. Pada cuaca hujan dan panas jenis rentan dapat menjadi gundul .

Penyebab penyakit bercak coklat ialah cercosporidium henningsii. Hifa cendawan ini berkembang dalam ruang sela-sela sel, membentuk stroma dengan garis tengah 20 – 45µm. Stroma membentuk konidiofor dalam berkas – berkas yang rapat. Konidiofor coklat kehijauan pucat, warna dan lebar merata, tidak bercabang, dengan 0 – 2 bengkokan, bulat pada ujungnya dan mempunyai bekas spora yang kecil atau sedang. Konidium dibentuk pada kedua sisi daun pada ujung konidiofor, berbentuk tabung, lurus atau agak bengkok, kedua ujungnya membulat tumpul, pangkalnya berbentuk tumpul. Cendawan membentuk peritesium hitam, bergaris tengah 100µm, kadang – kadang tampak tersebar pada bercak di permukaan atas daun. Askus seperti gada memanjang, berisi 8 spora.

Daur penyakit pada tanaman ini berasal dari angin atau hujan yang membawa spora dari bercak tua dan daun tua yang sudah rontok ke permukaan daun sehat. Jika udara cukup lembab, konidium berkecambah, membentuk pembuluh kecambah. Penetrasi terjadi melalui mulut kulit dan jamur meluas dalam jaringan lewat ruang sela-sela sel. Dalam cuaca panas dan lembab memerlukan waktu 12 jam. Selama musim kemarau cendawan mempertahankan diri pada bercak-bercak tua.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit sangat bergantung pada ketahan ubi kayu yang memiliki ketahan berbeda pada bercak coklat. Pada umumnya daun tua lebih rentan daripada daun muda yang lebih tinggi letaknya. Tetapi pada jenis yang rentan, tangkai daun, bahkan buah yang muda sering terdapat serangan yang berat. Penyakit ini sangat dibantu oleh curah hujan dan suhu yang tinggi

Pengendalian dari penyakit ini ialah dengan menanam jenis yang tahan, menanam tidak terlalu rapat untuk mengurangi kelembaban pertanaman, pengendalian dapat dilakuakan dengan penyemprotan fungisida tembaga. Tetapi biaya pengendalian ini mungkin tidak tearturup oleh kenaikan biaya produksi yang di peroleh.

1. 4. Bercak Daun Baur

Bercak daun baur berasal dari daerah Brazilia, Colombia dan Amerika Selatan. bercak daun baur ini belum menyebar secara meluas di indonesia, tetapi hanya terdapat di Malang.
gambar 4 gejala bercak daun baur

Adapun gejala bercak daun baur pada ubi kayu adalah: bercak daun besar, berwarna coklat, tanpa batas yang jelas. Tiap bercak meliputi seperlima dari luas helaian daun atau lebih. Permukaan atas bercak berwarna coklat merata, tetapi dipermukaan bawah pusat bercak yang berwarna coklat terdapat keabu-abuan, disebabkan adanya konidiofor dan konidium dari Cercospora viscosae.

Cendawan ini tidak membentuk stroma, tetapi membentuk spora secara merata. Konidiofor coklat kemerahan. Membentuk berkas yang mirip koremium dan konidiumnya seperti gada terbalik silindris. Konidiumnya dipencarkan oleh angin dan serangga, meskipun angin memegang peranan yang lebih besar dalam pemencarannya. Cendawan mengadakan penetrasi langsung dengan menembus permukaan lateral sel-sel epidermal, atau melalui mulut kulit. Infeksi dapat melalui dua sisi daun, tetapi yang paling banyak melalui epidermis atas ( Kranz et al.1997).

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit bercak daun baur adalah curah hujan, suhu dan kelembapan. Penyakit timbul pada musim hujan, tetapi gejalanya akan timbul pada musim panas. Suhu dan kelembapan yang rendah akan membuat penyebaran penyakit akan semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Ketahanan terhadap bercak daun mempunyai kolerasi dengan tebalnya jaringan palisade dan ukuran mulut kulit daun. Penyakit ini juga timbul akibat kekurangan magnesium. Pada umumnya penakit ini tidak menimbulkan kerugian, hanya terdapat pada daun tua, meskipun kadang-kadang dapat menyebabkan daun gugur.

Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan penanaman varietas tahan (seperti varietas Malang 2), pergiliran tanaman, pemakaian stek sehat (dilakukan strilisasi stek supaya bebas dari patogen), memotong bagian daun yang terserang, dan memekai Fungisida (penyemprotan Perenox 5% 2 minggu sekali).

1. 5. Bercak Daun Phyllosticta

Penyakit ini sudah dikenal di Malaysia, Filipina, India, Afrika, Amerika Selatan DAN indonesia. Di indonesia penyakit ini berada di Malang yang menyerang tunas dan menyebabkan mati ujung.

Gejala yang ditimbul kan oleh cendawan ini berupa bercak besar pada daun, berwarna coklat, biasanya dengan tepi yang kurang jelas. Bercak umumnya terdapat pada ujung daun, tepi helaian daun, sepanjang tulang tengah daun dan tulanfg daun yang besar. Permukaan atas bercak mula-mula terdiri dari cincin-cincin sepusat yang terbentuk oleh pikndium berwarna coklat. Bercak yang tua tidak mempunyai cincin, karena piknidium yang masak tercuci oleh air hujan. Jika udara sangat lembab bercak dapat tertutp oleh hifa coklat kelabu. Pada permukaan bawah daun , tulang-tulang daun yang kcil sekitar bercak menjadi rusak dan membentuk garis-garis hitam yang memancar bercak. Bercak – bercak berkembang menjadi hawar daun, akhirnya seluruh daun dan tangkai menjadi coklat tua, layu dan rontok. Pada infeksi yang berat , cendawan menyerang tunas yang masih muda dan menyebabkan mati ujung. Batang yang sakit berwarna coklat dan tertutup oleh piknidium.

Cendawan ini banyak membentuk piknidium yang berwarna coklat tua, bulat dan membentuk kumpulan kecil pada daun atau batang. Piknidium dengan garis tengah 100-170 µm, ostiol berukuran 15-20 µm, dindingnya terdiri dari sel-sel bersegi banyak. Konidiofor pendek, hialin, membentuk suatu konidium kecil dan bersel satu.

Pemencaran penyakit ini melalui percikan air hujan, angin dan alat pertanian. Beratnya penyakit berkolerasi dengan keadaan lingkungan yang mempengaruhi perkecambahan spora. Spora berkecambah paling baik pada suhu 20-25 ˚C. bercak daun Phyllosticta banyak terdapat di tempat-tempat yang tinggi, atau dataran rendah selama musim hujan.

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan pergiliran tanaman (mengganti dengan tanaman tebu), menanam varietas tahan, pemakaian stek yang sehat, memotong bagian tanaman yang sakit, dan memakai fugisida pada tanaman yang telah terinfeksi berat.

gambar 5 cendawan phyllosticta spp.

Permasalah pada ubi kayu (singkong) yang terjadi di lapang

Tanaman ubi kayu (singkong) ini banyak terserang oleh hama, penyakit dan gula. Hama yang menyerang dan cara pengendaliannya ialah Uret (Xylenthropus)
Ciri: berada dalam akar dari tanaman. Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak. Pengendalian: membersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.

Kemudian Tungau merah (Tetranychus bimaculatus) Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut. Gejala: daun akan menjadi kering. Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

Penyakit yang menyerang ialah Bercak daun bakteri. Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG . Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati. Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun.

Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith) Ciri: hidup di daun, akar dan batang. Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

Bercak daun coklat (Cercospora heningsii). Penyebab: cendawan yang hidup di dalam daun. Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati. Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.

Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica) Penyebab: cendawan yang hidup pada daun. Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda. Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .

Selain hama dan penyakit permasalahan berikutnya adalah gulma. Sistem penyiangan/pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman. Khusus gulma dari golongan teki (Cyperus sp.) dapat di berantas dengan cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati. Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan (Cynodon dactilon), rumput pahit (Paspalum distichum), dan rumput sunduk gangsir (digitaria ciliaris). Pembasmian gulma dari golongan rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

Selain keluhan dari hama, penyakit dan gulma petani juga mengeluhkan harga jual singkong yang sangat rendah. Harga singkong semakin anjlok, dalam kondisi normal harga mencapai RP 400 per kg, mengalami penurunan menjadi Rp 250 kg. Kondisi seperti ini menjadi keluhan para petani singkong karena harga singkong semakin hari semakin bertambah turun. Keluhan kali ini disampaikan Rozali warga bedeng satu, kelurahan Kotabumi Udik, Kabupaten Lampung Utara. Menurutnya, penyebab anjloknya harga singkong adanya isu krisis global, ditambah lagi, akan ditutupnya pabrik tapioka, Teguh Wibawa Bhakti Persada (TWBP), yang berada di desa kali cinta, Kecamatan Kotabumi Utara, Lampung Utara (Lampura) beberapa waktu lalu. Rozali menjelaskan, harga singkong mula-mula tinggi hanya bertahan sekitar 7 bulan lalu, karena tergiur harga yang cukup tinggi, ia ikut-ikutan untuk menanam singkong seluas 4.5 Ha. Sebelum ditanam singkong ia membuka perkebunan lada, lalu, dirubah menjadi lahan untuk ditanami singkong, “Harga singkong semakin menurun berakibat dirinya terancam mengalami kerugian. Saya tidak menyangka harga singkong turun seperti ini,’’ keluhnya. Selanjutnya, terang Zali, harga singkong mengalami penurunan karena terjadi krisis global, yang berakibat harga-harga khususnya sebilan bahan pokok (sembako) melambung tinggi sedangkan harga barang pertanian menurun di pasaran, akibatnya para petani mengalami kerugian yang cukup drastis.

 

padi dan konswekuensinya


Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar.

Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah jagung dan gandum. Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk dunia.

Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Pertelaan
o 1.1 Ciri-ciri umum
o 1.2 Penyebaran dan adaptasi
o 1.3 Reproduksi
* 2 Genetika, dan perbaikan varietas
* 3 Keanekaragaman
o 3.1 Keanekaragaman genetik
o 3.2 Keanekaragaman budidaya
+ 3.2.1 Padi gogo
+ 3.2.2 Padi rawa
o 3.3 Keanekaragaman tipe beras/nasi
+ 3.3.1 Padi pera
+ 3.3.2 Ketan
+ 3.3.3 Padi wangi
* 4 Aspek budidaya
o 4.1 Hama dan penyakit
* 5 Pengolahan gabah menjadi nasi
* 6 Produksi padi dan perdagangan dunia
* 7 Aspek budaya dan bahasa
* 8 Lihat pula
* 9 Referensi
* 10 Pranala luar

[sunting] Pertelaan
[sunting] Ciri-ciri umum
Padi tengah diambil dari persemaian untuk ditanam di sawah.

Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae).

Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang.
[sunting] Penyebaran dan adaptasi

Asal-usul padi budidaya diperkirakan berasal dari daerah lembah Sungai Gangga dan Sungai Brahmaputra dan dari lembah Sungai Yangtse. Di Afrika, padi Oryza glaberrima ditanam di daerah Afrika barat tropika.

Padi pada saat ini tersebar luas di seluruh dunia dan tumbuh di hampir semua bagian dunia yang memiliki cukup air dan suhu udara cukup hangat. Padi menyukai tanah yang lembab dan becek. Sejumlah ahli menduga, padi merupakan hasil evolusi dari tanaman moyang yang hidup di rawa. Pendapat ini berdasar pada adanya tipe padi yang hidup di rawa-rawa (dapat ditemukan di sejumlah tempat di Pulau Kalimantan), kebutuhan padi yang tinggi akan air pada sebagian tahap kehidupannya, dan adanya pembuluh khusus di bagian akar padi yang berfungsi mengalirkan udara (oksigen) ke bagian akar.
[sunting] Reproduksi

Setiap bunga padi memiliki enam kepala sari (anther) dan kepala putik (stigma) bercabang dua berbentuk sikat botol. Kedua organ seksual ini umumnya siap reproduksi dalam waktu yang bersamaan. Kepala sari kadang-kadang keluar dari palea dan lemma jika telah masak.

Dari segi reproduksi, padi merupakan tanaman berpenyerbukan sendiri, karena 95% atau lebih serbuk sari membuahi sel telur tanaman yang sama.

Setelah pembuahan terjadi, zigot dan inti polar yang telah dibuahi segera membelah diri. Zigot berkembang membentuk embrio dan inti polar menjadi endospermia. Pada akhir perkembangan, sebagian besar bulir padi mengadung pati di bagian endospermia. Bagi tanaman muda, pati berfungsi sebagai cadangan makanan. Bagi manusia, pati dimanfaatkan sebagai sumber gizi.
[sunting] Genetika, dan perbaikan varietas

Satu set genom padi terdiri dari 12 kromosom. Karena padi adalah tanaman diploid, maka setiap sel padi memiliki 12 pasang kromosom (kecuali sel seksual).

Padi merupakan organisme model dalam kajian genetika tumbuhan karena dua alasan: kepentingannya bagi umat manusia dan ukuran kromosom yang relatif kecil, yaitu 1.6~2.3 × 108 pasangan basa (base pairs, bp) (Sumber: situs Gramene.org). Sebagai tanaman model, genom padi telah disekuensing, seperti juga genom manusia. Hasil sekuensing genom padi dapat dilihat di situs NCBI.

Pemuliaan padi telah berlangsung sejak manusia membudidayakan padi. Dari hasil tindakan ini orang mengenal berbagai macam ras lokal padi, seperti rajalele dari Klaten atau cianjur pandanwangi dari Cianjur. Orang juga berhasil mengembangkan padi lahan kering (padi gogo) yang tidak memerlukan penggenangan atau padi rawa, yang mampu beradaptasi terhadap kedalaman air rawa yang berubah-ubah. Di negara lain dikembangkan pula berbagai tipe padi (lihat bagian Keanekaragaman padi).

Namun demikian, pemuliaan padi secara sistematis baru dilakukan sejak didirikannya IRRI di Filipina. Sejak saat itu, berbagai macam tipe padi dengan kualitas berbeda-beda berhasil dikembangkan secara terencana untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.

Pada tahun 1960-an pemuliaan padi diarahkan sepenuhnya pada peningkatan hasil. Hasilnya adalah padi ‘IR5′ dan ‘IR8′ (di Indonesia diadaptasi menjadi ‘PB5′ dan ‘PB8′). Walaupun hasilnya tinggi tetapi banyak petani menolak karena rasanya tidak enak (pera). Selain itu, terjadi wabah hama wereng coklat pada tahun 1970-an. Puluhan ribu persilangan kemudian dilanjutkan untuk menghasilkan kultivar dengan potensi hasil tinggi dan tahan terhadap berbagai hama dan penyakit padi. Pada tahun 1984 Indonesia pernah meraih penghargaan dari PBB (FAO) karena berhasil meningkatkan produksi padi hingga dalam waktu 20 tahun dapat berubah dari pengimpor padi terbesar dunia menjadi negara swasembada beras. Prestasi ini, sayangnya, tidak dapat dilanjutkan. Saat ini Indonesia kembali menjadi pengimpor padi terbesar di dunia.

Hadirnya bioteknologi dan rekayasa genetika pada tahun 1980-an memungkinkan perbaikan kualitas nasi. Sejumlah tim peneliti di Swiss mengembangkan padi transgenik yang mampu memproduksi toksin bagi hama pemakan bulir padi dengan harapan menurunkan penggunaan pestisida. IRRI, bekerja sama dengan beberapa lembaga lain, merakit “padi emas” (golden rice) yang dapat menghasilkan pro-vitamin A pada berasnya, yang diarahkan bagi pengentasan defisiensi vitamin A di berbagai negara berkembang. Suatu tim peneliti dari Jepang juga mengembangkan padi yang menghasilkan toksin bagi bakteri kolera[1]. Diharapkan beras yang dihasilkan padi ini dapat menjadi alternatif imunisasi kolera, terutama di negara-negara berkembang.

Sejak penghujung abad ke-20 dikembangkan padi hibrida, yang memiliki potensi hasil lebih tinggi. Karena biaya pembuatannya tinggi, kultivar jenis ini dijual dengan harga lebih mahal daripada kultivar padi yang dirakit dengan metode lain.

Selain perbaikan potensi hasil, sasaran pemuliaan padi mencakup pula tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tekanan (stres) abiotik (seperti kekeringan, salinitas, dan tanah masam). Pemuliaan yang diarahkan pada peningkatan kualitas nasi juga dilakukan, misalnya dengan perakitan kultivar mengandung karoten (provitamin A).
[sunting] Keanekaragaman
[sunting] Keanekaragaman genetik

Hingga sekarang ada dua spesies padi yang dibudidayakan manusia secara massal: Oryza sativa yang berasal dari Asia dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat.

Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, lemmanya memiliki “ekor” atau “bulu” (Ing. awn), bijinya cenderung membulat, dan nasinya lengket. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, lemmanya tidak ber-”bulu” atau hanya pendek saja, dan bulir cenderung oval sampai lonjong. Walaupun kedua anggota subspesies ini dapat saling membuahi, persentase keberhasilannya tidak tinggi. Contoh terkenal dari hasil persilangan ini adalah kultivar ‘IR8′, yang merupakan hasil seleksi dari persilangan japonica (kultivar ‘Deegeowoogen’ dari Formosa) dengan indica (kultivar ‘Peta’ dari Indonesia). Selain kedua varietas ini, dikenal varietas minor javanica yang memiliki sifat antara dari kedua tipe utama di atas. Varietas javanica hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Kajian dengan bantuan teknik biologi molekular sekarang menunjukkan bahwa selain dua subspesies O. sativa yang utama, indica dan japonica, terdapat pula subspesies minor tetapi bersifat adaptif tempatan, seperti aus (padi gogo dari Bangladesh), royada (padi pasang-surut/rawa dari Bangladesh), ashina (padi pasang-surut dari India), dan aromatic (padi wangi dari Asia Selatan dan Iran, termasuk padi basmati yang terkenal). Pengelompokan ini dilakukan menggunakan penanda RFLP dibantu dengan isozim.[2] Kajian menggunakan penanda genetik SSR terhadap genom inti sel dan dua lokus pada genom kloroplas menunjukkan bahwa pembedaan indica dan japonica adalah mantap, tetapi japonica ternyata terbagi menjadi tiga kelompok khas: temperate japonica (“japonica daerah sejuk” dari Cina, Korea, dan Jepang), tropical japonica (“japonica daerah tropika” dari Nusantara), dan aromatic. Subspesies aus merupakan kelompok yang terpisah.[3]

Berdasarkan bukti-bukti evolusi molekular diperkirakan kelompok besar indica dan japonica terpisah sejak ~440.000 tahun yang lalu dari suatu populasi spesies moyang O. rufipogon.[3] Domestikasi padi terjadi di titik tempat yang berbeda terhadap dua kelompok yang sudah terpisah ini. Berdasarkan bukti arkeologi padi mulai dibudidayakan (didomestikasi) 10.000 hingga 5.000 tahun sebelum masehi.[4]
[sunting] Keanekaragaman budidaya
[sunting] Padi gogo

Di beberapa daerah tadah hujan orang mengembangkan padi gogo, suatu tipe padi lahan kering yang relatif toleran tanpa penggenangan seperti di sawah. Di Lombok dikembangkan sistem padi gogo rancah, yang memberikan penggenangan dalam selang waktu tertentu sehingga hasil padi meningkat.
[sunting] Padi rawa

Padi rawa atau padi pasang surut tumbuh liar atau dibudidayakan di daerah rawa-rawa. Selain di Kalimantan, padi tipe ini ditemukan di lembah Sungai Gangga. Padi rawa mampu membentuk batang yang panjang sehingga dapat mengikuti perubahan kedalaman air yang ekstrem musiman.
[sunting] Keanekaragaman tipe beras/nasi
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Beras
[sunting] Padi pera

Padi pera adalah padi dengan kadar amilosa pada pati lebih dari 20% pada berasnya. Butiran nasinya jika ditanak tidak saling melekat. Lawan dari padi pera adalah padi pulen. Sebagian besar orang Indonesia menyukai nasi jenis ini dan berbagai jenis beras yang dijual di pasar Indonesia tergolong padi pulen. Penggolongan ini terutama dilihat dari konsistensi nasinya.
[sunting] Ketan

Ketan (sticky rice), baik yang putih maupun merah/hitam, sudah dikenal sejak dulu. Padi ketan memiliki kadar amilosa di bawah 1% pada pati berasnya. Patinya didominasi oleh amilopektin, sehingga jika ditanak sangat lekat.
[sunting] Padi wangi

Padi wangi atau harum (aromatic rice) dikembangkan orang di beberapa tempat di Asia, yang terkenal adalah ras ‘Cianjur Pandanwangi’ (sekarang telah menjadi kultivar unggul) dan ‘rajalele’. Kedua kultivar ini adalah varietas javanica yang berumur panjang.

Di luar negeri orang mengenal padi biji panjang (long grain), padi biji pendek (short grain), risotto, padi susu umumnya menggunakan metode silsilah. Salah satu tahap terpenting dalam pemuliaan padi adalah dirilisnya kultivar ‘IR5′ dan ‘IR8′, yang merupakan padi pertama yang berumur pendek namun berpotensi hasil tinggi. Ini adalah awal revolusi hijau dalam budidaya padi. Berbagai kultivar padi berikutnya umumnya memiliki ‘darah’ kedua kultivar perintis tadi.
[sunting] Aspek budidaya
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bercocok tanam padi

Teknik budidaya padi telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Sejumlah sistem budidaya diterapkan untuk padi.

* Budidaya padi sawah (Ing. paddy atau paddy field), diduga dimulai dari daerah lembah Sungai Yangtse di Tiongkok.
* Budidaya padi lahan kering, dikenal manusia lebih dahulu daripada budidaya padi sawah.
* Budidaya padi lahan rawa, dilakukan di beberapa tempat di Pulau Kalimantan.
* Budidaya gogo rancah atau disingkat gora, yang merupakan modifikasi dari budidaya lahan kering. Sistem ini sukses diterapkan di Pulau Lombok, yang hanya memiliki musim hujan singkat.

Setiap sistem budidaya memerlukan kultivar yang adaptif untuk masing-masing sistem. Kelompok kultivar padi yang cocok untuk lahan kering dikenal dengan nama padi gogo.

Secara ringkas, bercocok tanam padi mencakup persemaian, pemindahan atau penanaman, pemeliharaan (termasuk pengairan, penyiangan, perlindungan tanaman, serta pemupukan), dan panen. Aspek lain yang penting namun bukan termasuk dalam rangkaian bercocok tanam padi adalah pemilihan kultivar, pemrosesan biji dan penyimpanan biji.
[sunting] Hama dan penyakit

Hama-hama penting

* Penggerek batang padi putih (“sundep”, Scirpophaga innotata)
* Penggerek batang padi kuning (S. incertulas)
* Wereng batang punggung putih (Sogatella furcifera)
* Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
* Wereng hijau (Nephotettix impicticeps)
* Lembing hijau (Nezara viridula)
* Walang sangit (Leptocorisa oratorius)
* Ganjur (Pachydiplosis oryzae)
* Lalat bibit (Arterigona exigua)
* Ulat tentara/Ulat grayak (Spodoptera litura dan S. exigua)
* Tikus sawah (Rattus argentiventer)

Penyakit-penyakit penting

* blas (Pyricularia oryzae, P. grisea)
* hawar daun bakteri (“kresek”, Xanthomonas oryzae pv. oryzae)

[sunting] Pengolahan gabah menjadi nasi

Setelah padi dipanen, bulir padi atau gabah dipisahkan dari jerami padi. Pemisahan dilakukan dengan memukulkan seikat padi sehingga gabah terlepas atau dengan bantuan mesin pemisah gabah.

Gabah yang terlepas lalu dikumpulkan dan dijemur. Pada zaman dulu, gabah tidak dipisahkan lebih dulu dari jerami, dan dijemur bersama dengan merangnya. Penjemuran biasanya memakan waktu tiga sampai tujuh hari, tergantung kecerahan penyinaran matahari. Penggunaan mesin pengering jarang dilakukan. Istilah “Gabah Kering Giling” (GKG) mengacu pada gabah yang telah dikeringkan dan siap untuk digiling. (Lihat pranala luar). Gabah merupakan bentuk penjualan produk padi untuk keperluan ekspor atau perdagangan partai besar.

Gabah yang telah kering disimpan atau langsung ditumbuk/digiling, sehingga beras terpisah dari sekam (kulit gabah). Beras merupakan bentuk olahan yang dijual pada tingkat konsumen. Hasil sampingan yang diperoleh dari pemisahan ini adalah:

* sekam (atau merang), yang dapat digunakan sebagai bahan bakar
* bekatul, yakni serbuk kulit ari beras; digunakan sebagai bahan makanan ternak, dan
* dedak, campuran bekatul kasar dengan serpihan sekam yang kecil-kecil; untuk makanan ternak.

Beras dapat dikukus atau ditim agar menjadi nasi yang siap dimakan. Beras atau ketan yang ditim dengan air berlebih akan menjadi bubur. Pengukusan beras dapat juga dilakukan dengan pembungkus, misalnya dengan anyaman daun kelapa muda menjadi ketupat, dengan daun pisang menjadi lontong, atau dengan bumbung bambu yang disebut lemang (biasanya dengan santan). Beras juga dapat diolah menjadi minuman penyegar (beras kencur) atau obat balur untuk mengurangi rasa pegal (param).
[sunting] Produksi padi dan perdagangan dunia

Bagian ini memerlukan aktualisasi

Negara produsen padi terkemuka adalah Republik Rakyat Cina (31% dari total produksi dunia), India (20%), dan Indonesia (9%). Namun hanya sebagian kecil produksi padi dunia yang diperdagangkan antar negara (hanya 5%-6% dari total produksi dunia). Thailand merupakan pengekspor padi utama (26% dari total padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Vietnam (15%) dan Amerika Serikat (11%). Indonesia merupakan pengimpor padi terbesar dunia (14% dari padi yang diperdagangkan di dunia) diikuti Bangladesh (4%), dan Brazil (3%).Produksi padi Indonesia pada 2006 adalah 54 juta ton , kemudian tahun 2007 adalah 57 juta ton (angka ramalan III), meleset dari target semula yang 60 juta ton akibat terjadinya kekeringan yang disebabkan gejala ENSO.
Produsen padi terbesar — 2005
(juta metrik ton)
Flag of the People’s Republic of China.svg Republik Rakyat Cina 185
Flag of India.svg India 129
Flag of Indonesia.svg Indonesia 54
Flag of Bangladesh.svg Bangladesh 40
Flag of Vietnam.svg Vietnam 36
Flag of Thailand.svg Thailand 27
Flag of Myanmar.svg Myanmar 25
Flag of Pakistan.svg Pakistan 18
Flag of the Philippines.svg Filipina 15
Flag of Brazil.svg Brasil 13
Flag of Japan.svg Jepang 11
Total Dunia 700
Sumber:
Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)[1]
[sunting] Aspek budaya dan bahasa

Padi merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Asia Tenggara dan Asia Timur. Masyarakat setempat mengenal filosofi ilmu padi. Sejumlah peribahasa juga melibatkan padi, misalnya

* Padi ditanam tumbuh lalang
* Padi masak, jagung mengupih
* Bagai ayam mati di lumbung padi

[sunting] Lihat pula

* Gabah
* Beras
* Nasi
* Bercocok tanam padi

[sunting] Referensi

1. ^ Focus 25, 2007
2. ^ Glaszmann, J.C. 1987. Isozymes and classification of asian rice varieties. Theor. Appl. Genet. 74:21—30.
3. ^ a b Garris, A.J., Tai, T.H., Coburn J., Kresovich S., McCouch S. (2004). “Genetic structure and diversity in Oryza sativa L.”. Genetics 169: 1631-1638. DOI:10.1534/genetics.104.035642 Diakses pada 16 Agustus 2010.
4. ^ Zohary D., Hopf, M. 2000. Domestication of plants in the old world. Oxford University Press, Oxford.

smaak proof pada padi,,,,,


I. PENDAHULUAN

1.1. Karakteristik Padi

Padi merupakan tanaman pangan berupa rumput berumpun. Tanaman pertanian kuno berasal dari dua benua yaitu Asia dan Afrika Barat tropis dan subtropis. Bukti sejarah memperlihatkan bahwa penanaman padi di Zhejiang (Cina) sudah dimulai pada 3.000 tahun SM. Fosil butir padi dan gabah ditemukan di Hastinapur UttarPradesh India sekitar 100-800 SM. Selain Cina dan India, beberapa wilayah asal padi adalah, Bangladesh Utara, Burma, Thailand, Laos, Vietnam

Klasifikasi botani tanaman padi adalah sebagai berikut:

Regnum : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monotyledonae

Keluarga : Gramineae (Poaceae)

Genus : Oryza

Spesies : Oryza spp.

Terdapat 25 spesies Oryza, yang dikenal adalah O. sativa dengan dua subspecies yaitu Indica (padi bulu) yang ditanam di Indonesia dan Sinica (padi cere). Padi dibedakan dalam dua tipe yaitu padi kering (gogo) yang ditanam di dataran tinggi dan padi sawah di dataran rendah yang memerlukan penggenangan

Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi budidaya padi yang mempunyai peranan penting, karena mudah disebar luaskan, relatif murah, dan ramah lingkungan. Beberapa percobaan menunjukkan bahwa hasil varietas unggul padi di lahan pasang surut sulfat masam bervariasi antara 3,0-5,1 t/ha.

Penggunaan teknologi padi hibrida F1 yang memanfaatkan fenomena gejala heterosis, merupakan salah satu upaya yang prospektif untuk memperbaiki genetik tanaman dalam upaya peningkatan potensi hasil. Keragaan tanaman F1 tergantung pada tetua yang akan memberikan hibrida heterotik. Keragaman genetik yang ditentukan oleh asal geografis merupakan satu di antara beberapa metode untuk pendugaan heterosis.

Pusat penanaman padi di Indonesia adalah Pulau Jawa (Karawang, Cianjur), Bali, Madura, Sulawesi, dan akhir-akhir ini Kalimantan. Pada tahun 1992 luas panen padi mencapai 10.869.000 ha dengan rata-rata hasil 4,35 ton/ha/tahun. Produksi padi nasional adalah 47.293.000 ton. Pada tahun itu hampir 22,5 % produksi padi nasional dipasok dari Jawa Barat. Dengan adanya krisis ekonomi, sentra padi Jawa Barat seperti arawang dan Cianjur mengalami penurunan produksi yang berarti.

1.2. Syarat Tumbuh

1.2.1.Iklim

a) Tumbuh di daerah tropis/subtropis pada 45 derajat LU sampai 45 derajat LS dengan cuaca panas dan kelembaban tinggi dengan musim hujan 4 bulan.

b) Rata-rata curah hujan yang baik adalah 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun. Padi dapat ditanam di musim kemarau atau hujan. Pada musim kemarau produksi meningkat asalkan air irigasi selalu tersedia. Di musim hujan, walaupun air melimpah prduksi dapat menurun karena penyerbukan kurang intensif.

c) Di dataran rendah padi memerlukan ketinggian 0-650 m dpl dengan temperature 22-27 derajat C sedangkan di dataran tinggi 650-1.500 m dpl dengan temperature 19-23 derajat C. d) Tanaman padi memerlukan penyinaram matahari penuh tanpa naungan.

e) Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan tetapi jika terlalu kencang akan merobohkan tanaman.

1.2.2. Media Tanam

a) Padi gogo

1. Padi gogo harus ditanam di lahan yang berhumus, struktur remah dan cukup mengandung air dan udara.

2. Memerlukan ketebalan tanah 25 cm, tanah yang cocok bervariasi mulai dari yang berliat, berdebu halus, berlempung halus sampai tanah kasar dan air yang tersedia diperlukan cukup banyak. Sebaiknya tanah tidak berbatu, jika ada harus < 50%.

3. Keasaman tanah bervariasi dari 4,0 sampai 8,0.

b) Padi sawah

1. Padi sawah ditanam di tanah berlempung yang berat atau tanah yang memiliki lapisan keras 30 cm di bawah permukaan tanah.

2. Menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm.

3. Keasaman tanah antara pH 4,0-7,0. Pada padi sawah, penggenangan akan mengubah pH tanam menjadi netral (7,0). Pada prinsipnya tanah berkapur dengan pH 8,1-8,2 tidak merusak tanaman padi. Karena mengalami penggenangan, tanah sawah memiliki lapisan reduksi yang tidak mengandung oksigen dan pH tanah sawah biasanya mendekati netral. Untuk mendapatkan tanah sawah yang memenuhi syarat diperlukan pengolahan tanah yang khusus.

II. ISI

Penggilingan padi memiliki peran yang sangat penting dalam sistem agribisnis padi/perberasan di Indonesia. Peranan ini tercermin dari besarnya jumlah penggilingan padi dan sebarannya yang hampir merata di seluruh daerah sentra produksi padi di Indonesia. Penggilingan padi merupakan pusat pertemuan antara produksi, pasca panen, pengolahan dan pemasaran gabah/beras sehingga merupakan mata rantai penting dalam suplai beras nasional yang dituntut untuk dapat memberikan kontribusi dalam penyediaan beras, baik dari segi kuantitas maupun kualitas untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan data statistik (BPS) tahun 2000, jumlah penggilingan padi di Indonesia sebanyak 108.512 unit yang terdiri dari 5.133 unit penggilingan padi besar (PPB), 39.425 unit pengilingan padi kecil (PPK), 35.093 unit rice milling unit (RMU), 1.630 unit penggilingan padi engelberg, 14.153 unit mesin huller dan 13.178 unit mesin penyosoh beras. Jumlah ini sekaligus menggambarkan potensi usaha penggilingan padi yang cukup besar. Penggilingan padi yang ada tersebut, telah melayani puluhan juta ton produksi padi petani setiap tahunnya dari kurang lebih 11,5 juta hektar luas lahan padi sawah dan ladang.

Namun dilihat dari kenyataan di lapangan, ternyata masih banyak penggilingan padi yang bekerja di bawah kapasitas giling dengan kualitas dan rendemen berasnya yang masih rendah. Hal ini disebabkan karena usaha penggilingan padi yang ada selama ini tidak dilakukan dengan pendekatan sistem agribisnis yang terpadu, teknologi penggilingan padinya yang digunakan masih sederhana, konfigurasi mesinnya hanya terdiri dari husker dan polisher saja dan sudah berumur tua serta belum mempunyai jaringan pemasaran yang luas. Dan di lapangan masih banyak penggilingan padi kecil yang menggunakan sistim kerja ”one pass” atau satu kali proses penyosohan sehingga berdampak kurang baik terhadap kualitas dan rendemen beras yang

dihasilkan. Atas dasar hasil inventarisasi data yang telah dilakukan, diperkirakan paling tidak sebanyak 65 % penggilingan padi di Indonesia adalah penggilingan padi kecil (PPK) dan rice milling unit (RMU) yang masih menggunakan sistim kerja one pass. Akhir-akhir ini justru berkembang penggilingan padi ”mobile ” yang menggunakan sistim kerja one pass dan diperkirakan jumlahnya cukup banyak.

Berdasarkan keadaan tersebut di atas, maka perlu dilakukan revitalisasi penggilingan padi kecil (PPK) dan rice milling unit (RMU) di Indonesia untuk menekan tingkat susut hasil, meningkatkan rendemen, meningkatkan mutu/ kualitas, nilai tambah dan daya saing beras sehingga pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani/gapoktan dan penggilingan padi di perdesaan.

Menurut Soemardi dan Ridwan Thahir (1991), mutu giling beras merupakan faktor penting yang menentukan klasifikasi mutu beras. Mutu giling mencakup berbagai kriteria, yaitu rendemen beras giling, rendemen beras kepala, persentase beras pecah dan derajat sosoh beras. Mutu beras, rendemen, mutu gabah dan kehilangan bobot saling berkaitan selam proses pemberasan. Mutu beras ditentukan oleh mutu gabah sewaktu digiling, derajat sosoh dan kondisi penggilingan serta sifat varietas. Sedangkan mutu gabah kering giling ditentukan mutu gabah kering panen serta proses pengeringan dan penyimpanan. Rendemen dan mutu beras hasil giling akan rendah jika mutu gabah rendah.

Soemardi dan Ridwan Thahir (1991) mengemukakan bahwa, dalam proses penggilingan gabah, rendahnya rendemen dan tingginya kadar beras pecah masih menjadi masalah di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan karena kondisi mutu gabah yang kurang optimal. Mutu gabah saat digiling terutama ditentukan oleh kadar air gabah. Pada kadar air yang tinggi, gabah relatif lunak dan akan diperlukan energi yang lebih banyak untuk menghasilkan beras pecah kulit, serta tingginya beras patah saat penyosohan. Sebaliknya kadar air gabah yang terlalu rendah menyebabkan banyaknya gabah yang retak, sehingga meningkatkan jumlah beras patah saat penggilingan. Dengan demikian, tinggi rendahnya kadar air dalam gabah saat digiling akan mempengaruhi mutu beras yang dihasilkan. Selanjutnya mutu beras akan menentukan nilai jual kepada konsumen.

Sifat tekstur nasi dapat dilihat dari perbandingan antara kadar amilosa dan amilopektin (Somantri, 1983; Allidawati dan Bambang, 1989; Damardjati, 1995). Kadar amilosa ini sangat mempengaruhi tekstur nasi. Kadar amilosa lebih banyak menentukan sifat tekstur nasi daripada sifat-sifat fisik lainnya, seperti suhu gelatinasi dan gel konsistensi (Suwarno et al., 1982; Damardjati, 1995). Kadar amilosa dalam beras berkisar 1-37% (Somantri, 1983).

Berdasarkan kadar amilosa, beras diklasifikasikan men jadi ketan atau beras beramilosa sangat rendah ( 25%) (Allidawati dan Bambang, 1989). Beras yang berkadar amilosa rendah bila dimasak menghasilkan nasi yang lengket, mengkilap, tidak mengembang, dan tetap menggumpal setelah dingin. Beras yang berkadar amilosa tinggi bila dimasak nasinya tidak lengket, dapat mengembang, dan menjadi keras jika sudah dingin, sedangkan beras beramilosa sedang umumnya mempunyai tekstur nasi pulen (Suwarno et al., 1982; Damardjati, 1995).

III. KESIMPULAN

* Penanganan pada saat panen dengan tujuan untuk menekan kehilangan hasil dan meningkatkan kualitas hasil padi
* Kadar air gabah yang terlalu rendah menyebabkan banyaknya gabah yang retak, sehingga meningkatkan jumlah beras patah saat penggilingan.
* Penetapan kadar amilosa ini merupakan seleksi awal untuk memperkirakan rasa nasinya.
* Beras yang berkadar amilosa tinggi bila dimasak nasinya tidak lengket, dapat mengembang, dan menjadi keras jika sudah dingin, sedangkan beras beramilosa sedang umumnya mempunyai tekstur nasi pulen.

IV. DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Dinas Pertanian Propinsi Jawa Barat. 1982. Petunjuk Perlakuan Pasca Panen Tanaman Padi.

Griest, D.H. Rice. Longman. Singapore

Soemartono, 1985. Penelitian ketahanan terhadap kekeringan pada pemuliaan padi

lahan kering. Disertasi UGM. 208 p.

Soemardi. 1982. Produksi, Rendemen dan Mutu Gabah/Beras Hasil Panen Petani. Laporan Kemajuan Seri Teknologi Pasca Panen No. 15 (Padi). BPTP Bogor Sub BPTP Karawang.

Soemardi dan Ridwan Thahir. 1991. Penanganan Pascapanen Padi. Dalam Edi Soenardjo, Djoko S. Damardjati, dan Mahyuddin Syam (Ed.) Padi, Buku 3. Balitbang Pertanian, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.